$type=grid$count=4$tbg=rainbow$meta=0$snip=0$rm=0

Hujan Bulan Juni, Bukan Cerpen Sapardi

Gambar: Ilustrasi 
Cerpen, marjinnews.com - Laki-laki itu berjalan menjauh. Memunggungi perempuan berambut ikal, dengan dipenuhi sesak segala rasa dalam dadanya. Meninggalkan perbincangan penuh emosional, yang membawa pada apa yang mereka sepakati dahulu sejak perjumpaan tak sengaja itu menuju jurang yang tak mereka inginkan. 

Laki-laki itu berjalan menjauh. Namun, perlahan langkahnya melambat. Ingin rasanya ia berbaik arah, berlari sekuat tenaganya untuk memeluk perempuan yang ditinggalkannya yang sedari tadi masih terdiam membisu di tempat terakhir mereka berjumpa. Laki-laki itu hampir menghentikan langkahnya, namun beberapa hal yang berkecamuk membuatkan terus berjalan meski melambat.

*

“Kamu tahu apa yang paling kusukai dari kopi?” Tanya perempuan itu di suatu sore saat perjumpaan mereka pertama kali – meski pertemuan itu untuk kesekian kalinya mereka sudah menyepakati bahwa setiap perjumpaan di antara mereka akan selalu dianggap sebagai pertemuan pertama mereka-sambil mengaduk gelas kopi di atas meja.

'‘apa itu?"‘ jawab laki-laki itu sambil terus memperhatikan perempuan itu mengaduk kopi.

'‘Aku menyukai caramu menemukanku dengannya. Aku menyukai caranya menemukanmu untukku. Dan yang paling kusukai adalah aku akhirnya mencintaimu dengan mencintainya. Aku suka, aku akirnya jatuh dan cinta kepadamu." Katanya sambil tersenyum lalu menyuguhkan kopi kepada lelaki itu.

*
Argh… laki-laki itu mengingat kembali. Dan langkahnya semakin melambat.

*
Wanita itu meringis di tempatnya. Satu per satu kristal bening cair itu membasahi pipinya. Diambilnya tisu, lalu membasuh basah yang terus mengalir itu. Dia masih terdiam membisu, tak kuasa melihat laki-laki yang amat dikasihinya berjalan menjauh meninggalkannya. Kembali terngiang percakapan terakhir diantara dia dan laki-laki itu. Laki-laki yang hadir sebagai satu-satunya orang saat patah hatinya ditinggal kekasih terindah ayahnya. 

Laki-laki yang dengan sabar mendengar segala luapan isi hati tentang ketidakterimaannya terhadap cara semesta yang amat menyakitkan itu. Laki-laki yang menjadi sasaran pukulan atas amarah tak jelasnya. 

Laki-laki yang masih ada disampingnya saat ia ingin mengasingkan diri menemukan ketenangan di sebuah Gua Maria di belakang gereja paroki – gua yang selalu mereka datangi berdua untuk bermalam mingguan.

Isak tangisnya semakin menjadi. Tak kuasa ia menahan segala hal yan amat menyesakan itu. Semakin tak kuasa ia melihat laki-laki yang berjalan kian menjauh.

*
‘’Kehilangan tak pernah benar-benar menyisakan ketiadaan. Apalagi yang hilang karena sudah saatnya ia pulang. Ia tak hilang. Ia kembali. Kembali pada seharusnya ia.’ Kata laki-laki itu berusaha menenangkan perempuan yang kini rebah di bahunya. Mereka hanya berdua. Di tepi pantai, tempat yang sengaja didatangi agar supaya sedikit menghilangkan gundah di hati permpuan itu.

'‘Bagaimana mungkin harus secepat ini. bagaimana mungkin dia pergi tanpa mengabari. bagaimana aku? mama? adik-adikku?. aku masih belum mampu menjadi kakak yang baik bagi mereka. Aku belum siap untuk selalu terlihat kuat didepan mereka.’' Kata perempuan itu dengan nada sedikit emosi meski air mata tak berhenti mengalir.

‘'Aku ingat kamu pernah bilang. Tak ada yang kebetulan di dunia ini. semua hal yang terjadi sudah direncanakan semesta. Maka kita hanya perlu menikmatinya. Kamu ingat bukan? Pertemuan kitapun adalah sebuah kebetulan. Kebetulan di sebuah kedai kopi. Kamu datang menemani temanmu lalu melemparkan senyum ramahmu saat aku sedang asik meneguk kopi yang sudah ku pesan. Hingga pada akhirnya kita masih bersama sampai sekarang ini. kita sudah direncakan. Maka, begitupun yang terjadi sekarang. Kepergian abadi beliau adalah rencana Empunya-nya. Suatu saat akan kau rasakan kebaikan dibalik rencana ini.’'laki-laki itupun menanggapi dengan suara yang cukup tegas.

“Aku mencintainya. Aku merindukannya” sambung perempuan itu sambil menangis sejadi-jadinya meremas dengan erat tangan laki-laki itu,dan merebah di bahunya.

“Dan Tuhan amat sangat mencintainya. Dia lebih mencintainya.” Katanya sambil memeluk dengan erat perempuan yang terus menangis sedari tadi. Terasa di dadanya sakit yang teramat dalam dirasakan perempuan itu. 

Perempuan yang sebelumnnya selalu menunjukan senyum di tiap jumpa mereka. Perempuan yang mampu membawanya kedalam dunia-dunia imaji. Permainan kata. Puisi Karya rasa dalam kata lainnya. Perempuan yang hadir dengan lelucon garing namun mampu membuatnya tertawa. 

