Perjalanan Hidup Gina Si Janda Desa


(Gambar: Ilustrasi)
Namaku  Gina, aku adalah janda desa yang sekarang sedang merantau di Kalimantan, tujuanku merantau adalah untuk membiayai keluarga yang ada di desa dan memenuhi kebutuhan hidup, singkatnya menjadi tulang punggung keluarga setelah kepergian suamiku atau bapaknya anak-anak. 

Aku mempunyai dua orang putri cantik yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Mereka baru berusia 8 dan 10 tahun atau kelas 2 dan 4 SD. Sekitar setahun yang lalu, aku meninggalkan desa dan keluarga, serta menitipkan kedua buah hatiku ke opa dan oma mereka atau orang tuaku. 

Sebenarnya aku tak ingin meninggalkan keluarga, namun apa boleh buat, aku mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap orang tua dan bahkan lebih khusus kepada kedua putriku. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk membahagiakan dan mengusahakan pendidikan mereka agar tak menjadi orang bodoh sepertiku. 

Aku patut dikatakan bodoh, karena hanya bermodalkan ijazah SMA di zaman yang sudah mengglobal ini. Aku berjanji pantang pulang sebelum anak-anak sukses, aku juga sudah memikirkan banyak hal, baik itu sikap anak-anak atau penilaian orang di desa tentangku. Ini adalah jalan hidup sekaligus jalan keluar dari masalahku. 

Oh ia aku akan berbagi cerita mengenai suamiku, sebelum memulai bercerita, aku ingin menegaskan bahwa aku masih sangat mencintai dia, sebut saja namanya rikus (suamiku). Rikus selalu mengajarkan tentang perjuangan, dan tak pernah mengeluh, walaupun dengan kondisi kami yang terbilang miskin, kenapa aku mengatakan bahwa keluargaku miskin, ya, tak lain dan tak bukan karena setiap orang yang menerima bantuan beras pemerintah (Raskin) merupakan masyarakat yang tergolong miskin. 

Rikus bekerja sebagai kuli bangunan di desa, tetapi kadang juga tak menetap, hitung-hitung bisa mencukupi kehidupan. Sedangkan saya sebagai seorang penjual kue keliling, sekaligus pencuci pakain ( bisa disebut laundry, cuman mencucinya secara manual, yaitu dengan tangan saja ). Setelah menjelaskan pekerjaan, aku ingin melanjutkan cerita tentang suamiku yang pergi meninggalkan aku dan kedua putri cantik kami. 

Suamiku menderita penyakit leukemia atau kanker darah yang selama bertahun-tahun ia tutupi, sampai pada suatu ketika saat rikus pamit untuk pergi bekerja, ia tiba-tiba jatuh pingsan di depan pintu rumah, dan saking paniknya, aku meminta bantuan kepada tetangga terdekat untuk meminjamkan mobil dan membawa suamiku ke rumah sakit.  Setelah sampai, tenaga medis dengan cekatnya membawa rikus ke ruangan UGD dengan tempat tidur beroda. Selang beberapa menit setelah pemeriksaan, wanita dengan jubah putih itu datang menghampiriku.

“Maaf, apakah anda keluarga dari pasien?” kata dokter tersebut.
“Iya dok, saya istrinya.” Jawabku sembari meletakan tangan di dada sebagai suatu tanda membenarkan diri.
“Baiklah jika demikian, silahkan ibu bersama saya ke ruangan, ada sedikit yang ingin saya sampaikan. ” Tutur dokter cantik itu sembari tersenyum ramah.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku kemudian mengikuti dokter tersebut menuju ke ruangannya.  Setelah sampai di depan pintu, aku merasa batinku tak tenang dan jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Oh Tuhan, entah apapun pernyataan dokter mengenai penyakit suamiku, aku siap menerima dengan hati yang lapang. “ gumamku dalam hati sembari gigi yang tak habis-habisnya mengigit bibirku.
“Halo ibu, kenapa bengong? Ayo silahkan masuk!”

Arggh kacau, ini semua Karena aku terlalu mengkhawatirkan rikus, maklum saja karena aku adalah istinya dan dia adalah tulang rusukku yang diciptakan Tuhan dan menjadi bapak dari kedua putri cantikku.

Sambil mengatur nafas dan melangkah masuk ke ruangan, hingga mengatur posisi duduk yang benar, saya siap mendengarkan apapun yang dikatakan dokter.

“Selamat pagi ibu, sebelumnya saya ingin bertanya, sejak kapan pasien atas nama rikus mengalami keluhan serta pingsan seperti ini?”

“Selamat siang dok, sebenarnya ini kali pertama suami saya jatuh pingsan, kalau soal keluhan saya rasa ia hanya mengeluh dengan sakit kepala biasa, untuk hal lain tidak pernah.” Jawabku dengan nada yang meyakinkan.

“Maaf ibu, setelah diperiksa dan hasil medis menyatakan bahwa pasien menderita penyakit leukemia atau kangker darah yang sangat akut. Kangker darah merupakan  penyakit yang disebapkan akibat kelebihan sel darah putih atau leukosit dibandingkan dengan sel darah merah yang ada di dalam tubuh”.

Sungguh, ini merupakan sebuah pukulan yang amat sangat berat dalam hidupku, ketika orang yang kita sayangi mengalami penyakit yang begitu mematikan. Rasanya ingin berteriak sekeras mungkin hingga semesta menciptakan keajaiban, walaupun sebenarnya aku benci kebisingan dan kegaduhan.

“Dok, apa ada cara untuk menyembuhkan penyakit tersebut?” sahutku dengan nada yang sudah mulai tak jelas didengar.

“Pastinya ada bu, tetapi tidak menjamin. Penyakit ini bisa sembuh jika mengonsumsi obat, juga ada yang mau mendonorkan sum-sum tulang belakangnya dan … “

Tanpa mendengar penjelasan lagi, aku langsung memotong pembicaraan dokter.
“Dok, ambil saja sum-sum tulang belakangku, aku siap jika hari ini juga akan dioperasi. Yang terpenting suamiku sembuh”.

“Tidak segampang itu bu, sum-sum tulang belakangnya harus identik dengan punya pasien, sekalipun itu adalah keluarga kandung, namun tidak menjamin, juga  untuk kesembuhannya sangat tipis, hanya sebesar 70-80% saja dan masih memungkinkan untuk kambuh lagi. Jika ibu bersedia, ibu harus melakukan beberapa pemeriksaan, yaitu tes darah lengkap hingga pemeriksaan DNA. Tetapi perlu dipikirkan juga, orang yang bersedia mendonorkan sum-sum tulang belakangnya tersebut akan berisiko terhadap hidupnya”.

“Saya tidak memperdulikan risiko yang akan terjadi, karena memang aku sudah berjanji kepada Tuhan di hari pernikahanku dulu untuk sehidup semati dalam suka dan duka, bahkan menyerahkan nyawa sekalipun. Ya aku siap jika harus diperiksa sekarang dok.”  Kataku memohon.

“Baiklah bu, namun tidak secepat yang ibu bayangkan, esok aku akan mengusahakan untuk memeriksanya. Sebainya sekarang ibu harus melihat kondisi suami ibu, kasihan ditinggal sendirian.” Kata dokter tersebut dengan nada yang berusaha menenangkan sukmaku.
“Baiklah dok, terima kasih.”

Setelah keluar dari ruangan dokter dan menuju ke ruangan UGD, perawat telah memberi tahu bahwa rinus akan rawat nginap dan dipindahkan ke ruangan melati no 2. Setelah menuju ke ruangan tersebut, perawat memulai memasang infus di pergelangan tangan suamiku. Aku begitu merasa sakit, walaupun rikus tak menjerit atau mengungkapkan raut wajah yang sakit ketika jarum tersebut mengenai kulitnya. 

