Media dan Heroisme Berlebih Walikota Surabaya di Tengah Persoalan Pemukiman Kumuh

Foto: Dok. Pribadi
OPINI, marjinnews.com - Beberapa tahun belakangan ini kedudukan media massa semakin mendapat sorotan banyak pihak seiring dengan berkembangnya media sosial dalam proses penyebaran informasi kepada publik. Banyak pihak menilai bahwa sumber informasi media massa konvensional yang dipercaya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya mulai digeser oleh media alternatif seperti facebook, youtube, instagram, whatsapp dan sebagainya. 

Di Indonesia sendiri selama ini sudah mulai banyak orang berkampanye untuk kembali kepada media massa konvensional karena media sosial dinilai sering menjadi biang dari segala bias informasi yang berpotensi merusak kepentingan umum di ruang publik.

Hal ini sepertinya agak sedikit menuai banyak hambatan. Mengingat data media komunikasi dari Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IPK), Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun ini, jumlah media daring 2.011. Sementara itu, media konvensional, koran, dan majalah 567 penerbit, televisi 194 stasiun, dan radio 1.165 stasiun. 

Yang menarik, jumlah telepon seluler (ponsel) yang beredar 374 juta atau lebih besar (142%) daripada 262 juta penduduk Indonesia. Data pengguna internet 132,7 juta (51,3%), pengguna medsos yang aktif mencapai 106 juta atau 40%. Dalam pembentukan opini publik di Indonesia, angka 106 juta pengguna medsos itu pasti memiliki peran yang menentukan.

Menurut saya ini merupakan fenomena yang lumrah terjadi di tengah era digital seperti sekarang. Banyak pekerjaan rumah yang perlu kita bereskan bersama agar bias informasi itu tidak berdampak buruk terhadap negara dan terutama bagi masyarakat itu sendiri. 

Namun, hal yang menurut saya agak sedikit janggal dalam upaya kita meminimalisir dampak dari bias informasi di ruang publik kita hari ini adalah ajakan untuk melepas media sosial sebagai salah satu sumber  informasi dan mempercayakan sepenuhnya kebutuhan informasi kita kepada media massa konvensional atau media mainstream.

Saya pribadi tidak menuduh atau menjudge bahwa media massa konvensional tidak bakal mampu memenuhi kebutuhan akan informasi kita yang semakin meningkat. Namun, kritik yang hendak saya sampaikan adalah sikap media massa konvensional kita hari ini yang tampaknya agak mulai sedikit nakal dengan menyimpang dari apa yang seharusnya dia yakini dan dipegang teguh yaitu kebenaran universal.

Padahal jika kita memperhatikan isi Undang Undang (UU) Pers Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 5 menjelaskan tentang kewajiban pers untuk memenuhi hak masyarakat mengetahui, menegakkah nilai-nilai demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinnekaan. Pers juga dituntut mampu mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar, serta melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum.

Beberapa bagian dalam pasal tersebut saya yakini sudah dipenuhi oleh media massa konvensional, namun beberapa hal seperti melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum belum cukup memuaskan, terutama untuk konteks Kota Surabaya hari ini. 

Jika kita amati secara keseluruhan, pemberitaan media tentang pemerintah Kota Surabaya hampir tidak ditemukan cacat sema sekali. Semuanya berisi prestasi, prestasi dan prestasi. Wali Kota Surabaya beberapa waktu lalu bahkan menggelar konferensi pers memamerkan berbagai macam penghargaan terhadap Surabaya selama kepemimpinannya.

Media massa kita lagi-lagi menyambut dengan antusias tanpa sedikit pun membuat berita dari sudut pandang yang berbeda. Surabaya berprestasi, kita bangga karena itu merupakan hasil dan buah dari kerja sama pemerintah dan masyarakat penghuni kota tersbesar kedua setelah Jakarta selama beberapa tahun terakhir atau dengan kata lain tidak ada sosok yang layak menampilkan diri seolah-olah dialah lebih pantas menunjukkan sikap heroisme berlebih seperti framing pemberitaan media massa kita. 

Harus dipahami bahwa di balik beragam prestasi itu ada yang disembunyikan dari khalayak. Salah satunya adalah soal tata kelola pemukiman kumuh yang tidak terendus kemewahan lampu-lampu jalan di setiap sudut Kota Pahlawan ini.

Permasalahan tentang tata kelola pemukiman kumuh di Surabaya sebenarnya mudah ditelaah, tanpa diendus dia dapat ditemukan secara kasat mata di sepanjang jalan bahkan di pusat kota sekali pun. Hanya persoalannya lagi-lagi bagaimana media sepertinya enggan membuka mata terhadap hal-hal semacam ini. 

Mungkin berita tersebut tidak menarik atau mungkin juga tidak layak diberitakan karena dianggap mencederai kebablasan mereka sendiri yang sudah terlanjur memframing Kota Surabaya dan terutama Wali Kota-nya sarat prestasi. Sarat akan kemajuan-kemajuan yang rupanya menjadi mimpi buruk bagi para penghuni pemukiman kumuh dalam kota.

