Teater Arsip 2019, Ajang Kolaborasi Indonesia-Hongaria dalam Bidang Seni dan Budaya
Cari Berita

Teater Arsip 2019, Ajang Kolaborasi Indonesia-Hongaria dalam Bidang Seni dan Budaya

MARJIN NEWS
12 March 2019

Foto: Humas Komite Teater DKJ
JAKARTA, marjinnews.com – Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan program bertajuk Teater Arsip yang akan berlangsung selama sepekan (11-17 Maret 2019). Bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BERKAF), program di tahun ketiga kerja sama ini merangkul Kedutaan Hongaria untuk Indonesia bersama beberapa curator asal negara tersebut dengan mengangkat tema ‘Di Balik Setiap Pintu’ bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya 73, Jakarta.

Dalam acara konferensi pers sebelum Open Ceremony, Antrolog Péter Szilágyi menjelaskan bahwa ‘Di Balik Setiap Pintu’ merupakan sebuah rangkaian riset artistik yang panjang, melibatkan lintas-budaya dan dilakukan terhadap berbagai sumber. Riset tersebut menurutnya menggunakan seluruh panca indra (termasuk penciuman) sebagai cara mengenali aksi-reaksi dalam mengolah data menjadi informasi yang kemudian disebutnya sensory etnhnography.

Menurutnya, riset tersebut dipresentasikan dalam sebuah film mixmedia documenter yang berisi tentang  bagaimana siswa-siswi asal Hongaria yang menggunakan pendekatan Sensory Ethnography saat belajar tentang budaya Jawa di Jogjakarta dan Solo. Dan di dalamnya, para kreator berupaya membangun sebuah dunia visual lintas budaya yang merespon budaya Jawa melalui gaya visual wayang beber (Dani Iswardana), memainkan konsep dasar wayang kulit yang dilengkapi berbagai gaya gambar dan teknik permainan memakai Over Head Projector (Vivien Sárkány).
Péter Szilágyi (Foto: Humas Komite Teater DKJ)
“Saya pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1997 mengikuti program Darmasiswa yang canangkan oleh pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud. Setelah itu pada tahun 2002 saya balik ke Hongaria dan kembali ke Indonesia pada tahun 2014 hingga sekarang menetap di Jakarta. Selama periode itu, saya mengalami sebuah proses adaptasi dengan dunia baru. Munculnya ide tentang Sensory Ethnography sebagai metode riset karena saya ingin menunjukkan sesuatu tentang sikap yang muncul pada proses adaptasi tersebut” terang Péter.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Wawan Rusiawan mengaku sangat senang dan mengapresiasi program Teater Arsip 2019. Menurutnya, keberhasilan DKJ yang mampu menggandeng Kedutaan Besar Hongaria dalam acara tersebut merupakan sesuatu hal yang luar biasa. Apresiasi tersebut diberikan karena DKJ telah membuat sebuah gebrakan yang sejalan dengan harapan BERKAF untuk menjangkau semua pemangku kepentingan secara lebih meluas dalam mengembangkan ekonomi kreatif.

“Kami mengapresiasi setinggi-setingginya kepada DKJ dan seluruh tim. Buat kami ini sudah tiga kali bekerjasama untuk mendukung kegiatan teater arsip, Kami menilai sangat luar biasa perkembangannya. Di tahun ketiga ini sudah menggandeng dan berkolaborasi dengan Hongaria, sebuah lompatan yang luar biasa. Mudah-mudahan event ini bisa menjadi semacam langkah awal kita untuk banyak melibatkan berbagai pihak” ujarnya. 
Vivien Sárkány (Foto: Humas Komite Teater DKJ)
Sementara itu, perwakilan Kedutaan Besar Hongaria mengaku sangat mendukung kegiatan yang melibatkan kerja sama antara Indonesia dan Hongaria dalam bidang seni dan budaya tersebut. Hal ini menurutnya sangat bagus mengingat kedua negara itu telah menjalin kerja sama cukup baik selama 10 tahun terakhir. Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah Indonesia yang telah melaksanakan program darmasiswa yang memberikan kesempatan kepada pelajar-pelajar Hongaria untuk dapat menempuh pendidikan di Indonesia.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Selain memperat kerja sama antara Indonesia dan Hongaria, kegiatan ini membuka peluang kerja sama baru dalam bidang seni dan budaya yang selama ini belum dilakukan sama sekali selama ini” ujar perwakilan Kedutaan Hongaria.

“Indonesia dan Hongaria entah mengapa mampu menyatu dengan begit cepat. Entah karena apa, tetapi saya mencoba menerka mungkin karena kita memiliki sejarah masa lalu yang sama. Pernah melewati masa kelam zaman kolonial atau mungkin juga karena Hongaria merupakan jembatan antara Asia dengan Eropa. Tetapi, tidak kalah penting adalah ucapan terima kasih kami kepada pemerintah Indonesia atas program darmasiswa yang tahun ini genap berusia 25 tahun” tutupnya.

Untuk diketahui bahwa ‘Di Balik Setiap Pintu’ merupakan judul yang mewakili rangkaian kegiatan program Teater Arsip 2019. Beberapa rangkaian acara seperti workshop, Pertunjukan “Wayang Beber Metropolitan”, Pemutaran Film “Di Balik Setiap Pintu dan Sensory Ethnography”, Pertunjukan Musik oleh AirMataHAri Project, Pertunjukan Musik dan Tari “Toos”-Tentang Tubuh dan Suara, serta Melukis Wayang Beber Bersama akan menjadi sajian utama selama sepekan ke depan.

Adapun selama enam hari (12-17 Maret) para peserta workshop akan mendalami tema “Sensory Ethnography” dengan difasilitasi oleh Bambang Mbesur Suryono (koreografer, seni tari, gerak dan suara, teater), Dani Iswardana (perupa, pelukis wayang beber kontemporer), Dea Widyaevan (perupa, seni instalasi, arsitek), Misbach Dieng Bilok (komposer, pemusik, etnomusikolog, seni instalasi suara), Peter Szilagyi (antropolog), Vivien Sarkany (perupa, seni animasi), Yola Yulfianti (koreografer, sutradara seni pertunjukan). (AA/MN)