Sekolah Peduli Lingkungan Hidup
Cari Berita

Sekolah Peduli Lingkungan Hidup

14 April 2019

Foto: Dok. Pribad
OPINI, marjinnews.com - Dalam beberapa waktu terakhir kita dihadapkan dengan berbagai ancaman bencana alam. Seperti yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Di antaranya tanah longsor dan banjir.

Pertama, tanah longsor yang terjadi sebagai akibat dari tanah yang tak mampu menyerap kadar air yang terlalu banyak karena curah hujan yang tinggi sehingga ketahanan tanah tidak dapat dipertahankan. 

Selain itu, tanah yang tak mampu menahan kadar air yang terlalu banyak ini diakibatkan karena tidak adanya pohon-pohon yang mampu menahan atau menopang tanah serta membantu tanah dalam menyerap kadar air yang banyak.

Kedua, bencana banjir yang akhir-akhir ini terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Banjir yang terjadi diakibatkan oleh meluapnya air laut dan ditambah kesadaran manusia membuang sampah. Meluapnya air laut jika kita perhatikan sangat mungkin dipengaruhi oleh perubahan iklim.

Bencana longsor dan banjir yang terjadi akibat pengelolaan lingkungan hidup yang kurang baik serta pengrusakan alam yang dilakukan secara masif. Bencana longsor di beberapa sumber diberitakan karena curah hujan yang cukup tinggi, dan banjir terjadi karena meluapnya air laut serta saluran air yang dipenuhi oleh sampah.

Gunawan Mohamad yang mengutip penjelasan Harari (Sumber: qureta.com) menjelasakan bahwa salah satu ancaman yang tengah dihadapi pada abad ke 21 ini adalah ancaman perubahan iklim. Kenaikan suhu bumi akibat cerobohnya manusia dalam mengelola lingkungan (terjadinya polusi, menipisnya lapisan ozon diangkasa, dan lain-lain), berangsur-angsur membuat gunung-gunung es di kutub mencair. Ini mulai terjadi, dikukuhkan pelbagai riset dari lembaga-lembaga yang otoritatif.

Maka dari itu benarlah bahwa bencana yang terjadi sebagai akibat dari pengrusakan alam yang kian hari kian masif terjadi.

Menipisnya lapisan ozon diakibatkan oleh polusi udara yang tinggi. Asap kendaran, asap pabrik dan beberapa hal lainnya turut menyumbang gas-gas yang dapat merusak lapisan ozon. selain itu pohon-pohon yang sejatinya sebagi penetralisir polusi tersebut terus masif ditebang sehingga menipisnya lapisan ozon akan kian cepat terjadi. 

Lapisan ozon yang menipis akan membuat suhu bumi akan semakin naik dan berdampak pada pencairan es kutub semakin cepat dan proses penguapan air semakin tinggi yang menyebabkan curah hujan kian tinggi.

Masyarakat perlu sadar
Bencana alam yang terjadi semestinya dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa bencana yang yang kita hadapi adalah akibat kelalaian kita sendiri. Dengan kian masifnya kita merusak lingkungan maka bencana juga kian dekat dengan kita. Oleh karena itu, kita perlu sadar dan peduli akan lingkungan kita sendiri.

Kebiasaan merusak lingkungan seperti penebangan pohon yang selama ini masif kita lakukan perlu dikurangi untuk megurangi dampak dari bencana tanah longsor yang terjadi. Memang pada dasarnya, pohon-pohon yang ditebang menjadi salah satu penyokong hidup kita, tetapi kita perlu juga menyadari dampaknya. 

Mungkin akan lebih bijak jika kita tidak hanya menebang, melainkan juga memikirkan bagaimana mengganti yang ditebang. Kesadaran kita dalam membuang sampah perlu diperhatikan juga. Sampah semestinya tidak dibuang pada saluran-saluran air. 

Sampah yang menyumbat saluran air tentunya akan membuat air tidak dapat mengalir dan akan meluap. Selain itu juga, penggunaan pestisida pembasmi hama juga perlu dibatasi, karena dalam pestisida mengandung zat-zat kimia yang dapat merusak lapisan ozon.

Pendidikan perlu berperan
Pendidikan perlu berperan dalam menanggulangi pengrusakan alam yang kian masif ini. Penanaman pemahaman akan pentingnya lingkungan hidup perlu dilakukan sejak dini terhadap siswa/i agar di kemudian hari pengrusakan yang terjadi bisa dicegah.

Ada berbagai banyak cara yang bisa dilakukan oleh pendidikan tentang lingkungan hidup ini di antaranya adalah dengan memberikan sosialisai tentang lingkun hidup baik dalam proses pembelajaran ataupun dengan seminar yang dilakukan sekolah, dan membentuk salah satu unit kegiatan ektrakurikuler lingkungan hidup dan menuntut agar kegiatannya dilakukan secara periodik.

Unit ini dapat menjadi penggerak terdepan bagi siswa untuk peduli terhadap lingkungan dengan kegiatan-kegiatan seperti penanaman pemahaman dan kegiatan praktik peduli lingkungan hidup.

Selaini itu, sekolah juga perlu merancang dan melaksanakan kegiatan peduli lingkungan dengan mengajak siswa-siswanya untuk menanam pohon, peduli sampah, dan lain sebagainya tentang lingkungan.

Oleh: Roy Nabal
 Aktivis PMKRI Jogja