Urgensi Organisasi Bagi Mahasiswa
Cari Berita

Urgensi Organisasi Bagi Mahasiswa

17 March 2019

Foto: Dok. Pribadi
OPINI, marjinnews.com - Telah menjadi rahasia umum, bahwa minat mahasiswa dalam berorganisasi sangatlah kecil. Minimnya minat berorganisasi ini dipengahi oleh berbagai faktor, baik eksternal maupun internal. Faktor eksternal misalnya, budaya paradoks yang cendrung memprioritaskan perkuliahan. Faktor internal, misalnya kesadaran mahasiswa itu sendiri dalam berorganisasi.

Realita menunjukan bahwa pada zaman sekarang, warisan berorganisasi yang ditinggalkan oleh para pendahlu, sepertinya telah hilang dan muncul budaya baru yang makin primitif, yang oleh mereka disebut sebagai “penghambat”. 

Pola pikir seperti ini kian menghantui benak setiap insan yang mau mengembangkan budaya berorganisasi. Budaya berorganisasi tidak mengenal status, baik kaum lelaki maupun kaum perempuan. Kaum lelaki dan kaum perempuan mempunyai peluang yang sama untuk berorganisasi.

Menyikapi situasi ini, saya selalu mengatakan bahwa berorganisas sangatlah penting untuk pengembangan kepribadian seseorang. Karena dengan berorganisasi seseorang dapat menciptakan suatu jaringan yang nantinya akan memudahakan seseorang untuk mencari pekerjaan. Dewasa ini, banyak orang yang ketika menjadi sarjana belum mempunyai pekerjaan karena lemahnya jaringan. 

Hal ini bukan berarti seseorang  yang berlatarbelakang nonorganisasi tidak dapat bekerja, tetapi alangkah baiknya berorganisasi karena mempercepat untuk memperoleh pekerjaan.

Budaya berorganisasi mestinya dirawat serta dikembangkan terkhususnya bagi para mahasiswa. Sebagai mahasiswa yang berintelektual, dalam arti mahasiswa yang mempunyai pola pikir kritis untuk suatu perubahan atau menjadi “Agent of change”. Sebagai Agent of change, mahasiswa dituntut untuk menjadi tulang punggung perubahan. 

Mahasiswa tidak sekedar melahap teori komprehensif dalam tataran kampus, tetapi sebaliknya mesti peka terhadap berbagai macam persoalan sosial yang terjadi disekitarnya. Mahasiswa juga dituntut untuk memiliki sense of belonging sekaligus mempunyai tanggungjawab moril dalam mendukung perubahan sosial di tempat dimana Ia berada. Mahasiswa tidak boleh terperangkap dalam menara gading kemamapanan kampus, yang menolak untuk keluar dan menyapa mereka yang tertindas dan terabaikan. 

Oleh karena itu, wadah yang mesti menjadi locus bagi para mahasiswa untuk suatu perubahan bukanlah Universitas belaka namun organisasi. Banyak hal baru yang akan dipetik dalam berorganisasi, dimana hal tersebut tidak diajarkan di kampus. Hal-hal baru itulah yang menjadi jalan bagi seseorang untuk membentuk integritas kepribadian yang utuh. 

Akhirnya, saya atas nama anggota aktif PMKRI Cabang Maumere St. Thomas Morus mengajak para mahasiswa nonorganisasi, agar mulai mengubah pola pikir sebagai mahasiswa yang berintelijen, dimana organisasi adalah peluang besar untuk memperkaya ilmu, membangun relasi/jaringan dan membentuk mental kepribadian yang militan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. 

Jangan pernah takut untuk berorganisasi, karena berorganisasi adalah budaya yang tidak akan musnah di bumi pertiwi ini. Sepanjang masih ada kehidupan, budaya berorganisasi pun tetap abadi. 

Oleh: Rendy Stevano
Kader PMKRI Cabang Maumere