Aliansi Mahasiswa Peduli Tanah Dading Merespon Kasus Penjualan Komodo
Cari Berita

Aliansi Mahasiswa Peduli Tanah Dading Merespon Kasus Penjualan Komodo

MARJIN NEWS
3 April 2019

Foto: Aliansi Mahasiswa Peduli Tanah Dading 

DENPASAR, marjinnews.com-- Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Tanah Dading (AMPTD) Bali mengecam kasus penyelundupan Komodo yang baru-baru ini diungkap oleh Kapolda Jawa Timur pada Rabu (27/3/2019). 

Koordinator Lapangan (Korlap), Zakarias H. Ngari, mengatakan kepada media, bahwa perburuan dan perdagangan satwa merupakan ancaman utama terhadap keberlangsungan hidup satwa yang dilindungi. Menurutnya, nilai jual yang tinggi dari satwa tersebut mendorong oknum tertentu untuk melakukan perdagangan terhadap satwa yang dilindungi, dalam hal ini proses transaksi jual beli Komodo.

Lebih lanjut Rian H. Ngari yang juga akrab disapa Rian itu mengatakan, apa yang terjadi di Taman Nasional Komodo (TNK) Kabupaten Manggarai Barat, NTT sudah merupakan kejahatan terhadap satwa Komodo yang dilakukan secara terorganisir dengan rapi dan memiliki jaringan yang luas, mulai dari tingkat Lokal, nasional maupun internasional.

“Kami pun heran dengan kejadian ini, ke manakah Pemprov NTT, Pemkab Manggarai Barat, dan pihak penegak hukum di lingkup Provinsi NTT, serta Dinas Pariwisata Manggarai Barat dalam melakukan pengawasan,” ujar Rian yang juga adalah aktivis mahasiswa di Denpasar-Bali itu. 

Selain itu menurut Rian,  Komodo merupakan binatang langka yang harus dilindungi, baik oleh Pemerintah, Masyarakat Indonesia, maupun Dunia.

“Jelas ini merupakan tindakan yang melanggar hukum, sebagaimana yang dijelaskan dalam UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Siapa pun yang berani melanggar hukum, maka harus dipertanggungjawabkan pula di mata hukum," pungkas Rian.

Hal serupa juga disampaikan oleh Petrus Y. Samlan. Dalam wawancara yang dilakukan media ini, dia berharap agar pemerintah meningkatkan pengawasan atau penjagaan di Taman Nasional Komodo (TNK). 

“Selaku mahasiswa, kami tentu berharap agar pemerintah secara serius menangani keamanan di TNK. Ini tentu penting, agar persoalan atau kasus serupa tidak terulang lagi di kemudian hari” ujar Petrus yang juga adalah ketua IMMC.

Sementara itu, salah satu mahasiswa yang bernama Gregorius Y. Setiawan mengatakan, pemerintah sepertinya kurang konsisten dalam melindungi ekosistem Komodo. 

“Saya melihat, pemerintah tidak serius mengelola, dalam hal ini menjaga satwa yang ada di NTT. Kasus seperti ini merupakan sebuah tamparan keras kepada pemerintah, bahwa dari sini kita dapat menilai bahwa pemerintah lalai” ujarnya. 

Sebelum melakukan jumpa pers, AMPTD telah mengadakan diskusi terlebih dahulu. Adapun hasil diskusi mereka adalah sebagai berikut:

1. Mendesak Polda NTT untuk mengusut tuntas kasus penyelundupan Komodo
2. Meminta pemerintah tegas dalam meningkatkan pengawasan di TNK

Untuk diketahui Aliansi Mahasiswa Peduli Tanah Dading ini terdiri dari beberapa organisasi, antara lain: Amanat (Aliansi mahasiswa NTT) Bali, Ikatan Mahasiswa Manggarai Cibal (IMMC) Bali, Himpunan Mahasiswa Satar Mese (Himasti) Bali, dan Muda Mudi Rahong Utara-Bali.(*)

Laporan: Eman Jabur