Berpolitik Harus Mendalami Makna
Cari Berita

Berpolitik Harus Mendalami Makna

MARJIN NEWS
3 March 2019

Foto: Dok. Pribadi
OPINI, marjinnews.com - Lemahnya stabilitas politik di negara kita bukanlah fenomena langka dari dinamika berpolitik itu sendiri. Berbagai dinamika berpolitik tidak jarang menyimpang dari jalur dan arah yang semestinya (out of the track). Hal ini mengakibatkan dangkalnya makna dari aktivitas berpolitik. Makna politik sebagai proses menata kehidpan bersama berubah menjadi proses menata kepentingan untuk mewujudkan ambisi pribadi atau kelompok tertentu. 

Hal ini tidak jarang mengakibatkan dinamika politik Indonesia selalu dihiasi oleh berbagai persoalan dan rekayasa kepentingan yang tidak bermutu. Kebiasaan saling serang kubu atau sipatisan antar partai politik semakin menjadi-jadi. Politik sudah menjadi ‘lahan subur’ tumbuhnya aktivitas berpolitik yang tidak sehat. Lawan politik dijadikan musuh, dan karena itu harus dikalahkan.

Sementara di sisi lain, politik terancam kehilang ‘rasa’. Politik terasa hambar oleh berbagai kepentingan yang tidak mengedepankan nilai dan tujuan luhur bangsa. Politik seharusnya mengedepankan keindahan paradikma, bukan kepalsuan; kedalaman refleksi, bukan kedangkalan letupan-letupan profokatif; rasionalitas bukan emosionalitas; strategi, bukan intimidasi; dan kecerdasan bukan manipulasi (Riyanto, 2014). Pelaku politik yang hendak ‘berpentas’ secara sehat dalam panggung politik seharusnya menyadari hal ini. 

Realita yang terjadi di negara kita ternyata belum mencapai taraf yang demikian. Baik makna maupun rasa dari aktivitas berpolitik itu rasa-rasanya masih dangkal dan hambar. Memang, kelihatannya beberapa pelaku politik berusaha mendalami makna dalam berpolitik. Tetapi toh kelihatan juga dari tindakan praktis mereka yang mudah terpancing emosi dan profokasi. Tidak jarang ada yang tergoda menjadi profokator bersenjatakan ujaran-ujaran yang kedengarannya kurang harmonis dan tidak menampilkan kualitas dan kecerdasan berpolitik.

Jika halnya demikian, kita perlu mengkritisi di mana letak kekurangan yang selalu menggerogoti peradapan politik bangsa kita? Saya kira kekeliruan yang perlu dibenah dalam diri setiap pribadi bangsa Indonesia ialah penghayatan akan kedalaman makna, tujuan dan nilai luhur dari dinamika berpolitik itu sendiri. Sebab peradaban politik akan semakin meningkat bila para politikus dan siapapun yang terlibat di dalamnya sungguh-sungguh menyadari makna, tujuan dan nilai luhur dari setiap aktivitas politik mereka. 

Berpentas dan berkolaborasi dalam panggung politik tidak cukup mengandalakan modal dan keberanian. Berpolitik tidak cukup mengandalkan kemampuan dalam beretorika, apalagi gaya beretorika tanpa mengadalkan kebenaran dan kepastian. Berpolitik membutuhkan kesadaran dan kepekaan, serta kepedulian dan komitmen dalam mewujudkan kesadaran itu. Kesadaran yang dimaksudkan ialah kesadaran akan situasi, keadaan dan nasib negara dan bangsa Indonesia secara keseluruhan, bukan sebagian.

Berbagai praktik atau tindakan koruptif yang dilakukan oleh oknum pejabat atau kelompok tertentu mencerminkan lemahnya kesadaran akan tujuan dan nilai luhur dari aktivitas berpolitik di negara kita. Selain itu, penyebaran hoax dan isu-isu manipulatif yang diciptakan demi kepentingan orang atau kelompok tertentu, juga merupakan bukti dangkalnya kesadaran para politikus untuk mewujudkan cita-cita luhur dalam mencerdaskan bangsa ini. Para politikus tidak terkecuali menjadi bagian dari praktik anomali ini.

Lantas apa yang akan terjadi bila para pelaku politik di negeri ini tidak mengindahkan kesadaran dan tujuan luhur dari aktivitas politiknya? Saya kira hal ini akan mengakibatkan memudarnya harapan akan peningkatan peradapan politik di negeri ini. Sebagai akibatnya, hal ini berdampak pada merosotnya peradapan dalam proses tata kelola hidup bersama.

Tidak menutup kemungkinan juga akan berdampak buruk pada harapan akan peningkatan kesejahteraan bangsa. Menjelang pilpres dan pileg, tepatnya pada 17 April mendatang. Kita diajak untuk aktif dan kritis dalam memilih para politikus yang akan memimpin bangsa ini ke depan. Kita  harus menjadi pemilih yang cerdas, kritis dan bijaksana dengan memilih calon-calon yang mengedepankan makna dan tujuan luhur dalam dinamika politiknya. Setidaknya dengan cara demikian, kita menaruh harapan besar pada peningkatan peradapan politik negara kita di masa yang akan datang.


Oleh: Bonifasius Jagom
Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang