Kisah Derita Si Petualang
Cari Berita

Kisah Derita Si Petualang

MARJIN NEWS
14 March 2019

Gambar: Ilustrasi


Alkisah  ada sesorang pemuda, sebut saja namanya adalah Nino. Nino adalah murid kelas X (sepuluh), yang ada di salah satu SMA di kota Ruteng. Waktu itu hari kedua Masa Orientasi Siswa (MOS) semua murid kelas X kumpul di halaman depan sekolah, ada hal yang hendak kepala sekolah sampaikan. Saat sedang berkumpul, Nino melihat lihat gadis cantik  (sebut saja nama gadis itu Jesi) yang berdiri disampingnya.  Karena itu dia merasa bahwa gadis itu adalah pengikat hatinya. Lalu diam-diam dia mulai mendekati gadis itu. Di situlah awal mula terjadi perkenalan Nino dan Jesi.

Tanpa pikir panjang Jesi pun juga sangat mengaggumi Nino, dan akirnya mereka pun memutuskan untuk menjalani kisah asmara (pacaran), walaupun mereka sama-sama  masih duduk di bangku SMA kelas X.

Seiring berjalanya waktu. Kelas X mereka telah lewati. Dan Kelas XI (sebelas) pun juga mereka lalui. Suka duka pun selalu menyelimuti pasangan asmara mereka. Mereka bertekad dan berniat akan bawa hubungan itu ke plaminan. Dan saat itu mereka sudah di bangku kelas XII (dua belas), hampir tiba ujian akhir. Setelah selesai Ujian Nasional (UN), mereka bertemu untuk terahir kalinya. Karena Nino hendak mau pergi merantau keluar daerah setelah lulus SMA.

Setelah pertemuan itu berakhir Nino pun berkata kepada kekasihnya itu Jesi, "sayang, aku mau ke Makassar dan nanti aku akan kembali. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu. Tapi aku pergi untuk memperbaiki kehidupan kita nanti." Begitulah ungkapan si Nino.

Selang beberapa hari, Nino pun pergi meninggalkan tanah Manggarai dan merantau ke Makassar.

Setelah satu tahun lamanya Nino dan Jesi menjalani bubungan jarak jauh atau sering disebut LDR. Rasa rindu menyelimuti hati dan pikiran mereka berdua.

Suatu ketika Jesi hendak dan berniat untuk menelpon Nino. Dalam pembicaraan mereka, Jesi ingin mengatakan yang sesungguhnya bahwa ia sudah punya pilihan oleh orang tuanya. Dan dia mau memutuskan untuk menikah dengan laki-laki yang orang tuanya jodohkan.

Mendengar perkataan itupun Nino frustasi, karena harapan yang selama ini mereka janjikan hanya tinggal kenangan. Akhirnya Nino memutuskan untuk kuliah sambil berkerja.

Seiring berjalanya waktu, enam bulan sudah Nino lalui tampa kabar dari kekasih hati yang telah menghianati dia. Waktu itu hari minggu telah tiba, ia memutuskan untuk pergi ke Gereja untuk meminta kepada  Maha Pencipta untuk memberikan dia jodoh. Karena sudah enam bulan dia telah berlalu dengan kesendirianya.

Tidak lama lagi setelah itu, tiba saatnya dia menemukan tambatan hati yang barunya. Seorang gadis cantik yang sedang kuliah di kampus ternama di kota Makassar. Perempuan itu bernama Ina. Selain parasnya yang cantik, Ina adalah seorang putri tunggal, anak keluarga yang tergolong kaya (terpandang) di kampungnya. Lalu hari-hari mereka menjalani hubungan pacaran hampir tiga tahun lamanya.

Pada saat itu perempuan yang bernama Ina mau wisuda di kampusnya, karena dia  D lll kebidaan maka ia kuliah hanya tiga tahun. Saat itu sebelum Ina wisudah, dia jatuh sakit. Sakit yang sangat para dan harus di rawat di rumah sakit. Setiap hari Nino selalu menemani Ina di rumah sakit. Tiba saatnya, esoknya Ina mau wisudah tetapi sakitnya pun belum juga sembuh. Akirnya si Nino berbisik kepada si Ina. Lalu Nino berkata: sayang.. kamu harus sembuh karena esok kamu wisuda. Tampa ada satu katapun dari mulutnya Ina, dia hanya berlinar air mata hampir membasahi seluruh pipinya.

Tidak lama setelah bisikan dari Nino tadi, satu keajaiban untuk Ina. Ina berbicara walaupun hanya beberapa kalimat, lalu Ina berkata: Sayang.. Kamu pergilah ke kampusmu. Kamu pasti cape seharian menjagaku. Itulah perkataan terakhir yang di bicarakan oleh Ina untuk Nino.

Kemudian Nino menjawab, baiklah sayang aku akan pergi tapi aku akan kembali nanti pulang kampus, saya harap kmu akan baik-baik saja sayang.
Tampa menjawab perkataan dari  Nino, Ina pun hanya berlinang air mata. Lalu Nino pun pergi, tinggalkan Ina. Kini Nino harus kembali ke kontrakannya hendak mau menyiampkan beberapa kebutuhan mau ke kampus.

Saat Nino melangkah mau ke kampus, si Nino pun di hampir salah satu keluarga dari Ina. Lalu lelaki itu berkata kepada Nino, sekarang kamu harus kembali ke rumah sakit karena Ina sudah tiada lagi di dunia ini.

Tanpa pikir panjang, Nino langsung berangkat ke rumah sakit. Sampainya di sana ia melihat si Ina  sudah ada di kamar jenasa. Saat melihat itu hatinya pun mulai sakit. Harus kehilangan cinta untuk kedua kalinya, rasa piluh campur aduk di hati Nino.

Ucapan belah sungkawapun hanya ia terima dari mulut teman-temannya.
Hampir satu tahun sudah berlalu kini Nino memasuki semester akhir yaitu semester delapan, karena kesibukannya yang padat ia lupa tentang si Ina.

Setelah selesai semua tugas akhir dari kampusnya, Nino pun menemukan lagi tambatan hatinya. Dia seorang gadis cantik yang bernama Amira orangnya cantik, baik, dan pemalu.
Seiring berjalanya waktu, mereka dua pacaran biasa saja. Suatu ketika Nino sudah wisudah. Dan memutuskan untuk pulang ke Manggarai tempat asalnya. Sampai di Manggarai dia memiliki pekerjaanya sesuai bidang apa yang dia ambil waktu kuliah.

Hari demi hari telah berlalu  untuk sekian kalinya lagi Nino harus menjalani bubungan jarak jauh.
Tiga bulan lamanya mereka terpisa karena jarak. Pada saat itu, ada satu terjadi yang aneh pada Amira.

Amira ternyata hamil. Yang menghamili Amira itu bukan Nino, melainkan temannya Nino sendiri. Mendengar berita itu Nino pun, meresa kehilangan cinta untuk ke tiga kalinya.
Saat itu juga setelah dia merasa kecewa yang ketiga kalinya, ahirnya Nino pun menutuskan untuk tidak mau pacaran walapun perempuan secantik apapun.

Akirnya dari itu Nino pun berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak mau jatuh cinta lagi. Karena baginya Cinta itu menyakitkan. Nino pun berkata hanya seorang ibu saja yang terbaik di dunia ini. Lebih baik saya mencintai ibu saya sendiri daripada mencintai perempuan yang belum tentu mencintai saya, seperti ibu mencintai saya.


*Penulis: Oktavianus S. Jebaut dan Arifanus Apur*

 *Catatan: Mohon maaf bila ada kesamaan nama, dan tempat, karena cerita ini berangkat dari teman kami yang pernah mengalami seperti itu.*