Tri Susanti, Benalu Negara yang Tidak Layak Dipelihara

Tri Susanti dalam pembubaran Aksi Kamisan Surabaya pada Kamis, 27 September 2018 (Foto: Dok. Kamisan Surabaya)
Ruang Publik, marjinnews.com - Suatu sore pada Kamis, 27 September 2018, saya berjalan dengan tergesa-gesa menuju Taman Apsari di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya. Menenteng megaphone di lengan kiri, saya tidak peduli dengan tatapan penuh tanda tanya pengunjung Balai Pemuda. 

Pelajar yang sementara belajar menari sontak menghentikan gerakannya memperhatikan saya dengan tatapan kebingungan. Saya berlari lebih cepat, lalu menyeberang lewat fly over samping SMAN 6. Sebuah sekolah yang berada tepat di samping Gedung Negara, Grahadi.

Saya enggan menengok handphone. Kawan saya, Muhamad Yashifa seorang aktivis IMM yang sekarang lebih banyak aktif di organisasi Kader Hijau Muhamadyiah menelpon saya berkali-kali agar cepat bergegas. 

Faisal Anggara, kawan saya dari KontraS Surabaya juga meminta saya agar segera berangkat dari Margasiswa PMKRI Surabaya di Jalan Taman Simpang No. 4-8 Surabaya ke tempat kami akan melakukan Aksi Kamisan Suroboyo Wani yang sekarang sudah tidak aktif lagi.

Di sekitar Taman Apsari polisi banyak sekali. Saya tidak sedikit pun menaruh curiga. Kawan-kawan peserta Aksi Kamisan yang berjumlah sekitar 20-an orang sudah duduk menunggu sambil bercanda satu sama lain. 

Ada FMN, LBH Surabaya, SELAWASE, IMM, KontraS, PMKRI, IKMAPA dan beberapa aktivis kampus seluruh Surabaya yang respect dengan Aksi Kamisan tersebut. Di Aksi Kamisan, kami memang sudah sepakat bahwa dari mana pun kami berasal, organisasi apapun itu namanya, semuanya berkedudukan sama. Tidak ada atribut organisasi. 

Sesampainya di Taman Apsari, saya dilempari banyak pertanyaan. Sebagai koordinator aksi yang dipercayakan untuk bertanggung jawab sepenuhnya terkait aksi itu, saya jelas bingung dengan kehadiran sekelompok orang yang tidak kami kenal sama sekali. Seorang ibu yang membawa poster mengaku kepada saya bahwa di jam yang sama mereka akan menggelar aksi terkait adanya siswa di Surabaya yang mengalami diskriminasi dan mereka hendak memprotes itu.

Untuk menghindari crash, kami kemudian memutuskan menggeser sedikit waktu aksi yang sejatinya dimulai dari Pukul 16.00 - 17.00 WIB menjadi hanya memakai waktu sisa dari massa aksi lain yang sepertinya disengajakan membuat aksi sama persis pada jam kami melakukan aksi. Namun, setelah menunggu hampir satu jam mereka tidak kunjung melakukan aksi yang kemudian membuat saya terdorong untuk meminta izin agar melakukan aksi duluan selama 30 menit kepada aparat di sekitar lokasi. 

Belum sampai 15 menit, massa aksi yang lain tiba-tiba keluar dari berbagai penjuru di Taman Apsari sambil meneriaki kami sebagai antek PKI. Mereka semakin mendekat dan hampir tidak direspon sama sekali oleh aparat kepolisian. Saya malah ditarik Kapolsek Genteng pada waktu itu dan diancam akan dipenggal kepala saya kalau sampai aksi itu berujung ricuh. 

Melihat saya diintimidasi, Faisal lantas mencoba membangun komunikasi dengan mereka. Tidak didengar, semuanya memakai urat. Semakin menjadi-jadi mereka berteriak. Perwakilan LBH Surabaya bahkan diteriaki begal oleh oknum yang memakai seragam ormas itu.

Mereka mengancam mengerahkan Bonek melakukan pembubaran karena kami dituduh merusak kenyamanan Surabaya. Sewaktu kami melakukan konfirmasi kepada Andi Peci, sesepuh Bonek Surabaya beliau sama sekali tidak mengenal oknum yang mengancam kami dengan menjadikan Bonek sebagai alat untuk menekan massa Aksi Kamisan.

