Topeng Monyet dan Gerakan Politik Romahurmuziy
Cari Berita

Topeng Monyet dan Gerakan Politik Romahurmuziy

17 March 2019

Gambar: marjinnews.com
OPINI, marjinnews.com - Hari pertama saya di Jakarta selama dua minggu untuk belajar dan sharing pengalaman tentang IT itu disuguhkan oleh sebuah pertunjukkan singkat Topeng Monyet di depan rumah tempat saya tinggal. Waktu itu saya hendak membeli rokok ketengan dan melihat sekelompok anak kecil berlarian sambil berteriak histeris antara senang dan takut melihat ulah si monyet yang menggemaskan.

Seperti biasa, si monyet dibantu pawangnya melakukan berbagai atraksi sembari diiringi tetabuhan musik tradisional. Menggunakan sepeda mini, motor kecil, dan tentu memakai topeng. Namanya juga topeng monyet. Makanya sang monyet pakai topeng. 

Topeng monyet adalah hiburan terutama di kalangan apa yang biasa disebut dengan 'wong cilik'. Para pemandu atau pawangnya juga berasal dari kalangan 'wong cilik'. Mereka hidup mencari makan dari hasil saweran para penonton. Makanya atraksi topeng monyet itu bisa disebut hiburan: dari, oleh, dan untuk 'wong cilik'.  

Ini berbeda dengan atraksi dari politisi dan partai yang kerap mengatasnamakan 'wong cilik'. Yang sikap dan aksinya justru berkebalikan. Bukan memberikan jalan keluar pemecahan, tetapi malah memberangus kebahagian dan sumber pendapatan 'wong cilik'. Topeng Monyet memiliki sedikit kemiripan dengan politisi yang kerap memoles diri. Tampil di depan rakyat. Blusukan. Apalagi kalau bukan buat pencitraan.

Lalu apa hubungannya dengan Ketua Umum PPP?
Peristiwa penangkapan Romahurmuziy atau Romy oleh KPK beberapa waktu lalu karena kedapatan melakukan suap terkait seleksi pengisian jabatan pimpinan tinggi di Kementrian Agama (Kemenag) bersama Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin merupakan pukulan telak untuk kita semua.

Bagaimana tidak, ketika dengan lantang kita secara bersama-sama menolak hoaks yang bertebaran bak sampah di media sosial, muncul sosok Romy yang dikenal agamais, nasionalis dan tidak lupa sangat milenialis namun menyimpan sejuta kebusukkan dan kemunafikan lebih dari pengaruh hoaks atas kehidupan kita sehari-hari. Dia bersembunyi di balik slogan-slogan yang mampu membius banyak orang. Luar biasa. 

Santun, rajin berdoa dan suka menabung mungkin citra yang dibangun Romy begitu sangat elegan di hadapan publik selama ini. Itu agak mirip dengan aksi lucu si monyet di balik topengnya saat mengendarai motor-motoran yang kemudian berakting terjatuh ternyata menyimpan sejuta cerita sedih. Sedih sekali. Apalagi orang seperti Romy. Sangat memprihatinkan.

Romy diketahui terlibat kasus penerimaan uang sebesar Rp 50 juta dari Muafaq pada Jumat, 15 Maret 2019 dan dari Haris sebesar Rp 250 juta pada  Februari 2019. Manuvernya ternyata sudah berjalan cukup lama. Menarik dicari tahu adalah soal kekuatan apa yang membuat Romy begitu tampak sangat meyakinkan bagi Muafaq dan Haris untuk turut andil dalam perbuatan haram tersebut.

Apakah karena dia pernah dengan tanpa tahu malu mengklaim bakal menjadi Calon Wakil Presiden mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019 beberapa waktu lalu? Atau karena dia mengklaim menjadi orang dalam lingkaran petahana sangat berpengaruh dan berkontribusi besar atas peristiwa kemenangan besar Jokowi yang sudah di depan mata itu? Atau karena dia tampak begitu meyakinkan dengan segala macam pencitraan ala Topeng Monyetnya selama ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu murni muncul dalam benak saya ketika mendapat kabar bahwa Romy ditangkap KPK di Surabaya, Jawa Timur sampai saat menulis ini. Namanya keresahan, saya secara pribadi lebih suka memelihara kecemasan agar otak tetap waras melihat manuver-manuver 'aneh' jelang Pemilu serentak 17 April 2019 mendatang. Tidak mudah percaya. Dan bahkan memilih menaruh curiga terhadap orang-orang yang tiba-tiba baik dan menonjolkan diri sebagai agamais, nasionalis dan bahkan milenialis.

Namun, seperti kata Pak Mahfud MD bahwa kejahatan terbesar hari ini di Indonesia adalah korupsi dan narkoba. Kita harus memeranginya secara bersama-sama tanpa mengenal SARA. Termasuk memberi sanksi sosial kepada orang sejenis Romy di lingkungan masyarakat kita. Sekarang, saya ingin mengajak kita semua untuk membuka mata dan kepekaan hati atas apapun yang ada di sekitar kita. Pastikan kita tidak tertipu oleh kegemasan pertunjukkan Topeng Monyet politisi kita. 

Mereka tampak lucu, perhatian, baik, rajin berdoa, suka menabung dan menghimbau kita agar mencontohi gestur politik yang penuh dengan kemunafikan walau sekedar pencitraan. Mari kembali menengok kisah di balik pertunjukkan Topeng Monyet. Resapi dan pahami, bahwa kejenakaan mereka tidaklah mirip dengan apa yang pawang mereka lakukan ketika berada di rumah. Salam..

Oleh: Andi Andur
Pemimpin Redaksi marjinnews.com