Palsukan AJB, Pemilik Hotel Gardena Labuan Bajo Ditahan, Terancam 8 Tahun Penjara
Cari Berita

Palsukan AJB, Pemilik Hotel Gardena Labuan Bajo Ditahan, Terancam 8 Tahun Penjara

MARJIN NEWS
20 February 2019

Tersangka Oan Semewa. (Foto: Dok. marjinnews.com)

LABUAN BAJO, marjinnews.com -
Pengusaha sukses Hotel Gardena, Frans Oan Semewa (FOS) alias OAN akhirnya menjadi titipan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Ruteng, Manggarai, Flores-NTT. 

Oan dijebloskan Jaksa Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT tanggal 7 Februari 2019 karena diduga melakukan tindak pidana sesuai Pasal 264 ayat (2) KUHP dan pasal 263 ayat (2) KUHP Junto Pasal 64 ayat (1) dan ayat (2) KUHP atas laporan  Christian Natanael alias  Chris alias Werly.

Oan (60) alamat Hotel Gardena, warga RT.005,RW.002, Kelurahan Labuan Bajo, Kec. Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), sesuai laporan pelapor  Christian alias Werly  LP/B/165/IV/2018/SPKT Polda NTT, diduga menggunakan Akta Jual Beli (AJB) yang diduga Palsu No.SHM 875 atas tanah seluas 19,479 m² berlokasi di Pulau Seraya Kecil, Kelurahan Labuan Bajo, Kab. Manggarai Barat (Mabar).

Lahan illegal tersebut telah dibangun akomodasi pariwisata berupa hotel/bungalow, sehingga korban mengalami kerugian mencapai Rp 15 miliar.

Proses penyidikan yang belangsung  satu tahun, akhirnya bisa menyeret Oan yang konon licin dan banyak dilidungi pihak tertentu khususnya di wilayah Mabar ke ranah hukum. 

Penyidik Ditserse Polda NTT setelah melakukan penyidikan dengan memeriksa  saksi korban (Christian alias Werly) dan 8 saksi lain (Hiro, Wahyudi, Hendrik, Yoseph, Max dan Yance) dan saksi ahli hukum pidana Prof.Dr.Nur Basuki Minarno, SH dari Unair Surabaya. 

Juga hasil Labfor cabang Denpasar (24/1/18) disimpulkan: Questioned Tanda tangan (QT) adalah NON IDENTIK dengan Known Tanda tangan (KT), atau kata lain tanda tangan atas nama WERLY yang terdapat pada AKTA JUAL BELI No.53/JB/KK/IV l998 tertanggal 22 April l998 tersebut pada Bab I A di atas dengan tanda tangan WERLY Pembanding, adalah merupakan tanda tangan yang berbeda.

Dengan terpenuhi unsur pidana Pasal 264 ayat (2) KUHP dan Pasal 263 ayat (2) KUHP, yakni dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu seolah olah surat asli dan tidak dipalsukan, pemakaiannya dapat menimbulkan kerugian orang lain (Werly-Red) dengan ancaman pidana  8 tahun penjara.

Maka berdasarkan laporan Polisi Polda NTT (24/4/18) telah ditetapkan sebagai tersangka dan  pada (21/8/18) tersangka Frans Oan Samewa (FOS) masuk daftar pencarian orang (DPO). Kemudian tanggal 23 Nopember 2018 terhadap berkas perkara tersangka FOS telah dikirimkan ke Kejaksaan Tinggi NTT,dan tanggal (7/2/19) P 21 yakni penyerahan tersangka (ditahan) dan barang bukti ke Kejari Labuan Bajo.

Namun, setelah di tahan oleh jaksa Nurcholis, SH (Kejati NTT) dan Hero (Kajari Labuan bajo),di LP Ruteng,Kab. Manggarai, Flores-NTT, FOS status ditahan (sel). 

Sehubungan dengan ditahan FOS, Christian alias Werly bersama kuasa hukum (PH) dari DS LAW OFFICE ADV Denny Sambeka,SH dan ADV. R. Yuwono,SH,MM serta wartawan Dialog (11/2/19) mendatangi Kajari Labuan Bajo, Mabar, Kasi Pidum Iwan Gustiawan guna menanyakan perihal penahanan FOS di LP Ruteng.

Karena Kasipidum tidak ada di tempat oleh staf Pidum Hero diarahkan langsung ketemu Kajari Labuan Bajo, Yulius Sigit Kristianto, SH.MH. Dalam pertemuan itu, Kajari Yulius tidak berkenan kepada salah satu wartawan ikut serta. 

