Nikolaus Loy: Pemerintah Perlu Serius Mengembangkan Biofuel
Cari Berita

Nikolaus Loy: Pemerintah Perlu Serius Mengembangkan Biofuel

24 March 2019

(Foto: Nikolaus Loy)

YOGYAKARTA, marjinnews.com - Nikolaus Loy dalam diskusi yang diselenggarakan oleh IPD (The Indonesian Power For Democracy), pada Jumat (22/03) lalu, mengatakan, dengan menggunakan komoditas sawit perlu adanya sebuah kebijakan yang kemudian kita bisa membuat biodiesel untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

"Bagaimana sawit bisa menjadi pintu masuk bagi dua tujuan sekaligus yang pertama soal ketahanan energi dan pemberdayaan ekonomi petani. Ditengah ancaman krisis energi pada produksi minyak dan impor yang semakin kuat, kita sedang berupaya keras untuk menciptakan peran energi nasional dimana pada tahun 2025 itu produksi energi terbarukan mencapai 23%. Sawit itu lahan dasar untuk pembuatan biodiesel dan pikiran saya adalah bahwa dengan menggunakan komoditas sawit maka dicari sebuah model kebijakan yang dimana kita bisa buat biodiesel untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar minyak" terangnya. 

Pada saat bersamaan menurut dia proses ini memberikan keuntungan bagi petani kecil, jadi perlu ada model organisasi serta pengelolaan yang menggabungkan dua tujuan sekaligus. Apalagi ditengah situasi dimana CPO dilarang oleh Uni Eropa dengan alasan bahwa produksi CPO itu menyebabkan disforestasi yakni kerusakan lingkungan sehingga kemudian ada kegoncangan mengenai kemana produksi sawit akan dijual kalau kemudian Uni Eroa benar-benar melarang CPO.

Menurut Niko, pemerintah perlu serius mengembangkan biofuel untuk mengambil alih dalam rangka mengatasi persoalan berhentinya ekspor pasar Eropa.

"Persoalan itu bisa dijawab dengan usulan saya yakni pemerintah perlu dengan serius mengembangkan biofuel untuk mengambil alih untuk mengatasi persoalan berhentinya ekspor pasar Eropa sehingga kemudian produksi sawit yang sudah ada tetap berjalan serta perusahaan dapat keuntungan dan mempekerjakan masyarakat" terang Nikolaus.

"Tetapi masyarkat kecil juga menikmati pendapatan karena ada keberlangsungan dari krisis ekonomi yang terjadi ketika sawit kemudian digunakan sebagai bahan biofuel. Sebenarnya sudah digunakan akan tetapi hanya berkisar 20%, harapan kami mencapai 60%. Petani yang sudah terlanjur menanam sawit tetap dilanjutkan" lanjut dosen HI UPN Veteran tersebut.*

Laporan: Viky Purnama