Shit Comment Tentang Generasi Milenial, Potret Kegagapan Kita Menghadapi Perubahan
Cari Berita

Shit Comment Tentang Generasi Milenial, Potret Kegagapan Kita Menghadapi Perubahan

2 February 2019

Gambar: Ilustrasi
OPINI, marjinnews.com - Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.

Dalam beberapa kesempatan, tidak jarang kita mendengar bagaimana generasi milenial menjadi sebuah topik yang boleh dibilang menjadi boomerang dalam masyarakat kita. Beberapa label tidak etis disematkan begitu saja tanpa pernah dipertimbangkan cukup masak kepada generasi penerus bangsa tersebut. Misalnya, mereka dicap sebagai sekelompok orang yang hedonis, menjauh dari lingkungan sosial masyarakat dan lain sebagainya.

Bagi penulis, pemahaman semacam ini merupakan sesuatu yang tidak boleh dibiarkan terlalu lama berkembang dalam mindset kita sebagai sebuah negara yang tengah berkembang menyongsong Bonus Demografi di masa depan. Ini sebenarnya bisa dimaklumi karena kebanyakan penilaian kita selalu meletakan kepentingan politik sebagai tolak ukur. Beberapa hal penting dalam diri generasi milenial kita abaikan atau cenderung dipolitisasi untuk kepentingan elektabilitas dan seolah menunjukkan perhatian lebih kepada mereka. 

Mari menyelisik pola gerakan politik milenial hari ini
Jika kita berbicara tentang gerakan politik milenial, keterlibatan anak muda dalam politik khususnya, sering kali dari tahun ke tahun selalu ada wacana untuk membanding-bandingkan gerakan mahasiswa dari generasi ke generasi mulai dari Generasi 65, Generasi 98, dan Generasi Millenial. Dewasa ini, banyak masyarakat merasa bahwa Generasi Milenial tumbuh menjadi generasi yang apatis dan tidak ada bunyinya, sering dipertanyakan gerakan politiknya dalam mengawal kebijakan pemerintah.

Mantan aktivis mahasiswa 98 yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Budiman Sujatmiko mengatakan bahwa membandingkan gerakan mahasiswa dari masa ke masa dengan sama persis adalah sebuah kekonyolan. Zaman berubah seiring berjalannya waktu, hari ini teknologi memungkinkan menyelesaikan persoalan yang berat tanpa menguras energi sebesar dulu. Dulu, aktivis mahasiswa 98 berdemo untuk menggulingkan sebuah rezim yang berkuasa. Kalau sekarang sebagian persoalan bisa diselesaikan dengan tekonologi, kenapa harus memaksakan diri agar tampak berkeringat?

Budiman juga menjelaskan, pada masa Orde Baru dahulu dirinya pernah mengadvokasi kasus tanah di kampung halamannya daerah Cilacap, dan bertahun-tahun kasus itu tidak selesai. Tapi, begitu dia jadi Anggota DPR, masalah itu selesai. Artinya, cara menyelesaikan masalah memang tampak tidak "seromantis" cara yang lama, tetapi kenyataannya lebih efektif.

Pengalaman Budiman Sudjatmiko di atas dapat dimaknai dengan dua hal. Pertama, kekuasaan bisa membuat suatu masalah diselesaikan secara lebih efektif. Kedua, teknologi juga menawarkan metode penyelesaian masalah yang lebih efektif dan efisien. Menurut saya, tuntutan yang dialamatkan pada Generasi Milenial sekarang tidak bisa disamakan dengan tuntutan kepada generasi sebelumnya. Pada masa sekarang, yang dituntut adalah bukan tentang apa yang dilakukan, tapi apakah yang dilakukan tersebut menjadi hasil. 

Jadi Jelas bahwa tuntutan yang dapat diberikan kepada Generasi Milenial adalah bukan sebanyak apa demo yang mereka lakukan. Melainkan, adalah result oriented, karya apa yang sudah kamu berikan kepada bangsa ini.

Tantangan mereka adalah bagaimana menciptakan karya yang berguna di tengah masyarakat, seberapa banyak inovasi yang diberikan kepada masyarakat. Sikap kritis mahasiswa jangan hanya dimaknai ketika menghadapi sebuah masalah saja. Kritisme mahasiswa harus dimaknai dengan menjadi problem solver bagi masyarakat. Hari ini, gerakan mahasiswa untuk menciptakan teknologi baru yang berguna bagi masyarakat banyak merupakan salah satu gerakan politik, karena gerakan tersebut membawa perubahan bagi kesejahteraan masyarakat.

Gerakan politik itu tidak bisa dimaknai lewat satu perspektif saja, terlebih di era Reformasi ini. Setiap mahasiswa mempunyai caranya sendiri dalam berjuang, dan tentu saja perjuangan tersebut tidak bisa disamakan dengan mahasiswa generasi sebelumnya. Teknologi memang memegang peranan penting dalam gerakan mahasiswa milenial, contohnya saja musibah gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

Dalam waktu yang relatif singkat semua elemen masyarakat khususnya mahasiswa bergerak melakukan penggalangan dana untuk membantu saudara kita yang terkena musibah tersebut. Tentunya hal ini disebabkan oleh cepatnya informasi yang beredar baik di TV atau media sosial, sesuatu hal yang tidak terjadi di masa Orde Baru di mana kebebasan berkumpul dan berpendapat masyarakat sangat dibatasi.

Menjadi persoalan sekarang sebenarnya adalah soal kesiapan kita menerima sebuah fenomena yang mau kita hindari tetapi dia diwajibkan untuk dapat kita hadapi sebagai sebuah tantangan dan peluang. Memaknainya sebagai sebuah tantangan ataupun peluang itu kembali kepada bagaimana kita memposisikan diri sebagai generasi optimis. Toh, waktu terus berjalan generasi milenial tetaplah akan menjadi generasi penerus bangsa ini yang jika tidak diberdayakan akan membuahkan hasil yang tidak cukup baik untuk bangsa dan negara ini untuk beberapa generasi berikutnya. Salam..

Oleh: Andreas Pengki