Namun perempuan itu kini tengah menitikkan air mata bagai banjir di depan matanya. Yang menyimpan perasaan sakit atas kehilangan seorang ayah. Permpuan yang amat disayanginya. Segala kesesakan pun dirasakan juga olehnya.

“I wanna be yours. Menjadi satu-satunya orang yang akan menyeka tiap basah air mata oleh luka. Yang akan menemanimu dengan tawa dan senyum. I want you. I love you.’' Katanya mengakiri perbincangan sore itu.  

Langit memerah. Angin pantai semakin dingin. Semua kata itu berujung senyum si perempuan itu. Laki-laki itu menyeka basah yang masih tersisa di pipi gadis itu. Lalu, beberapa kecupan senja mengahntar mereka untuk kembali. Kembali ke rumah. Namun bukan pada duka.

*
“Mama, aku tak mempunyai rasa sayang sedikitpun dengan dia. Om tolong bujuk mama.'’ perempuan itu meringis didepan mama dan om-nya di suatu sore sambil mereka menikmati kopi dan sepiring kue.

“Mencintai adalah sebuah proses yang panjang. Menyayangi adalah sebuah perjalanan. Maka mungkin sekarang belum punya rasa sayang, tapi tentang suatu saat nanti, siapa yang tahu rencana semesta," sambung Om-nya menjawab perempuan itu.

“Yah benar kata Om-mu, mungkin kamu belum menyukainya. Dia laki-laki yang baik, dewasa dan keluarga kita sudah saling mengenal baik," sambung mama membujuk.
Perempuan itu tak lagi berucap. 

Ia selalu tak mampu menyela ataupun membantah keinginan mamanya. Dia beranjak ke kamar. Meninggalkan mama dan om-nya yang terus melanjutkan perbincangan mereka tentang rencana pernikahannya. 

*
“Aku tak kuasa membantah. Aku tak mampu menolak keinginan mama. Jadi maafkan aku. Kita tak akan pernah menjadi kita. Aku hanya mimpi untuk apa yang kita inginkan. Aku minta maaf” kata perempuan itu menjelaskan segala resah yang ada didalam benaknya.

“Ayo sekarang kita temui mama kamu. Biar aku menceritakan tentang kita ke mamamu. Atau ak langsung melamarmu sekarang didepan mamamu." Kata laki-laki itu dengan penuh emosi.

“Andai semuanya semudah itu, aku pasti sudah melakukannya sejak dulu. Kita tidak direstui. Beberapa perbedaan tak dapat disatukan. Hidup bersama denganmu tak semudah aku meyeduh kopi dan kita menikmatinya berdua. Rasa cinta diantara 2 jiwa tak seharusnya melukai jiwa yang lain. Mencintaimu mungkin hanya bisa kulakukan denga melepasmu. Aku tak ingin melukaimu semakin lama.” Sambung perempuan itu dengan nada yang lumayan keras. 

Namun, matanya basah oleh air mata.
Laki-laki itu tertegun. Diam membisu mendengar kata-kata yang amat menyakitkan itu. Bagaimana mungkin perempuan dihadapannya ini mengatakan hal-hal diluar pikirannya. Kata-kata yang hadir seperti cemeti yang menghujam tubuhnya, meninggalkan ceceran darah yang tak hanya pada kulitnya, namun luka merah itu ada pada hati dan perasaannya. 

Perempuan dengan segala kata-kata romantisnya. Perempuan dengan puisi-puisi puitisnya. Namun,saat ini perempuan ini menamparnya dengan kata-kata yang menyayat hatinya. 

“Yah baiklah. Aku pergi. Terimakasih untuk semua rasa sakit ini. Aku pamit. Sekali lagi terimakasih.” Suara laki-laki itu memelan.
Lalu meninggalkan perempuan itu.

*
Hari di bulan juni. Hari itu langit memang dipeluk mendung. Awan-awan tebal hampir menghujam bumi. Begitupun pada  hati perempuan dan laki-laki itu. Langit hati keduanya mendung. 

Sapardi benar, ternyata hujan paling lebat ada di bulan Juni. 

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Tidak si perempuan, pun si laki-laki itu. Kembali dirahasiakannya deru rindu pada pilu kata pisah. 

Hujan bulan Juni, didekapnya dengan erat cerita keduanya menjadi kisah semesta paling pahit. Hujan bulan Juni, lebatnya kehilangan, pada bayang. Namun, entahlah pada segala kenang.

Oleh: Ayu Sidin 
Pengajar di SMAK St. Familia Lembor, Manggarai Barat 

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,3,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,646,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,51,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,102,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,350,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,345,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,560,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1365,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,50,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,235,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Hujan Bulan Juni, Bukan Cerpen Sapardi
Hujan Bulan Juni, Bukan Cerpen Sapardi
https://1.bp.blogspot.com/-kKaxyJhspdA/XQadb8Mg9VI/AAAAAAAACsg/-EBBijvEr9Adl0uMj74stgIcNs_cCutmgCLcBGAs/s640/HJN.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-kKaxyJhspdA/XQadb8Mg9VI/AAAAAAAACsg/-EBBijvEr9Adl0uMj74stgIcNs_cCutmgCLcBGAs/s72-c/HJN.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2019/06/hujan-bulan-juni-bukan-cerpen-sapardi.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2019/06/hujan-bulan-juni-bukan-cerpen-sapardi.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy