Anak-anak Terdampak Bencana di Kampung Culu Butuh Perlengkapan Sekolah
Cari Berita

Anak-anak Terdampak Bencana di Kampung Culu Butuh Perlengkapan Sekolah

15 March 2019

Foto: BNPB
LABUAN BAJO, marjinnews.com - Bencana tanah longsor di Kampung Culu, Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat beberapa waktu lalu masih menyisahkan beberapa persoalan.  Selain menimbulkan korban jiwa dan terputusnya akses menuju Labuan Bajo dari arah Ruteng, bencana tanah longsor menyebabkan beberapa keluarga harus mengungsi ke tempat lebih aman pasca bencana.

Hingga Jumat (15/3/2019) berbagai jenis bantuan dari sekian banyak orang yang peduli dengan bencana di Mabar ini sudah sampai ke tempat bencana. Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Desa Tondong Belang, Fransiskus Severius Fedi. Namun menurut dia, bantuan yang datang masih sangat minim terutama untuk kebutuhan lauk pauk serta perlengkapan sekolah untuk anak-anak terdampak bencana.

"Bantuan yang masih sangat kurang adalah lauk pauk. Misalnya ikan kaleng atau ikan kering dan sayur mayur. Kebutuhan Balita memang ada tetapi belum cukup, antara lain susu, pempers dan yang lainnya. Anak-anak sekolah juga butuh buku tulis atau perlengkapan sekolah," kata Kepala Desa Tondong Belang Fransiskus Severius Fedi seperti dilansir Pos Kupang.

Untuk diketahui bahwa sejumlah barang bantuan dari dermawan masih seputar kebutuhan pangan. Hal ini dikonfirmasi oleh Sekretaris Desa Tondong Belang Quirinus Urudin. Padahal, kebutuhan paling mendesak korban terdampak bencana terutama anak-anak yang saat ini mengungsi di rumah kerabat adalah perlengkapan sekolah seperti buku dan alat tulis.

"Barang bantuan yang sudah masuk ke desa itu saat ini antara lain beras, roti, biskuit, perlengkapan bayi, minyak kayu putih, gula, minyak goreng, kopi bubuk, minuman ringan untuk anak-anak, garam, mie instant, susu, sikat gigi, pasta gigi, telur dan pakaian" terangnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Mabar Bernardus Dandur, menjelaskan bahwa pihaknya sedang mendata jumlah anak sekolah yang terkena dampak bencana itu.

"Kami berencana agar anak-anak yang sedang mengungsi atau ditampung di rumah warga sekitar untuk bisa sekolah di sekolah terdekat. Setelah semua data sudah ada, kami segera berkoordinasi dengan sekolah terdekat seperti di Melo," kata Bernardus.

Pihaknya kata dia fokus untuk murid atau siswa-siswi yang akan mengikuti ujian nasional, seperti kelas 3 SMP atau kelas 6 SD.

"Mereka harus punya ruangan kelas tersendiri di sekolah terdekat sehingga guru-guru dari sekolah asalnya bisa datang mengajar mereka," kata Bernardus. (PK/EC/MN)