Perjuangan Sang Ibu
Cari Berita

Perjuangan Sang Ibu

MARJIN NEWS
24 March 2019


Gambar: Ilustrasi

Ada di sebuah desa, hiduplah seorang ibu dan seorang anak. Sedangakan ayahnya telah lama meninggalkan mereka karena derita sakit. Sejak saat itu sang ibulah yang mengurus segalah keperluan anaknya. Anaknya bernama Aldo dia bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas ( SMA ) di kota yang jaraknya hampir 2 KM dari Desa mereka tinggal. Aldo anak SMA yang sudah duduk di bangku kelas XII SMA.

Aldo anak yang pandai bergaul dan pintar hampir setiap kali pembagian rapor di Sekolah, dia selalu mendapat juara satu. Meskipun demikian Aldo tetap bersyukur kepada maha sang pencipta. Aldo anak dari seorang petani, bukan berarti dia berhenti bersekolah. Dia selalu punya keyakinan kuat bahwa apa yang dia impinkan akan tercapai.

Di suatu sisi keseharian dari ibu Aldo adalah sesorang pengemis ( peminta ) di desa sebelah desanya. Karena merasa dirinya malu, ia pun berniat meminta di desa tetangganya. Hal ini pun tidak pernah di ketehaui oleh anaknya Aldo.
Suatu  hari ada pemberitahuan dari sekolah, bahwa setiap hari siswa akan membawahkan beras 2 Kg/perhari. Mendengar perkataan itu, Aldo pun berlahan-lahan datang lalu kemudian mendakati ibunya. Sambil bekata; " ibu, mulai esok ibu harus ke Sekolah dan jangan lupa ibu harus membawakan beras sebanyak 2 kg ke Sekolah". Mendengar perkataan dari anaknya, ibunya pun langsung mengiakan saja apa yang di katakan anaknya.

Karena penasaran dengan pekerja apa yang ibu lakukannya. Aldo berniat untuk tidak pergi ke sekolah hari itu. Lalu kemudian ibu Aldo berkata; "Nak.. apakah kamu tidak mau ke sekoah!!". Lalu Aldo menjwab. "Iya bu, hari ini saya sengaja tidak ke sekolah dan ijinkanlah saya menemani ibu untuk bekerja walaupun itu seharian saja".
Lalu ibu menjawab; "Nak.. pergilah kesekolah. Ibu bisa kerja sendiri. Kelak kamu akan tahu, pengorbanan orang tua itu seperti apa".
Mendengar perkataan itu, Aldo pun luluh hatinya. Dan segera mempersipkan beberapa perabotan sekolahnya. Tidak lama kemudian akhirnya Aldo berpamitan dengan ibunya.

Satu jam kemudian ibu Aldo mulai lagi bergegas untuk berangkat meninggalkan rumah dan hendak mau pergi meminta-minta. Diselah permintaanya, ada bayak cobaan yang di lalui ibunya. Hanya sebuah cacian, kemarahan yang ia terima dari orang. Tetapi meskipun demikian, ia tetap tabah dan sabar. Menjalani keseharianya itu semua demi sang anak.

Keesokan harinya sesuai permintaan anaknya, ia tuangkan sedikit beras kedalam kantong plastik meskipun warna dari beras itu agak aneh. Karena beras itu beras campuran hasil meminta-minta lalu ibunya tetap membawah beras itu ke sekolah tempat Aldo belajar.

Saat itu ada satu kejadian yang aneh menimpa ibunya Aldo. Pada saat ibu Aldo tuangkan beras ke tempat penampungan beras di Sekolah. Beras ibunya Aldo melihat sedikit aneh yang terjadi di situ.
Ibu Aldo melihat beras yang lain berbeda sekali dengan beras apa yang dia bawah. Lama kemudian datanglah salah satu guru di sekolah itu. Dia melihat berasnya penuh dengan warna yang aneh. Karena dari sekian beras yang ada di sekolah yang di bawahkan oleh orang tua murid, beras milik ibu Aldo yang sedikit aneh. Warnanya kusam dan sedikit bau.

Tak lama kemudian guru langsung memarahi dia. Dan hendaknya mau melemparkan beras itu kemuka ibunya. Mendengar perkataan itu ibu Aldo langsung berlutut dan bersujut sambil berlinar air mata hampir membasahi sekujur pipinya. Dia berkata, "maafkan saya pa, saya tidak bisa mendapatkan beras seperti layaknya yang lain bawakan. Karena beras yang saya punya hanyalah hasil meminta kepada orang-orang".