Faisal adu mulut dengan Tri Susanti. Ditunjuk-tunjuk mukanya. Dibarengi bentakan yang menunjukkan ciri utama kelompok reaksioner melakukan aksi pembubaran. Tidak pakai otak. Lebih banyak pakai otot sambil mata melotot. Mainnya keroyokan. Kalau sendirian, mentalnya macam ayam. Apalagi jika diajak berdiskusi sebagaimana layak demokrasi dipraktekkan.

Kami kemudian membubarkan diri. Tanpa evaluasi seperti biasa kami lakukan. Aparat meminta kami bubar dengan alasan keamanan. Tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa Aksi Kamisan berbenturan dengan aksi lainnya sore itu.

Sangat disayangkan memang. Beginilah isu umum yang menjadi bahan diskusi internal aktivis pergerakan di Surabaya hari ini. Sudah mulai tumbuh ketidakpercayaan terhadap aparat kepolisian dalam menjamin kebebasan berekspresi. Mereka tidak memahami itu.

Di sinilah untuk kesekian kalinya saya berhadapan muka dengan Tri Susanti. Perempuan dengan warna rambut putih yang juga perokok kelas berat. Sebelumnya di aksi tolak LGBT di tempat yang sama, dia juga ada. Pada waktu itu saya diajak kawan saya Bahrudin Mudhar untuk meliput aksi solidaritas FPI. 

Tidak diketahui persis apa peran Tri Susanti dalam aksi tersebut. Karena pada aksi 1 Desember 2018 di Monumen Kapal Selam terkait peringatan referendum Papua Merdeka, Tri Susanti memakai seragam organisasi lain bertuliskan FKPPI.

Sementara itu, sewaktu saya mencoba mencari informasi di laman facebook pribadinya Tri Susanti, dia memakai baju hitam bertuliskan #2019GantiPresiden. Dia juga menyebarkan poster bergambar bendera Tauhid dengan slogan Satu Dibakar, Sejuta Berkibar. 

Di foto lain, Tri Susanti juga mengupload foto dirinya menutup gambar Jokowi sambil tangannya membentuk angka dua, simbol yang mencirikan kampanye Prabowo pada Pilpres kali lalu.

Meski demikian, Tri Susanti memang tidak bisa serta merta dapat disimpulkan sebagai representasi dari organisasi yang melekat dalam dirinya. Butuh investigasi yang lebih dalam lagi untuk mengetahui keterlibatan Tri Susanti selama ini. Terutama pada peristiwa di Asrama Papua beberapa waktu lalu. 

Namun, bagi saya pribadi. Rekam jejak keterlibatan Tri Susanti yang sepertinya tampak menjadi pakar dan ahli dalam menggerakan massa aksi berbasis ormas harus dihentikan. Kalau dibiarkan, dia akan semakin liar dan berpotensi dimanfaatkan untuk merusak demokrasi dan kebebasan berpendapat di Kota Surabaya.

Lebih dari itu, keterlibatan Tri Susanti dalam aksi-aksi lainnya yang meresahkan selama ini tidak perlu dibuktikan. Sebab kasus keterlibatan dirinya sebagai korlap dan pembuat isu tidak benar soal bendera di asrama Papua telah memancing kerusuhan di hampir seluruh wilayah Papua dan berpotensi memecah belah NKRI yang sudah diperjuangkan mati-matian oleh para pahlawan kita.

Jika Tri Susanti tidak diproses secara hukum  dengan seadil-adilnya, maka negara berkontribusi besar dalam memelihara benalu yang merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Tri Susanti tidak layak dipelihara negara!

Oleh: Andi Andur
Eks Koordinator Aksi Kamisan Suroboyo Wani 2018 dan Aktivis PMKRI Cabang Surabaya 

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,7,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,9,Imlek,1,In-Depth,17,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,102,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1385,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,21,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Tri Susanti, Benalu Negara yang Tidak Layak Dipelihara
Tri Susanti, Benalu Negara yang Tidak Layak Dipelihara
https://1.bp.blogspot.com/-hFVqW2J7LA0/XV4XotEzjsI/AAAAAAAAC0I/xuhm1flmcOMNiSqd3S3KZzLBAfu0yekQACLcBGAs/s640/received_508577353223068.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-hFVqW2J7LA0/XV4XotEzjsI/AAAAAAAAC0I/xuhm1flmcOMNiSqd3S3KZzLBAfu0yekQACLcBGAs/s72-c/received_508577353223068.jpeg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2019/08/tri-susanti-benalu-negara-yang-tidak-tidak-layak-dipelihara.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2019/08/tri-susanti-benalu-negara-yang-tidak-tidak-layak-dipelihara.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy