Masyarakat Manggarai Barat Dihimbau untuk Tetap Waspada Terhadap Bencana oleh BMKG
Cari Berita

Masyarakat Manggarai Barat Dihimbau untuk Tetap Waspada Terhadap Bencana oleh BMKG

9 March 2019

Foto: tribunnews.com
LABUAN BAJO, marjinnews.com - Delapan orang meniggal akibat Bencana banjir dan longsor menerjang Kecamatan Komodo dan Kecamatan Mbliling, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (7/3) pukul 07.00 WIT, setelah sebelumnya hujan deras turun di daerah tersebut. Kondisi topografi perbukitan dan tanah yang labil memicu terjadinya banjir dan longsor.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat (8/3) kemarin petang menyebutkan, akibat banjir dan longsor 8 orang meniggal dan tiga orang menderita luka-luka.

Kedelapan korban itu merupakan warga yang menghuni dua rumah yang tertimbun tanah longsor. Tim gabungan terus menggali timbunan tanah, tapi belum berhasil menemukan korban lain yang masih tertimbun.

Selain itu, kerugian material yang sudah terdata sejauh ini meliputi 3 rumah rusak berat, 1 unit jembatan rusak, 2 unit sepeda motor tertimbun longsor, 1 unit kios rusak berat, dan ruas jalan raya Ruteng-Labuan Bajo lumpuh akibat tertimbun longsor.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai Barat Hans Mboik mengatakan, tim pencarian korban longsor di Manggarai Barat masih terkendala alat untuk mencari dan mengevakuasi korban yang masih tertimbun material longsor. 

"Saat ini tim pencarian yang terdiri dari BPBD Manggarai Barat, TNI, Polri sudah turun ke lokasi longsor, tapi tim kesulitan mencari dan mengevakuasi korban karena kesulitan alat," katanya kemarin petang WIT.

Hambatan lain berupa komunikasi yang terbatas karena sinyal telepon genggam sering tidak tertangkap karena lokasi bencana kebanyakan merupakan daerah blankspot sinyal. Pendataan masih dilakukan BPBD. Longsor terjadi lebih dari 20 titik yang juga berdampak pada putusnya akses jalan nasional di daerah itu. 

"Seperti di ruas jalan nasional yang menghubungkan Ruteng-Labuan Bajo. Sekarang sementara dilakukan pengerukan untuk membuka akses jalan darurat," ujarnya.

Banjir juga mengakibatkan dua jembatan di jalur jalan nasional yang menghubungkan Kota Labuan Bajo, Ibu Kota Manggarai Barat dengan daerah lain di Pulau Flores putus total. Untuk itu, BPBD terus melakukan upaya penanganan di lapangan serta mendata jumlah kerugian akibat bencana banjir dan tanah longsor tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun EL Tari Kupang meminta masyarakat Manggarai Barat untuk tetap waspada terhadap bencana banjir dan tanah longsor karena berdasarkan prakiraan cuaca, wilayah tersebut masih berpotensi hujan deras disertai petir hingga Sabtu, (9/3) malam WITA.

"Hari Jumat (8/3) hingga Sabtu (9/3), wilayah Manggarai Barat masih berpotensi hujan disertai petir mulai siang hingga malam hari," kata Kepala BMKG Stasiun El Tari Bambang Santiajid.

Sementara itu Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Balai Pelaksana Jalan Nasional wilayah 3 NTT Kementerian PUPR Ori Papote mengatakan untuk membuka kembali akses jalan, pihaknya sudah menurunkan sejumlah alat berat ke lokasi.

“Kami sudah turunkan alat berat ke lokasi untuk mengerus longsor di jalan. Sementara itu untuk jembatan yang rusak, akan kami buatkan dulu jembatan darurat sehingga akses transportasi lancar kembali,” tambah dia.

Di tempat lain di ujung timur Pulau Flores, banjir bandang menerjang permukiman warga di Desa Sinar Hading, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Pulau Flores, Kamis (8/3) malam WIT. Akibatnya, 11 rumah warga dilaporkan rusak.

Sementara itu, dua kecamatan di Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat terisolasi akibat longsor yang memutus akses jalan menuju daerah itu. 

"Terisolasi akibat akses jalan menuju kawasan itu terputus," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Mamasa Daud Sattu. (ANTARA/MN)