Tegas Mengambil Sikap di Tengah Perkembangan Dunia Virtual
Cari Berita

Tegas Mengambil Sikap di Tengah Perkembangan Dunia Virtual

23 April 2019

Foto: Dok. Pribadi 
OPINI, MARJINNEWS.COM  - Era baru teknologi informasi telah melahirkan masyarakat virtual. Sebuah perubahan dari citizenship ke netizenship. Mereka berhimpun atas dasar kesamaan ide, gagasan, persepsi, kepentingan dan kecenderungan. Masyarakat berbasis patembayan yang menjalin relasi impersonal ini saling merebut ruang sosial baru.

Inilah dunia maya. Maya tetapi sekaligus nyata, sebagai realitas buatan yang sering meninabobokan. Riset PPIM UIN Jakarta menemukan fakta bahwa generasi Z menghabiskan waktu 3-5 jam untuk berselancar di dunia digital. Demikian juga mayoritas generasi Y dan sebagian besar generasi X. Medsos menjadi sumber utama untuk belajar, bergembira, berelaksasi, menghilangkan kesepian dan menjadi sarana rapat organisasi dan menyebarkan ide pencerahan.

Menurut Fahd Pahdepie, peraih UMY Alumni Award 2018, saat ini ada sekitar 40 persen penduduk Indonesia berusia 15-45 tahun. Mereka umumnya aktif di media sosial. Sehingga wajar jika kemudian, merekalah yang mengendalikan ruang publik melalui narasi-narasi besar yang mempengaruhi narasi gerak dinamika bangsa selama ini.

Seiring dengan fenomena tersebut kita kemudian mengalami sebuah fase perubahan atau perkembangan. Tak hanya perkembangan secara fisik, keterampilan akademik, kematangan emosional bahkan pada pola komunikasi pun akan terus mengalami perubahan serupa. Kondisi manusia yang tidak statis membuat dia maju  dan bahkan bisa mundur mengalir mengikuti arus yang sedang dilakoninya.

Era Global dengan sajian dunia virtual yang tidak begitu penting mengandalkan perjumpaan fisik semakin meninabobokan penikmatnya dengan fitur-fitur menarik sebagai Tuhan baru versi maya. Sajian ala dunia virtual seperti menjadi Tuhan baru yang siap menjawab persoalan manusia. Semua penikmat dunia virtual menjadi pemain inti, pemodal, serta raja/ratu atas apa yang hendak dilakukan.
Di era ini akan sangat jarang kita jumpai orang yang tidak begitu care dengan sajian dunia virtual. Biasnya, kita menjadi terlena. Hal ini dikarenakan oleh ruang gerak yang dilakukan oleh penikmat dunia virtual tidak dibatasi dan tidak ada pemisah geografis yang mengganggu jangkauan para penikmat. 

Akibatnya dia benar-benar nyaris membuat penikmatnya seperti orang gila baru karena tergila-gila dengan sajian ala virtual tanpa disaring atau dipilah terlebih dahulu. Sajian ala virtual terus berpacu dan mengerus hingga hampir mengaburkan Pola komunikasi face to face. Tak bisa di-elakan manusia akan semakin leluasa membidik kehidupan manusia lainnya. Lebih piawai untuk mengkritik dan semakin membudayakan budaya komentar lalu dengan mudah menarik benang merah atas apa yang sudah disuguhi di dunia maya. 

Kabar baiknya adalah semakin banyak penikmat dunia virtual menjadikan itu sebuah kegiatan ekonomi baru dengan modal finansial yang secukupnya serta modal diksi  yang persuasif sebagai fondasi penarik minat penikmat dunia virtual. Sajian Virtual sudah menggenggam sedemikian erat sebagian dari aktivitas penunjang kehidupan manusia, bahkan sudah menjadi satu kesatuan yang utuh disetiap lorong aktivitas manusia. 

Tak heran bila dia begitu sangat gesit melemparkan bola panas dan menguji bank emosional khalayak umum. Bagi beberapa orang sumber tidak membaiknya relasi ketika ada perjumpaan fisik  adalah akibat berbagai rentetan peristiwa di dunia virtual yang sebenarnya merupakan hal biasa bila disikapi dengan bijak.

Berdasarkan beberapa hal tersebut di atas penulis berkesimpulan bahwa perkembangan dunia virtual adalah sebuah keniscayaan. Dia diibaratkan semacam panggung gegap gempita. Semua orang bisa menjadi pemain. Sifatnya penuh kejutan, kesegeraan, dan keseketikaan. Kebebasan untuk menjadi apa saja di dunia virtual harus bisa dijadikan ajang memperjuangkan hal-hal positif. Kita harus menjadi pemain yang benar-benar mempengaruhi orang lain agar niat baik kita tersampaikan kepada khalayak.

Hal paling penting untuk diketahui adalah soal bagaimana orang lain bisa kita manfaatkan untuk kepentingan kita. Khalayak biasanya akan menilai performa para pemain. Mereka yang mampu menampilkan sebuah performa menarik akan beruntung untuk kemudian mendapatkan sorak tepuk tangan, fans, dan bahkan buzzer setia. Sebaliknya, mereka yang tidak mau tampil, atau yang tampil tetapi performanya tidak menarik, maka dia harus bersiap untuk dipersekusi dan tidak dilirik.

Oleh karena itu, silahkan mengambil keputusan. Menjadi penonton dan tidak berdaya berhadapan dengan berbagai kelebihan informasi di dunia virtual atau menjadi pemain dengan menciptakan narasi-narasi kebaikan yang kita gagas untuk kepentingan hajat hidup orang banyak. Semuanya kembali kepada diri kita masing-masing.

Oleh: Mega Jehaman 
Alumni UNMER, Malang