Mendengarkan perkataan itu. Guru itupun luluh hatinya. Lalu guru itu berkat; "ibu maafkan saya. Sejujurnya sya tidak tau apa yang terjadi dengan  ibu dan saya berjanji mulai hari ini, ibu tidak perlu bawah beras lagi ke sekolah". 

Tak lama kemudian, kini tiba saatnya Aldo menerima kabar lulus. Dan di saksikan oleh ibunya sendiri. Ada kebahagian yang terjadi di situ. Sang anak yang bernama Aldo, di percayakan lagi oleh pihak sekolah untuk menjdi juara. Sang ibupun tersenyum dan merasa bangga.

Di selah kebanggaanya. Ibu juga mendengar satu kalimat dari kepala sekolah. Lalu berkatalah kepalah sekolahnya. Dia berkata; "Anak Ibu Aldo, akan lanjut ke Perguruan Tinggi. Ibu juga tidak usah pikir biayanya, karena Kuliahnya akan di tanggung oleh pihak pemeritah sampai Aldo selesai".

Mendengar perkataan itu ibunya mulai bingung. Dia rasa senang bercampur dengan sedih. Dia Rasa senang, karena anaknya harus melanjutkan ke perguruaan tinggi. Sedihnya, ibu tidak bisa menahan rasa rindu. Rindu yang sebentar lagi Aldo akan meninggalkan ibunya. Dan mau melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Waktu telah berlalu. Kini Aldo pun meninggalkan ibunya hanya seorang diri. Hampir tiga tahun Aldo berada di kota tempat ia menempuh pendidikan. Tidak pernah memberikan kabar sama ibunya.  Akhirnya karena semakin hari semakin tua. Ibunya meninggal, dan Aldo pun tidak pernah tau apa yang terjdi dengan ibunya.

Setelah setahun ibunya meninggalkan Aldo. Aldo pun wisudah di kampusnya. Karena merindukan ibunya, kemudian ia hendak pulang ke kampung halamanya. Setibanya di depan rumah, ia melihat rumah itu pun kosong tidak berpenghuni lagi dengan kotoran dan sampah berserakan dimna-mana. Lalu ia berteriak memanggil ibunya ; "ibu... Ibu... Ibu". Lalu mendengar teriak itu, salah satu tetangganyapun datang menghampiri  dia. Lalu berkata, "Aldo sekarang kamu hidup sediri, ibumu telah tiada setahun yang lalu. Ibumu sakit dan dia meninggal". Mendengar perkataan itu, Aldo pun menangis. Meratapi nasibnya yang sekarang hidup sebatang kara. Enam (6) bulan sudah berlalu ia lewati tampa sosok ibu yang menemaninya. Setelah itu, akhirnya Aldo di panggil oleh salah satu perusahaan ternama di kota itu. Dimana jarak antara kota itu dengam desanya kurang lebih 6 km. 

Saat dia mulai bekerja, dia langsung di berikan rumah, mobil oleh perusahaan tempat yang dia bekerja. 
Tidak lama kemudian ia mendapatkan jodoh sesorang gadis cantik, yang bernama Laura. Laura bekerja di salah satu perusahan. Karena merasa bahwa ada kecocokan di mereka berdua, merekapun memutuskan untuk menikah.

Setelah menikah mereka di karuniahi anak laki-laki, yang tampan dan gagah. Entalah semunya ia dapatkan. Aldo pun tidak akan pernah melupakan darimana dia berasal. Dia tetap bersyukur kepada sang pencipta. Seminggu sekalipun ia pulang bersama istri dan anaknya, Untuk melihat kuburan ayah dan ibunya.

Akhirnya anak Aldo mulai bersekolah. Dia teringat akan dirinya dulu, ketika ia kesekolah ia berpamitan kepada ibunya dan hal itulah yg dilakukan untuk anaknya.
Meskipun ia sudah tergolong mapan. Sedikitpun untuk menyombongan dirinya, ia tidak pernah kerna ia berpikir. Hidup itu harus berjuang dari nol. Dari nol kita diajarkan untuk menjdi sesuatu yang hebat. Hidup ini tidak semudah kita mengembalikan telapak tangan. 

Penulis : Oktavianus S. Jebaut
Penyunting : Rifand Apur