Kesuksesanku Sebagai Desainer

(Foto: Rista Wagur)

Saat itu, awan cumulonimbus dan angin sedang manjanya menguasai kota metropolitan, dan hiruk pikuk politik mulai tercium baunya dimana-mana, tiap partai menguncang jalanan dengan suara dan tikah yang begitu membuai masyartakat. 

Hal ini sudah biasa di kotaku, primus interpares atau pemimpin ingin memperoleh singgasana dengan berbagai cara. Propaganda dan retorika yang semakin membius dengan berbagai rumus. Namun sayang, di kota metropolitan ini sederetan rakyat kecil dengan berbagai kekurangan finansial tak pernah dihiraukan. Apakah yang terjadi dengan negeri ini? ah rasanya tiap pemimpin hanya duduk menyaksikan dunia yang hancur ini dengan bertopang dagu dan mencicipi sajian nikmat para budak. Berbicara tentang masyarakat kecil yang tak dihiraukan, tak perlu jauh mata memandang, karena salah satunya ada di sini, ya aku, aku yang bangkit dari dunia luar yang kelam itu, hingga pada kesuksesan usahaku sebagai desainer mulai tercatat di kota ini, atau istilah kerennya sedang naik daun. Sebenarnya jangan salah dimengerti, naik daun bukan berarti aku harus mengumpulkan dedauan dari hutan untuk kunaiki. Sudahlah aku rasa semua pasti mengerti dengan istilah yang satu ini, tanpa perlu aku menerangkan sedetail mungkin ke dalam bidang linguistik. Karena yakin dan percaya pasti kalian juga tak mengerti jika aku membahasnya ke dalam tulisan ini. bukanya bermaksud menyombongkan diri, tetapi , ah sudalah kita kembali ke cerita. 

Tet, tet, tet… bunyi klakson mobil itu membuatku tersentak seketika dan tubuh kehilangan keseimbangan, hingga  mengakibatkan sikuku berdarah. 
“Edan, edan , bisa-bisanya seperti ini, dasar pengemudi tak tahu aturan.” Teriaku sambil merapikan buku yang tercecer di jalanan.
” woe nona, kalau menyebrang usahakan  harus fokus, untung saja mobilku tak sampai menabrakmu.” Teriak seseorang dari dalam mobil sedan merek internasional itu.
“maaf pak, maaf”. Sahutku sembari melirik mobil yang tanpa pedulinya tetap melaju dengan cepat.

Setelah selesai merapikan buku yang tercecer, sambil berlari kecil, aku menuju ke halte untuk menunggu bus kampus, biasanya bus tersebut dikhususkan untuk mahasiswa tanpa memungut biaya sepeserpun atau gratis, tetapi syaratnya adalah dengan menunjukan kartu mahasiswa pada layar monitor yang terdapat pada pintu masuk. Pada bagain ini juga tak lupa aku berterima kasih pada pemerintah untuk bus geratisnya, namun terbilang tak cukup, karena kapasitas bangkunya hanya 20 orang saja, sementara hampir tiap hari diperkirakan 100-an mahasiswa yang menunggu kendaaraan untuk ditumpangi.

Ya begitulah dengan kotaku, selain hiruk pikuk politik, persedian bus kampus yang minim, serta banyak dari pengemudi yang dengan senaknya menerobos giliran pejalan kaki untuk melitasi jalan, entah karena kesibukan atau mengejar deadline pesawat, tapi masa ia sih, tiap hari melakukan hal yang sama, atau jangan-jangan moral dari tiap orang sudah tak digunakan lagi dalam bertindak, sementara ini menyangkut hidup dan mati. Tetapi, ini mungkin tidak terlalu ekstrim jika dibandingkan dengan usaha kecil yang sudah aku rintis selama lima bulan dan berhadapan  dengan pengunjung sekaligus pembeli yang rasa-rasanya mengajakku untuk menghilangkan nyawa mereka akibat ulah yang sangat menyayat hati. Setelah dipikirkan juga, eh ini semua adalah ujian, ujian yang bukan berupa teks tertulis seperti dalam forum pendidikan. Oh ia aku sampai lupa memperkenalkan siapa aku, bagaimana hidup dan usaha serta kisah cintaku? Hahah jangankan kisah cinta, usaha yang aku bangunpun terasa begitu rumit,tetapi sebenarnya sih aku adalah seorang gadis jomblo, kenapa jomblo? Karena aku terlalu berkelas untuk dimiliki oleh seseorang. Berbicara tentang jomblo, aku sampai lupa dan serba salah ingin memperkenalkan diri. Sebenarnya aku adalah seorang desainer dan sekaligus seorang mahasiswa fakultas hukum di salah satu kampus negeri yang ada di Jakata. Namun karena hobi dan keterbatasan finansial, aku memutuskan untuk mengasah kemampuanku yang awalnya  bermula dari merancang model-model pakaian kampus, baik itu baju kemeja, rok, dan celana. Awalnya masih terbilang norak, karena jari-jari tanganku sangat kaku menuangkan ide dalam sebuah kumpulan kertas gambar, sejujurnya juga di kampus, tanganku keseringan memegang palu yang digunakan tiap praktik (biasa mahasiswa fakultas hukum), yang katanya dengan ketukan palu bisa membuka rapat, mengesahkan sesuatu dan masih banyak lainnya.  Kalau mau lebih tahu, ke fakultas hukum atau berpacaran dengan mahasiswa/i hukum (awas jangan mudah termakan rayuan). Maaf aku sudah bertingkah hiperbola, tetapi itu adalah bagian dari apa yang harus kalian ketahui. Setelah lama berlatih dan mencari sumber agar bisa menunjang hobi tersebut, akupun nekat mendisain gaun pesta, tujuannya bukan untuk dijual, tetapi  digunakan sendiri pada malam penutupan ospek, dari pada harus membeli dan dari mana aku harus mendapatkan uangnya? Bayangkan saja harga sebuah gaun bisa mencapai nominal juta. Boro-boro membeli gaun, ke kampus saja aku harus bangun pukul 04.00 pagi dan menghadapi benda buatan manusia yang mempunyai roda (mobil, dan motor) yang tak mau mengalah di jalanan, itu semua demi mendapat tumpangan geratis. Sungguh melarat bukan ? namun aku tak mau meratapi hal tersebut, selagi aku punya Tuhan dan aku punya hobi yang bisa mendatangkan uang, jadi tidak salahnya aku mengembangkan bisnis tersebut, walaupun masih tebilang sangat sederhana. 

Dan sampailah pada saat malam penutupan ospek, gaun pesta yang tadinya didesain sudah selesai di jahit dan siap di pakai, dengan wajah yang sedikit dipoles make up, rambut dibiarkan terurai, sepatu hitam hak tinggi dan gaun berwarna putih, sungguh aku terkesan bak putri raja yang hendak mengikuti sayembara mendapatkan pangeran gagah perkasa dari kerajaan tetangga. Bukannya mau memuji diri, tetapi kali ini semua teman-teman bahkan dosenpun tak segan-segan mengucapkan kata yang membuatku hampir terbang seperti kupu-kupu, apalagi pada acara tersebut aku dipercaya menjadi Master Of  Ceremony (MC), tak salah jika aku menjadi pusat perhatian dari tiap mata yang memandang.

Dari malam penutupan ospek tersebut, aku sungguh merasa puas dan bangga, kemudian dengan rasa percaya diri yang tinggi, aku mulai merancang model-model yang baru dengan berbagai pesanan dari teman-teman, serta tetangga di sekitar tempat tinggalku. usahaku sedikit melonjak, hingga kamar kospun, aku jadikan tempat tinggal sekaligus tempat membuka usaha, tak lupa pula aku gunakan handphone untuk  mempromosikan semuanya di media sosial. Walaupun harganya masih terbilang murah meriah, tapi setidaknya modal yang digunakan bisa kembali serta laba keuntungannya mampu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah.  Namun setelah sebulan, aku merasa kamar kosku terlalu sempit jika memajang semua kostum (rok, baju, celana, gaun) yang akan dijual, juga pelanggan tidak leluasa untuk melihat barang yang ingin dibeli, kemudian akupun menyewa sebuah bangunan kecil untuk dijadikan butik dan beberapa orang karyawan untuk dipekerjakan. Puji Tuhan, usahaku sukses atau istilah keren yang aku katakan di awal adalah sedang naik daun.*


Oleh: Rista Wagur

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,6,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,In-Depth,15,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,102,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1373,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,14,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Kesuksesanku Sebagai Desainer
Kesuksesanku Sebagai Desainer
https://2.bp.blogspot.com/-vYJNNCV3xAY/XHo-NBXzzdI/AAAAAAAAAhY/cIcCvaOFVLMs-9PXu_gNidZWjCwQPYvlACLcBGAs/s320/IMG-20190227-WA0011.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-vYJNNCV3xAY/XHo-NBXzzdI/AAAAAAAAAhY/cIcCvaOFVLMs-9PXu_gNidZWjCwQPYvlACLcBGAs/s72-c/IMG-20190227-WA0011.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2019/03/kesuksesanku-sebagai-desainer.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2019/03/kesuksesanku-sebagai-desainer.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy