Teruntukmu Bungaku
Cari Berita

Teruntukmu Bungaku

MARJIN NEWS
14 February 2019

Foto Ilustrasi: Dok. Istimewa

Februari telah tiba. Bulan yang banyak digemari dan dinantikan oleh semua insan untuk berbagi kasih. Bulan sebagai momentum para pecinta-pecinta yang berkelana di alam asmara. Sehingga, silahkan memikirkan kado terindah untuk orang tersayangmu. “ valentine day” mereka menyebutnya. 

Entah apa yang menjadi khusus dalam kusuk pikiranmu tentang hari itu Saya yakin, itu sudah kamu pikirkan di penghujung Januari kemarin. 

Selamat memberikan surprise untuk orang tersayangmu. Semoga berkah kasih dan sayangmu dapat menjadi inspirasi bagi mereka meski itu bukan aku, salah satunya. 

Tentang aku, di sini tetap pada situasi dan semesta yang tak berbeda dengan semesta kemarin. masih setia pada sesuatu yang samar. 

Entah apa yang akan terjadi saat Valentine nanti. Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, jawab Ebbit E. Gade melalui senandung luwesnya. Sebenarnya, semesta memang sudah tahu, hanya kita yang tidak tahu atau memang kita berpura-pura lugu? 

Oh iya, beberapa waktu lalu, Kotaku yang dikenal dengan julukan Kota Molas tersandang salah satu kota terkotor di Negeri ini. Beragam reaksi pun muncul ke permukaan. 

Kadang, saya merasa rishi juga dengan mereka yang suka berteriak bak api melalap di siang bolong, lari supaya di kejar. Sesama kandang kok baku serang, bahkan ada yang segala tingkap bijaknya menyoroti sepatah dua patah aksara sebagai bentuk kepeduliannya di atas sebuah jeruji budak media social. Ah, negeri ini sukanya selalu bercanda. 

Sukanya berteriak mulu. Lantas, kepada siapa kita mesti melempar salah? Lagi-lagi, Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. 

Eh, kalau Kota Molas  telah dinodahi dengan predikat buruk, saya harap engkau tidak seperti itu, Bungaku. Semuanya, tak pantas untuk kita samakan, begitu saja. 

Selain itu,   banyak hal yang memanggil kita untuk cermati fenomena yang lagi trend dan hangat-hangatnya digemakan oleh pencibir terpandang. Saya kira engkau tahu lah. Atau apa perlu kita butuh secangkir? Menetap bekas bibir pada ujung cangkir, mengadu pada manisnya kisah dan menyeruput. Semuanya indah.

Anomaly secangkir memang selalu. Selalu mengundang candu. Seperti segelintir jargon yang Belakangan ini bervariasi, lalu lalang begitu saja tidak sedap didengarkan. Tetapi biarlah itu bertumbuh pada suburnya masa. 

Toh , tak usah  terpengaruh, fokus pada tupoksi kita masing-masing. Sementara si Bunga yang seorang diri saja belum tuntas ku dekap.

Anomali cuaca merambat dan menjelma hingga membuat hatiku tak karuan. Rintikan hujan meniti dengan lembut, mengusik sunyinya hatiku. Menukik, menyusuri langkah yang kian tertatih. Sepertinya aku belum siap untuk meladeni melodimu yang akhir-akhir ini tak bersahabat. Hujan rindu, engkau datang tak kenal waktu. 

Lain halnya lagi bagi penyair atau mereka yang gemar menulis, mereka jadikan hujan sebagai senjata untuk luluhkan kekasihnya. Dengan segudang amunisi diksi lancarkan dari berbagai sisi dan deretan aksara warnai beranda wajah kekasih. 

Siang dan malam datang berparas menawan. Beragam cara disinyalir dengan ketangkasan yang dimiliki. Kerap kali tampil dermawan, demi merawat dan meraup aneka rasa yang  tercecer di belantara asmara. Benar-benar dramatis dan membingungkan. Konyol!

***
Suasana hati tak karuan, ditandai dengan caraku menghabiskan secangkir rindu yang kau seduh di kala senja hendak pamit dari peraduannya. 

Kopi seduhanmu tak sehangat dan senikmat kala itu. Begitu pula dengan senja, tak seelok kemarin. Yang selama ini dipuja-puji karena komelekkannya, saat ini ia pamit dengan wajah penuh cela, antara hitam dan merah campur aduk diantara gumpalan awan. 

Barangkali sedini mungkin tak perlu ku samakan engkau dengan senja, karena bagaimanapun rupamu, aku senantiasa setia menerimamu seperti halnya langit yang selalu setia menerima senja dalam rupa apapun. 

Meskipun setelahnya menghilang tanpa jejak. Lalu kamu, kau masih saja tidak peka dengan itu. Lekaslah usai bersendagurau dengan duniamu, sebab kopi seduhanmu tak begitu lihai memberi ketenangan untuk hatiku yang tak kenal lelah mencari tahu tentangmu. Sebab, bagiku ketiadaan kabar darimu sama halnya dengan hutang, dicari dan harus dibayar tuntas. 

Andai saja engkau tahu betapa tersiksanya aku mencari kehangatan pada kopi seduhanmu, mencari inspirasi hangat untukmu di antara tumpukan ampas yang menghitam pada dasar cangkir, menemukan jejak-jejak mimpi ketika engkau akhiri sepihak saat aku terlelap dalam pelukan, menghadirkan bayangmu pada situasi-situasi sulit saat merindukamu. Ups, Sudahlah! Mungkin engkau hadir melahirkan banyak tanya. 

“Harap dimaklumi”, begitu bunyi surat yang kau sisipkan pada saku bajuku.

Aku paham, setelah engkau menceritakan pandanganmu tentang cinta. Dimana bagimu, cinta hanya menjadikan jiwa lemah dan memainkan drama yang membosankan, dan anggapan ini hadir ketika engkau menyasksikan kehidupan percintaan teman-temanmu. 

Baiklah. Sebenarnya semua yang aku lakukan ini bermuara pada satu titik; aku ingin mendaptkanmu utuh. Dan setelahnya, aku selalu memikirkan cara terbaik dalam menyajikan rindu untukmu. Bukankah engkau selalu mencicipi hidangan rindu dariku? 

Lekaslah engkau datang, biar bukan hanya aku saja yang menyiapkan makan malam kita nantinya. Karena masakanmu tidak kalah lezat dan renyah dengan masakan ibuku. Hanya saja belakangan ini ia tak begitu dekat dengan atribut dapur. Pasalnya, usianya sudah menghampiri 60 tahun. 

Sudah sepatutnya ia mencicipi masakan kita. Selain itu, kerap kali ia menanyakan gadis yang bakal menjadi penyemangat hidupku. Kamu mau, kan? Jika saja engkau berkenan menerima permintaanku, akan ku siapkan tempat yang abadi dan nyaman untukmu, tentu saja rumah yang beratapkan kasih. Lalu, kau menetap di bawah sanubariku yang selalu memberikan kesejukan untuk anak dan cucu kita. 

Ketahuilah, aku tidak memiliki barang mewah untuk membahagiakanmu seperti yang lainnya. Tetapi, jangan sesekali ragukan aku. Karena dari kecil, jauh sebelum mengenal kamu, aku sudah diajarkan oleh orangtuaku; memahami dan mencintai sesama dengan tulus, menerima segala sesuatu dengan bijak, dan masih banyak hal lainnya telah dibekali dalam balutan yang membetuk aku sekarang. 

Mungkin salah satunya juga menerima kenyataan jika kamu tak sepenuhnya paham dan peka dengan niatku. Itu adalah pil pahit yang ku telan selama bersamamu. Tetapi, cobalah lebih peka, dengan demikian engkau boleh melangkah sesukamu ke palung hatiku yang teramat dalam. Setibanya di sana, tumpahkan semua resamu hingga tak seorangpun yang mendengarnya selain hatiku. 

Teringat kembali saat pertama kali melihatmu di bibir pantai, serasa indah itu hanya ada padamu saja. Pantai utara yang dikenal dengan gelombang yang cukup deras, sontak menepi dengan pelan. Angin tertiup begitu sejuk menghantar dedaunan berpaling dari ranting-rantingnya. Burung-burung pun berkicauan penuh irama. Ditambah lagi hadirmu yang mempesona. Lengkaplah sudah. 

Tidak berlebihan fenomena langkah ini terjadi karena melihatmu yang elok dan rupawan. Menatapmu penuh ragu, sesekali mencuri pandang saat kau bercanda ria dengan teman-temanmu. Bagiku itu adalah suatu kenikmatan hakiki. Sebab, pemotret handal saja belum tentu mampu menangkap percikan senyummu seelok yang kudapat. 

***
Beberapa waktu lalu, tepatnya di sebuah acara pernikahan yang adalah mantan kekasihku. Maaf sebelumnya, setelahnya terserah kau saja, Upss. Oh  iya, sekali lagi maaf aku menghadirkan kembali kisah malam itu di sini. 

Ya, Selagi penaku belum bubuhi tanda titik, tidak ada salahnya bercengkrama mengisi lembaran kosong yang sore tadi lupa kau sisipkan senyum indahmu.  

Tetapi satu hal yang perlu kamu tahu bawasanya di pesta pernikahan malam itu engkau telah melakukan pengkiantan yang paling kejam. Betapa tidak, kau tampil mengalahkan pengantin, meskipun dia adalah temanmu. Tahukah kamu, dia adalah mantanku juga. Barangkali ia lupa atau mungkin ia pernah menceritakan soal ini padamu? Itu bukan urusanku dan sudah tidak penting lagi untuk dilegendakan lagi.  

 ”Teruntuk engkau yang pernah menjadi penghuni hati, penenang asmara dikala rindu membara, maaf jika telah melukaimu dengan sepintas tingkah yang tak sengaja dipertontonkan, tetapi aku yakin sekarang kamu jauh lebih bahagia. Di balik itu, segenggam harapan dan doa kualamatkan untukmu.  Tertawalah bersama pasanganmu, lupakan semua hal tentang kita yang pernah kau hitamkan pada catatan harianmu. Robeklah secarik kertas itu, biarkan kisah kita lapuk bersama bahagiamu sekarang. 
Kabari aku seperlunya saja saat pasanganmu pergi jauh” gumamku sembari mengharapkan relasi yang tengah saya bangun sekarang berujung married seperti halnya mereka malam ini. 

Lalui perbincangan ringan tercerna dengan santai. Ayo, ikut aku ke depan, bujuknya. Aku di sini saja, jawabku. Bunga pun bergegas dari tempat duduk menuju panggung pelaminan. 

Selepas engkau pergi, bayangan gaung yang engkau kenakan memantul ke arahku. Sungguh, engkau memang punya keistimewaan tersendiri malam itu. Bagiku, kau telah nodahi pesona malam. Engkau berhasil membuktikan bahwa ada kau yang lebih indah lagi selain purnama dengan bintang-bintangnya yang selalu menampakan diri merayu purnama. 
Hadirmu malam itu menggetarkan sukma. 

Berdiri di barisan pemusik hebat, menyayikan lagu Beautiful in white saat kedua pengantin hendak bersalaman dengan para undangan. Suara merdumu membuat hatiku tercabik-cabik. Kenapa kau bernyanyi untuk mereka? Kenapa sorakan tepuk tangan itu bukan diperuntukan kepada kita? Ah, ada-ada saja. Semua karenamu.

Alunan melodi dengan suara merdumu menghypnotize semua seisi kemah. Lampu pijar yang digantung tepat di pintu kemah nyala berkedip-kedip. Bahkan MC salah menyebut nama pengantin saat basa-basi usai pemotongan kue pernikahan. 

Ingatkah kamu, yang disebut MC adalaah namaku dan namamu. Aku jadi malu, sembari mengatakan “Amin” yang tak terhitung jumlahnya.  Saat itu pula, egoku mengatakan demikian, “Jika saja suara emasmu didengar dan menghibur banyak orang, apakah hatimu juga menjadi tempat berteduh bagi mereka?” Sudah, tidak berlebihan biar aku saja yang menghuni di hatimu. Kalaupun itu terlalu berlebihan, izinkan aku menjadi kelopak matamu, dengan demikian saat engkau membuka dan memejam mata, cuma aku saja yang bisa engkau lihat. 

Bungaku, kau telah memberi warna tersendiri dalam hidupku. Kehadiranmu tidak cukup digambarkan dengan sederat kalimat yang dirangkai indah, tidak tentunya. Lebih dari itu, kau adalah aku,satu dalam nama cinta. Kau adalah ujud utama dalam doaku, kau adalah mentari yang membuka cerita hariku. bulan yang menerangi malamku, puisi terindah yang kubacakan setiap hembusan nafasku, kau adalah segalanya bagiku, kau adalah Bunga yang selalu ku taburi dengan kasih. Dan kau adalah kita yang dipisahkan untuk sementara waktu  dan kelak menjadi kita yang abadi. 

Oleh: Dhony Djematu