Persoalan pemukiman kumuh menurut penulis bisa diatasi dengan beberapa hal berikut: Pertama, Program Perbaikan Kampung, yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi kesehatan lingkungan dan sarana lingkungan yang ada. Kedua, program uji coba peremajaan lingkungan kumuh, yang dilakukan dengan membongkar lingkungan kumuh dan perumahan kumuh yang ada serta menggantinya dengan rumah susun yang memenuhi syarat.

Di beberapa kota besar di Indonesia warga kumuh kota kerap digusur, tanpa adanya solusi bagi mereka selanjutnya. Seharusnya, pemerintah bisa mengakomodasi hal ini dengan melakukan relokasi ke kawasan khusus. Dengan penyediaan lahan khusus tersebut, pemerintah bisa membangun suatu kawasan tempat tinggal terpadu berbentuk vertikal (rumah susun) yang ramah lingkungan untuk disewakan kepada mereka. 

Namun, pembangunan rumah susun tersebut juga harus dilengkapi sarana pendukung lainnya, seperti sekolah, tempat ibadah, dan pasar yang bisa diakses hanya dengan berjalan kaki, tanpa harus menggunakan kendaraan.

Pemerintah juga dapat menerapkan program rekayasa sosial, di mana tidak hanya menyediakan pembangunan secara fisik, tetapi juga penyediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, sehingga mereka dapat belajar survive. Perlu dukungan penciptaan pekerjaan yang bisa membantu mereka survive, misalnya dengan pemberdayaan lingkungan setempat yang membantu mereka untuk mendapatkan penghasilan, sehingga mereka memiliki uang untuk kebutuhan hidup.

Masyarakat harus ikut dilibatkan dalam mengatasi permukiman kumuh di kota Surabaya. Karena orang yang tinggal di kawasan kumuhlah yang tahu benar apa yang menjadi masalah, termasuk solusinya. Jika masyarakat dilibatkan, persoalan mengenai permukiman kumuh bisa segera diselesaikan. Melalui kontribusi masukan dari masyarakat maka akan diketahui secara persis instrumen dan kebijakan yang paling tepat dan dibutuhkan dalam mengatasi permukiman kumuh di kota tersebut.

Dalam mengatasi permukiman kumuh tetap harus ada intervensi dari negara, terutama untuk menilai program yang disampaikan masyarakat sudah sesuai sasaran atau harus ada perbaikan. Kerja sama Pemerintah dan Swara (KPS) dalam membenahi kawasan kumuh, terutama dalam hal penyediaan infrastruktur pendukung dibutuhkan.

Permukiman kumuh tidak dapat diatasi dengan pembangunan fisik semata tetapi yang lebih penting mengubah prilaku dan budaya dari masyarakat di kawasan kumuh. Jadi masyarakat juga harus menjaga lingkungannya agar tetap bersih, rapi, tertur dan indah. Sehingga akan tercipta lingkungan yang nyaman, tertip, dan asri.

Oleh karena itu, sebagai salah satu pilar demokrasi saya secara pribadi berharap agar media massa kembali menunjukkan identitasnya. Kembali kepada jalur yang menjadi wadah bagi kepentingan banyak orang. Bukan kepada para elite atau konglomerat tertentu untuk menunjang elektabiltas tokoh lantas menelanjangi nilai-nilai paling fundamental media itu sendiri. 

Jika hendak membuat Surabaya lebih baik, kita perlu terlebih dahulu berlaku jujur terhadap realita sosial masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Terutama soal tata kelola pemukiman kumuh yang masih kurang mendapat perhatian.

Oleh: Vinsensius Awey
Anggota DPRD Kota Surabaya Periode 2014-2019

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,6,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,In-Depth,15,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,102,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1377,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,15,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Media dan Heroisme Berlebih Walikota Surabaya di Tengah Persoalan Pemukiman Kumuh
Media dan Heroisme Berlebih Walikota Surabaya di Tengah Persoalan Pemukiman Kumuh
Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IPK), Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun ini, jumlah media daring 2.011. Sementara itu, media konvensional, koran, dan majalah 567 penerbit, televisi 194 stasiun, dan radio 1.165 stasiun.
https://1.bp.blogspot.com/-X6OEnWB1ZRI/XPtocJnT7yI/AAAAAAAACrc/oybaAES5lvcEQNV3kjyriO82Twfaho9ygCLcBGAs/s640/53853902_10214430795498659_233789479536558080_n.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-X6OEnWB1ZRI/XPtocJnT7yI/AAAAAAAACrc/oybaAES5lvcEQNV3kjyriO82Twfaho9ygCLcBGAs/s72-c/53853902_10214430795498659_233789479536558080_n.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2019/06/media-dan-heroisme-berlebih-walikota-surabaya-di-tengah-persoalan-pemukiman-kumuh.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2019/06/media-dan-heroisme-berlebih-walikota-surabaya-di-tengah-persoalan-pemukiman-kumuh.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy