Tuan Pahlawan, dari Fiorola untuk Sang Martir yang Memberikan Diri Tanpa Pamrih
Cari Berita

Tuan Pahlawan, dari Fiorola untuk Sang Martir yang Memberikan Diri Tanpa Pamrih

17 May 2019

Fiorola bersama Romo Didik berpose di sekitar foto korban usai misa peringatan satu tahun bom Surabaya beberapa waktu lalu (Foto: Fiorola)
Surabaya, marjinnews.com - Peristiwa bom Surabaya baru saja genap satu tahun pada Senin, 13 Mei 2019 lalu. Duka dan luka akibat kejadian pilu tersebut masih membekas. Dia seperti luka lama yang kembali berdarah akibat terabaikan sebagai sebuah peristiwa dehumanisasi paling mengerikan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia di  samping peristiwa lain di masa lalu.

Beberapa komunitas kecil memang menjadikan momen 13 Mei itu sebagai sesuatu yang sangat berharga untuk dimaknai cukup mendalam terutama dalam menjalin tali persaudaraan antar sesama umat beragama yang belakangan ini semakin meruncing dan menimbulkan bibit-bibit perpecahan tumbuh subur dimana-mana.

Namun, tidak sedikit pula yang menganggap peristiwa kelam ini biasa saja atau dengan kata lain tidak terlalu seksi diperbincangkan dibanding isu pasca Pemilu serentak beberapa waktu lalu. Biasnya hampir tidak ada refleksi berarti terkait peristiwa ini. Semuanya hilang bak ditelan bumi. Kondisi tersebut ternyata mengundang perhatian dari kelompok musik Fiorola.

Dalam sebuah diskusi kecil dengan marjinnews.com pada Kamis (16/5/2019) malam adalah Luis Thomas Ire salah satu personil Fiorola menjelaskan bahwa peringatan satu tahun bom Surabaya merupakan sebuah momen dimana kita atau siapa saja yang menaruh empati terhadap peristiwa tersebut perlu untuk kembali merefleksikan situasi kita hari ini. Indonesia dengan segala keharmonisannya menurut dia sangat tidak layak menjadi objek perilaku oknum tak bertanggung jawab berlaku kanibal dengan meledakan diri dan membunuh banyak orang.

"Membunuh dalam ajaran agama apapun tidak pernah diizinkan. Satu tahun bom Surabaya sejatinya mampu mengajak kita semua untuk menelaah, apa sebenarnya yang terjadi di negara kita? Mengapa ada semakin banyak orang yang sepertinya tidak peduli dengan hal-hal semacam ini? Ini pekerjaan rumah kita bersama" terang Luis kepada marjinnews.com.

Fiorola memang salah satu group musik yang menaruh perhatian khusus terhadap peristiwa setahun lalu itu. Hal ini mereka tunjukkan dengan meluncurkan sebuah lagu berjudul Tuan Pahlawan yang secara khusus didedikasikan kepada sosok Aloysius Bayu Rendra Wardana, seorang yang telah merelakan dirinya menjadi martir kala menghadang pelaku pemboman di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya Utara pada Minggu (13/5/2018) pagi.

Luis Thomas Ire yang menjadi pencipta lagu tersebut menjelaskan bahwa Bayu merupakan sosok yang sukar digambarkan dengan kata-kata. Keberanian, kerendahan hati, dan sikap rela berkorbannya membuat dia menjadi sosok yang sangat pantas digelari pahlawan bersama Riyanto, Banser NU yang melakukan hal serupa beberapa tahun lalu pada malam Natal di Mojokerto, Jawa Timur.

"Tuan Pahlawan adalah judul yang dipilih karena ketidakmampuan kami menggambarkan betapa besar dan kuatnya cinta kasih seorang Bayu kepada orang lain. Dia benar-benar sosok yang luar biasa hebat. Dia representasi dari bagaimana kasih tanpa pamrih itu diteladani. Memberi diri untuk keselamatan orang lain hanya dilakukan oleh mereka yang kuat imannya dan melimpah berkat Tuhan atasnya" jelas pria yang lahir dan besar di Kota Pancasila, Ende tersebut.

Lagu ini diakui Luis sudah dipentaskan pertama kali satu minggu setelah peristiwa bom mengguncang Surabaya. Namun, pada waktu itu liriknya belum sempurna. Kelompok musik yang dibentuk sejak tahun 2016 tersebut kemudian mencari kesempatan untuk bisa menunjukkan rasa hormatnya kepada Bayu dan korban lainnya melalui lagu tersebut. Namun, proses rekaman yang cukup memakan waktu lama membuat mereka harus bersabar hingga kemudian membawakannya pada saat peringatan satu tahun bom Surabaya di Gereja SMTB beberapa waktu lalu.

"Kita semua berduka, itu jelas. Maka mendedikasikan diri untuk para korban bagi kami merupakan sebuah keharusan karena mereka adalah orang-orang tidak berdosa yang harus menanggung akibat dari kelaliman orang lain. Kami puas dan bersyukur karena berkat bantuan banyak pihak, Tuhan memberi kami kesempatan memberikan dan menunjukkan rasa hormat kami kepada keluarga korban dan kita semua yang sangat merasa kehilangan" ujarnya.

Luis mewakili ketiga temannya yang menyanyikan lagu tersebut Michael Thomas Ire, Alfrionet Reo dan Dafrosa Hadiah Palma pun berharap agar lagu mereka mampu memberi energi positif kepada siapa saja untuk bersama-sama menolak perilaku dehumanisme dalam bentuk apapun. Bagi mereka  peristiwa satu lalu di Surabaya harus menjadi yang terakhir di Indonesia dan juga di dunia.

"Kami yakin dan percaya sosok Bayu akan menjadi inspirasi bagi siapa saja di negeri ini. Dia menegaskan kepada kita semua bahwa peristiwa keji setahun lalu itu harus menjadi yang terakhir. Kita perlu kembali ke dalam diri kita masing-masing untuk bisa semakin mengeratkan tali persaudaraan kepada siapa saja. Sebab duka Surabaya adalah duka kita semua. Cukup sudah tangis dan air mata. Mari menjadi sebuah komunitas berbangsa dan bernegara yang harmonis dan Bhinneka Tunggal Ika" tutupnya.

Sejak dinyanyikan pada peristiwa peringatan satu tahun bom Surabaya beberapa waktu lalu, Fiorola baru mengupload video asli lagu berjudul Tuan Pahlawan di media sosial Youtube pada Kamis (16/5/2019) sore dan sudah ditonton oleh sekitar 1000 orang. Mereka juga merilisnya di Spotify dan Joox.

Untuk mendengar dan memahami makna di balik lagu yang luar biasa tersebut, berikut marjinnews.com sajikan videonya. Semoga keluarga korban dan kita semua yang merasa kehilangan selalu dikuatkan dalam kasih yang tak berkesudahan. (AA/MN)