Narasi People Power Amien Rais dan Dampaknya Terhadap Kamelus Deno
Cari Berita

Narasi People Power Amien Rais dan Dampaknya Terhadap Kamelus Deno

13 June 2019

Foto: Floresa.co
Editorial, marjinnews.com - Gaung konflik pasca Pilpres 17 April 2019 belum sepenuhnya hilang. Meski pasangan calon nomor urut 01 sudah dinyatakan menang dengan mengantongi 85.036.828 juta suara atau 55,41 persen suara sah atas Capres nomor urut 02 Prabowo-Sandi  yang mendapatkan 68.442.493 juta suara atau 44,59 persen dari total 153.479.321 suara sah berdasarkan hasil rekapitulasi suara nasional yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Senin (21/5) lalu, dampak jangka panjangnya masih bakal terasa terutama di daerah yang pada tahun 2020 nanti menjalankan hajat Pilkada.

Saya tidak akan membahas dampak konflik pasca Pilpres di daerah lain, tetapi hanya berfokus di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang beberapa daerahnya bakal menjalankan pesta demokrasi lima tahunan pada 2020 besok. Salah satu hal menarik dari Pilkada di NTT menurut pengamatan penulis nantinya adalah adanya gerakan politik yang berpotensi memanfaatkan konflik yang pecah pasca Pilpres untuk menjatuhkan lawan politik. Terutama di Kabupaten Manggarai.

Isu yang rentan dipakai
Pada Pilpres kali lalu, salah satu isu yang paling heboh di Indonesia merupakan isu people power yang digaungkan oleh politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais. Gerakan people power dari sudut pandang Amien itu berlaku dalam rangka menyikapi dugaan kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan massif dari kubu 01 untuk menjegal pasangan Prabowo-Sandi memenangkan Pilpres yang menurut data mereka sudah unggul 62% suara sah. 

Dampak dari seruan tersebut sangat luas dan boleh dibilang sangat berpengaruh terhadap peta politik nasional hingga saat ini. Meski pun gerakan people power pada akhirnya hilang tanpa jejak dan bahkan Amien Rais yang kelabakan mengubahnya menjadi gerakan kedaulatan rakyat, namun framing yang diciptakan dan kemudian dipercaya hingga hari ini oleh masyarakat yaitu: seruan people power merupakan tindakan makar, sebuah upaya pembangkangan terhadap negara dan menjadi biang dari upaya pemecahan NKRI. 

Meski beberapa tokoh di balik gerakan ini masih dalam proses pemeriksaan dan status hukumnya belum jelas diumumkan kepada publik, peristiwa 21-22 Mei yang telah menimbulkan banyak korban meninggal dan beberapa harus dirawat di Rumah Sakit semakin memperkuat dugaan bahwa gerakan people power yang disuarakan Amien seolah-olah biang kerok dari jatuhnya korban yang melakukan aksi demonstrasi di Bawaslu.

Kaitannya dengan Kamelus Deno
Berdasarkan hasil rekapitulasi Pilpres 2019 untuk NTT di Kantor KPU, Jakarta pada Rabu (14/5/2019) kali lalu pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin menang telak dari penantangnya pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasangan Jokowi-Ma'ruf meraih 2.368.982 suara atau 88,58%. Sedangkan Prabowo-Sandi meraih 305.587 suara atau 11,42%. 

Dengan data yang demikian, dapat disimpulkan bahwa mayoritas masyarakat NTT adalah pendukung Jokowi-Ma'ruf garis keras termasuk di Kabupaten Manggarai. Terlepas dari apa pun alasan mereka mendukung Jokowi, sangat jelas bahwa mereka akan dengan sangat tegas menolak narasi people power yang pernah dinarasikan Amien Rais, selaku Dewan Pembina Partai Amanat Nasional (PAN) yang berkoalisi mendukung Prabowo-Sandi pada Pilpres kali lalu.

Posisi Amien Rais yang cukup penting di PAN tentu sangatlah berat bagi Kamelus Deno yang terpilih sebagai Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Manggarai - Flores, NTT berdasarkan hasil Musyawarah Daerah (Musda) ke-4 yang digelar di Ruteng, Selasa 3 Mei 2016 lalu. 

Meski Wakil Ketua Umum PAN, Bara Hasibuan telah mengklarifikasi bahwa gagasan people power ala Amien Rais tidak akan diikuti oleh masyarakat, termasuk kader dan simpatisan PAN sendiri yang di dalamnya termasuk sosok Kamelus Deno, rasanya berat bagi dia untuk meyakinkan akar rumput bahwa PAN sebagai sebuah partai besar tidak pernah sedikit pun mendukung narasi people power yang digagas Amien Rais.

Apa yang harus dilakukan?
Dengan modal sosial, finansial besar dan pengalaman, naif rasanya jika orang seperti Kamelus Deno diragukan kapasitasnya sebagai politisi ulung yang sudah makan garam dalam hal-hal semacam ini. Namun, isu ini jangan sampai dianggap remeh. Beberapa kasus di Indonesia telah terbukti berhasil menumbangkan sebuah rezim atau kekuatan politik dengan modal besar seperti Kamelus Deno sekarang. 

Tantangan yang akan dihadapi Kamelus dalam mencegah hal ini terjadi adalah meyakinkan masyarakat akar rumput untuk percaya kepadanya. Harus diingat bahwa untuk mengembalikan rasa kepercayaan masyarakat yang sudah meyakini pilihannya dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra agar mencapai hasil maksimal. 

Sekarang semuanya tergantung Kamelus Deno. Keputusan ada di tangannya. Waktu sudah sangat mepet dan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya sebagai Bupati Manggarai dan juga sebagai petahana jika betul maju lagi pada Pilkada Manggarai tahun 2020 nanti. Bukan begitu?

Oleh: Andi Andur