Rakyat adalah Guru yang Baik dalam Berpolitik
Cari Berita

Rakyat adalah Guru yang Baik dalam Berpolitik

7 February 2019

Foto: Dok. Pribadi
OPINI, marjinnews.com - Ungkapan dan judul tulisan ini merupakan gambaran yang lugas dan tegas untuk menyelisik standing position rakyat menyongsong hajat besar demokrasi kita pada 17 April mendatang. Ungkapan seperti semacam slogan sederhana ini menjadi penting mengingat jelang berakhirnya masa kampanye yang disediakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) hampir di semua ruang publik kita tersaji begitu banyak pilihan dengan kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

Oleh karena itu diperlukan prinsip kehati-hatian dalam menentukan pilihan agar tidak salah kaprah. Pengalaman lima tahun sebelumnya telah membuktikan hal tersebut, di Malang hampir semua anggota dewannya menjadi tahanan KPK karena korupsi. Di beberapa tempat sejumlah DPR juga melakukan tindak kriminal yang tidak mencerminkan wajah publiknya sebagai corong suara khalayak di dalam sebuah konstitusi.

Di beberapa wilayah di Indonesia, pesta demokrasi tidaklah melulu soal selebrasi semata. Ada beberapa harapan yang selalu dilontarkan lewat doa dan pertanyaan yang dijawab dengan janji-janji manis para politisi kepada rakyat yang suaranya tidak pernah didengar atau tidak pernah merasa terwakili di pemerintahan. Akses terhadap pendidikan, infrastruktur jalan, fasilitas kesehatan yang memadai, hingga masalah pengangguran masih menjadi masalah paling fundamental yang sepertinya dipelihara agar dijadikan semacam alat kampanye oknum politisi kita.

Bertahun-tahun rakyat dibiarkan menunggu tetapi tanpa kepastian kapan keluh kesah mereka akan dijawab. Dalam situasi tersebut, rakyat berperan penting untuk menjadi penentu. Rakyat diharapkan bisa mengenal dan menelusuri rekam jejak, mendalami visi-misi, dan menilai kemampuan memimpin dari setiap calon. Dengan demikian, rakyat harus sungguh-sungguh menentukan dan menjatuhkan pilihan pada vigur yang mampu membaca, mengalami, dan menemukan jalan keluar dari kekurang yang menyelimuti kehidupan masyarakat. 

Pilihan rakyat tentu diharapkan akan menjadi yang terbaik dalam memimpin lima tahun mendatang. Singkatnya, rakyat harus menjadi guru yang baik dalam berpolitik. Mereka memiliki kewajiban mendidik dan mewariskan generasi muda akan seni berpolitik. Sehingga, rakyat harus mampu mengatakan tidak pada politik uang dan janji palsu. Karena di tangan rakyatlah tanggung jawab untuk menentukan pemimpin yang mewariskan kesejahteraan kepada generasi muda, bukan mewariskan konflik dan perpecahan.

Tidak mengherankan, Aristoteles menyebut politik seharusnya digunakan untuk penyelesaian sebuah masalah, daripada mencapai suatu tujuan dari golongan tertentu. Lebih lanjut, ia menegaskan politik itu sebenarnya seni merebut kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Karena itu, lanjut Aristoteles, rakyat menjadi guru yang baik dalam menentukan figur yang mampu menyelesaikan masalah, bukan figur yang berorientasi pada kepentingan golongan tertentu.

Oleh: Boni Ogur