Menelanjangi Caleg Gagal di Ruang Publik Bukti Otak Tidak Bekerja
Cari Berita

Menelanjangi Caleg Gagal di Ruang Publik Bukti Otak Tidak Bekerja

23 April 2019

Gambar: Ilustrasi 
OPINI, MARJINNEWS.COM- "Mereka yang menghormati kepribadian orang lain adalah orang-orang yang benar-benar berguna.” Demikian kata seorang teolog, filsuf sekaligus musisi asal Jerman Albert Schweitzer (1875–1965) pada sebuah kesempatan.

Pernyataan pemenang Nobel Perdamaian itu sebenarnya mengingatkan manusia atau bangsa manapun di dunia untuk menghargai atau mengapresiasi eksistensi sesama.

Mereka yang sikap dan perbuatannya dipersembahkan untuk memuliakan sesama ini, layak digolongkan sebagai subyek sejarah kehidupan yang berguna. Mengapa bisa demikian?

Sikap dan perilaku memuliakan sesama itu butuh energi yang bersumber dari nilai-nilai mulia seperti kerelaan, keikhlasan, dan kelapangan nurani, bahwa dalam kehidupannya mesti ada orang lain yang mendampinginya dalam kerja, belajar, dan menjalankan beragam aktivitas di ranah privat maupun ranah publik.

Memuliakan itu dapat membuat orang lain seperti subjek sosial, ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan budaya bisa menjadi berharga (bermartabat) dan lebih progresif serta manusiawi dalam menjalankan beragam aktivitasnya.

Disitulah kepribadian manusia menjadi lebih hidup. Seseorang yang merasa peran atau eksistensi dirinya dihormati, dirinya merasa hidupnya ada yang memedulikan atau memberikannya apresiasi dan kesempatan untuk menjadi manusia yang bermakna.

Salah satu objek yang selama beberapa hari setelah Pemilu lebih sering terbaca tidak atau kurang mendapatkan perlakuan yang memuliakannya adalah para Calon Legislatif (Caleg) yang masih belum berkesempatan (bukan kalah) mendapat kursi dewan meski sudah berusaha semampu mereka.

Di media sosial mereka disindir, dihujat dan bahkan diharapkan menjadi gila untuk dapat ditertawakan sebagai seorang yang kalah bertarung. Di mata publik yang tidak berhati nurani, kekejian ini dilontarkan dan bahkan dipupuk tanpa ada keinginan untuk mengintropeksi diri. Masyarakat dunia maya seperti suporter bola yang suka berlaku rasis. Mereka tidak mau menjadi suporter atau mungkin menjadi pemandu sorak yang baik: menyemangati, dan memberi mereka dukungan moral agar tidak jatuh terpuruk.

Memang DPR sudah memiliki citra buruk sebagai sebuah lembaga yang paling banyak kader berompi orange bertuliskan "Tahanan KPK", namun tidak bisa disamaratakan. Apalagi pada proses awal pencalonan mereka sudah ditekankan melalui UU sebagai putra/putri terbaik daerah yang bebas korupsi dan belum pernah dipidana.

Kita sepertinya tidak berpikir sampai kesana. Tanpa belas kasihan atau empati, justru menjadi pelopor terjadinya kekerasan psikis terhadap mereka tanpa ampun. Tanpa tahu malu. Mereka sudah berani mengambil keputusan untuk menjadi bagian dari kontestasi Pemilu, kita sudah bisa bikin apa? Terima uang lalu teriak anti-korupsi? Kok kedengarannya sangat lucu? Atau kita pelawak? Mengapa tidak ikut StandUp Comedy sekalian? Aneh.

Mengurai maksud kekerasan psikis
Kekerasan psikis (psychological violence) merupakan bentuk penindasan atau “penjajahan” modern yang membuat seseorang atau sekelompok orang bisa kehilangan etos kerja, semangat inovasi dan kreasi, serta terpuruk dalam ragam ketidakberdayaan (empowerless).

Ketika kekerasan psikis menimpa seseorang, kecerdasan dan kegairahan konstruktif bisa tereduksi. Labilitas bisa menjadi imbasnya, karena dalam dirinya ada bayang-bayang ketakutan, merasa inferioristik, atau disudutkan sebagai obyek yang “harus” diterpurukkan dalam kekalahan dan ketertindasan.

Kekerasan psikis memang sepertinya ringan karena tidak berhubungan dengan penderitaan fisik yang secara langsung bisa dilihat atau dicermati, namun bagi bangunan kondisi psikologis, perilaku tidak manusiawi ini bentuknya bisa penyiksaan berkepanjangan dan “mencengkeram” emosi, sehingga para Caleg yang menjadi korbannya bisa terenggut kepribadiannya.

Oleh karena itu, mari kita untuk sekali saja berpikir waras. Kalah dan menang adalah biasa dan itu harus terjadi dalam Pemilu yang diibaratkan sebagai sebuah partai puncak dalam pertandingan sepak bola. Apapun yang terjadi harus ada yang kalah. Jika seri maka akan ada perpanjangan waktu, bila perlu ada adu pinalti. Fair play dipraktekkan.

Pemandu sorak bakal terus bernyanyi memberi semangat meski suaranya sudah serak dan dukungannya sudah tidak berguna. Apakah sia-sia? Tidak, kecuali otak kita tidak bekerja maksimal untuk merespon situasi yang ada. Salam..

Oleh: Kaka Andreas