Sungguh pria yang perkasa, aku juga tahu, jangankan jarum yang terbilang kecil, benda keras seperti besi dan sejenis barang berat lain yang melukai kulit tubuhnya, ia tak pernah merintih sepulang kembalinya ke rumah. Setelah perawat menyelesaikan tugasnya, mereka memberi tahu agar pasien beristirahat. Di ruangan tersebut hanya ada aku dan rikus, sementara 3 tempat tidur di sebelahnya belum diisi atau karena pasienya sembuh dan dibolehkan pulang.

“Gina maaf, aku telah menyembunyikan semuanya kepadamu dan keluarga besar kita mengenai penyakit yang aku derita, karena sejujurnya”.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mencium bibirnya untuk membungkam semua obrolan yang menyakitkan tersebut. Kemudian aku teersenyum dan berbisik di telingahnya bahwa semua akan baik-baik saja.

Keesokan hari, tanpa sepengetahuan Rikus, aku pergi ke laboraturium untuk mengambil darah dan melakukan tes DNA. Namun sangat disayangkan, setelah hasilnya keluar, sempelnya tak cocok.

“Aku harus mencarinya dimana lagi? Tidak mungkin ada orang yang bersedia memberikan dengan iklas bagian terpenting dalam tubuhnya untuk kehidupan orang lain. Itu semua nihil, apalagi aku tak punya uang, rumah sakit dan obat-obatan suamiku saja gratis, karena aku menggunakan kartu kesehatan. Kali ini satu-satunya cara yang kulakukan adalah dengan berdoa dan meminta keajaiban.”

Selang dua minggu di rumah sakit, kondisi Rikus semakin menurun, dan pada hari senin, tepatnya tanggal 11 januari 2017, suamiku menghembuskan nafas yang terakhir, sebelum ia meninggal, ia berpesan untuk merawat kedua putri kami dengan baik dan berusaha untuk menyekolahkan mereka agar tak menjadi seperti kita (aku dan suamiku). 

Kini jiwa suamiku telah terpisah dengan raga, jasadnya termakan tanah, dan bumi tak mengijikan ia lagi untuk tetap tinggal. Walaupun sakit, aku akan menerimanya, aku tahu pasti suamiku sudah terbebaskan dari penyakit dan menghidupi kehidupan yang kekal.

“Tuhan terima kasih sudah menghadirkan lelaki sempurna seperti Rikus,walaupun hanya dengan waktu yang singkat, tetapi aku bisa merasakan suamiku tetap ada, lewat perantara dua putri kecil kami.” Gumamku sambil mengadah pada langit biru.

Enam bulan setelah kepergian suamiku, aku memutuskan untuk pergi merantau ke Kalimantan. Sekarang aku bisa bekerja di salah satu pabrik ternama dengan gaji yang cukup memuaskan dan mengirim sebagiannya ke desa. Sisahnya aku gunakan untuk menabung  ke bank dan biaya makan.

Itulah perjalanan hidupku, namun aku tak pernah mengeluh. Karena aku punya tanggung jawab yang besar. Walaupun sebagai seorang janda, jika ditanya mengenai siap atau akankah menjalin hubungan yang baru dengan pria lain di perantauan?, jawabanya tidak. karena aku mencitai suamiku. Entah kenapa atau sampai kapan, aku tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, yang pasti sampai jiwa terpisahkan dari ragaku.*

Oleh: Rista Wagur

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,7,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,9,Imlek,1,In-Depth,18,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,104,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1386,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,26,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Perjalanan Hidup Gina Si Janda Desa
Perjalanan Hidup Gina Si Janda Desa
https://4.bp.blogspot.com/-ixHvvdxB2IQ/XJSZaqJT7eI/AAAAAAAAAik/aRW5F77wmz48D_tnzwicCGbtsjnheX4KACLcBGAs/s320/images.jpeg
https://4.bp.blogspot.com/-ixHvvdxB2IQ/XJSZaqJT7eI/AAAAAAAAAik/aRW5F77wmz48D_tnzwicCGbtsjnheX4KACLcBGAs/s72-c/images.jpeg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2019/03/perjalanan-hidup-gina-si-janda-desa.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2019/03/perjalanan-hidup-gina-si-janda-desa.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy