Komodo Dijual untuk Dijadikan Obat Antibiotik, Berikut Penjelasannya
Cari Berita

Komodo Dijual untuk Dijadikan Obat Antibiotik, Berikut Penjelasannya

1 April 2019

Foto: Istimewa 
EDITORIAL, marjinnews.com - Kabar tentang kasus penjualan Komodo ke luar negeri baru saja diungkap oleh Polda Jawa Timur sekaligus menjadi alarm untuk kita semua akan bahaya eksploitasi satwa langka yang semakin tak terbendung. 

Kasus penyelundupan komodo ini terungkap hanya sehari setelah pihak kepolisian berhasil meringkus pelaku penyelundupan kura-kura hidung moncong. Kasus terungkap di Papua, dengan barang bukti lebih dari 5.000 ekor. 

Kura-kura moncong babi merupakan satwa endemik yang hanya bisa ditemukan di kawasan Papua New Guinea dan Australia, serta pulau di Papua. Hewan ini merupakan satwa yang dilindungi pemerintah Indonesia

Sementara beberapa waktu sebelumnya, pihak Polda Bali juga berhasil menangkap turis asal Rusia yang kedapatan menyelundupkan orang utan yang dibius dengan narkotika di dalam kopernya. Orang utan tersebut rencananya akan ia jadikan hewan peliharaan. 

Komodo menjadi salah satu satwa langka yang sudah dijual hampir 41 ekor ke luar negeri memiliki nilai jual sangat fantastis, yaitu sekitar Rp 500 juta/ekor. Berdasarkan keterangan AKBP Rofiq Ripto Himawan, Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim, Komodo hendak dijadikan obat tradisional. Komodo dipercaya bisa dijadikan obat antibiotik.

Jika benar demikian, masihkah Gubernur NTT berharap agar ke-41 komodo yang sudah dijual itu dapat dikembalikan ke habitat asalnya di Flores? Sepertinya mustahil. Kita hanya bisa berharap agar nasib ke-41 ekor komodo itu bisa dipertanggungjawabkan. Baik melalui pemberian hukuman yang setimpal kepada pelaku dan sekaligus memperbaiki sistem keamanan di tempat penangkaran komodo tersebut.

Menyingkap Tabir di Balik Keperkasaan Komodo

Komodo dengan nama latin Varanus komodoensis, merupakan spesies kadal terbesar yang diperkirakan telah hidup sejak 4 juta tahun lalu. Sang jantan dewasa, panjangnya mencapai 3 meter dengan berat sekitar 80 kilogram. Sementara si betina, panjangnya 2,4 meter dengan bobot badan 40 kilogram.

Reptil purba ini memiliki keistimewaan, mulai dari kemampuan berlarinya hingga 20 kilometer perjam hingga penciumannya super tajam. Juga, adanya sejumlah bakteri berbahaya pada mulutnya.

Penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan ada sekitar 58 bakteri di dalam mulut komodo ini. Meski belum diketahui pasti dari mana asal bakteri-bakteri tersebut, para peneliti meyakini  sumbernya dari makanan dan minuman komodo yang telah terkontaminasi bakteri.

Hal luar biasa lainnya adalah komodo memiliki zat peptida dalam darahnya. Sebut saja peptida antimikroba yang dapat membantu kadal raksasa ini melawan bakteri berbahaya dan bertahan hidup di lingkungan ekstrim.

Keampuhan zat yang diyakini dapat digunakan untuk melawan resistensi antibiotik ini, telah dituliskan pada peneliti Amerika di Journal of Proteome Research, Februari 2017.

Para peneliti memeriksa bagaimana hewan ini dapat hidup di lingkungan yang tidak biasa. Lebih jelasnya, lingkungan yang penuh bakteri, tetapi dapat hidup dan berkembang hingga saat ini. Seperti halnya komodo. “Kami fokus pada peptida yang berasal dari spesies ekstrim,” kata Barney Bishop, profesor dari George Mason University of Virginia, sekaligus penulis utama penelitian ini, sebagaimana dilansir dari Motherboard.

Peptida pada dasarnya merupakan protein kecil dan peptida antimikroba adalah antibiotik tubuh. Dua zat tersebut sangat penting bagi manusia dan makhluk hidup lain, karena tanpanya tubuh akan mudah terserang bakteri dan infeksi.

Dengan teknik yang dikembangkan para peneliti di laboratorium, mereka berhasil menciptakan versi sintesis senyawa antimikroba darah komodo. Zat itu kemudian dinamakan DRGN-1. Para peneliti pun menguji DRGN-1 pada tikus yang memiliki infeksi luka kulit. Hasilnya, luka itu sembuh lebih cepat dibandingkan obat biasa.

Monique van Hoek, profesor mikrobiologi yang juga terlibat dalam penelitian ini, sebagaimana dikutip dari The Sun (12/04/2017) mengatakan, penyembuhan signifikan oleh DRGN-1 pada tikus terinfeksi, dengan cara mempercepat perpindahan sel-sel kulit baru untuk menutup luka tersebut.

Temuan ini  merupakan hasil menggembirakan, karena DRGN-1 bekerja dengan baik pada luka yang terinfeksi bakteri. Yaitu pada Psedomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus atau dikenal juga sebagai MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus). Kedua bakteri ini dikenal akan sifatnya yang kuat, berkoloni dan menempel bersama atau disebut biofilm.

Untuk diketahui bahwa Komodo, sejatinya hanya terdapat di Indonesia, tepatnya di Nusa Tenggara Timur. Tersebar di lima pulau, empat pulau terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, yaitu Pulau Komodo, Rinca, Nusa Kode (Gili Dasami), dan Gili Motang. 

Pulau yang terakhir sekaligus merupakan pulau yang terbesar adalah Flores. Di Flores terdapat tiga kawasan cagar alam yang di dalamnya masih terdapat populasi komodo, yaitu Wae Wuul, Wolo Tadho, dan Riung.

Mengenai nasib komodo yang sementara ini masih diamankan oleh pihak Polda Jatim, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur, Nandang Prihadi menjelaskan, pihaknya telah mengambil sample darah komodo untuk diuji ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI] dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. 

Tujuannya, untuk memastikan jenis dan asal komodo tersebut. Dengan begitu, akan diketahui apakah dari Flores utara, Flores barat, atau taman nasional. LIPI mengklaim memiliki peta DNA komodo. (AA/MN)