Pada kesempatan itu, Werly dan dua kuasa hukumnya, mengatakan sebelum menyampaikan maksud kedatangan mereka, Kajari Yulius langsung mengatakan “anda jangan intervensi!!” Saya tahu kasus ini. 

Sejurus kemudian  PH Adv.R.Yuwono mengatakan hanya ingin tahu dan konfirmasi tentang kebenaran isu-isu yang diterima.

“Anda harus mengajukan surat permohonan mengunjungi FOS di LP Ruteng,” imbuh Kajari Yulius,. 

R Yuwono  pun minta form tidak untuk membuat surat pegajuan tersebut. Oleh Kajari Yulius. Isu menyebutkan Yulius  pernah diperiksa Aswas Kajati sehubungan kasus ini. 

Ia pun langsung memerintakan stafnya membuat surat ijin kunjungan atau besuk dan ditanda tangani Kajari Yulius.

Dua kuasa hukum Werly, Denny Sambeka dan R. Yuwono, mengatakan mereka memberikan apresiasi tinggi atas kinerja kedua lembaga penegak hukum  Polda NTT dan Kajati NTT. 

Karena telah bekerja secara prefosional  menangani kasus hukum khususnya terhadap tersangka FOS, yang konon licin dan kebal hukum di wilayah Mabar akhirnya tersandung hukum  (disel) akhirnya menjadi terdakwa masuk penjara,” Jika kasus ini berjalan transparan adil, kemungkinan  berstatus narapidana (Napi) bila terbukti bersalah,” tegas  Adv.Denny Sambeka, yang  akan mengawal kasus ini hingga tuntas.

Kronologi Kasus 

Chris alias Werly (48) pemilik sertifikat secara syah, ia menceritakan Kronologis hingga kasus ini berujung kepafa hukum, awal kasus ibarat peribahasa “ Memasang Perangkap. Namun yang Terperangkap dirinya sendiri.

Bermula dari mereka berdua bersahabat  sejak kecil dan berlanjut  sama-sama sebagai pengusaha perhotelan di Labuan Bajo, Mabar. Namun tahun 1999, Christian alias Werly mengalami masalah ekonomi (bangkrut).

Werly yang memiliki tiga aset sertifikat tanah  berlokasi di Pulau Seraya Kecil, Labuan Bajo - Mabar (SHM 875, 876 dan 878) kemudian terlibat dalam pinjam meminjam uang dengan FOS dengan jaminan tiga sertifikat (SHM 875, 876 dan 878).

Karena mereka saling percaya sebagai teman, sewaktu penyerahan pinjaman uang dari FOS ke Christian alias Werly maupun penyerahan sertifikat sebagai jaminan dari Chris ke FOS tidak disertai dengan Kwitansi atau tanda terima apapun. 

Setelah beberapa bulan jatuh tempo, Christian alias Werly tidak bisa mengembalikan pinjaman sehingga FOS mendesak Christian untuk melepaskan/menjual 2 dari 3 SHM/tanah yang digadaikan yakni SHM no.876 dan 878. 

Awalnya Christian sangat keberatan untuk menjual ke dua SHM tanah seluas total kurang lebih 4 ha, dengan harga  cuma  Rp 35 juta rupiah (sebesar hutang saja). Tapi untuk mengatasi keberatan Christian, FOS menawarkan solusi sehingga tercapai kesepakatan lisan, yakni Jika Christian alias Werly setuju untuk menandatangani kuitansi tanda jual 2 SHM no.876 dan 878 kepada FOS, maka pertama semua hutang sebesar 35 juta rupiah  plus bunga hutang sebesar 5% dianggap lunas.

Kedua, uang  panjar pembelian tanah  di pantai bagian barat pulau seraya kecil sebesar 2 juta rupiah, tidak jadi dilanjutkan alias diberikan kepada Christian, dan ketiga FOS menjanjikan akan memberikan kepada Christian alias Werly, 1 (satu) kapling tanah ukuran 25x100 m yg akan dia split dari SHM 876, dan juga akan membangun sebuah bungalow di atas kapling tersebut.

Selanjutnya perjanjian ke empat,SHM no.875 tetap dipegang/dititip (tidak dijual) kepada FOS sebagai jaminan menambah pinjaman sebesar 5 juta rupiah tanpa hitungan bunga.

Pinjaman tanpa bunga ini juga sebagai salah satu syarat  Werly kepada FOS agar mau menandatangani kuitansi jual beli SHM 876 dan 878.

Setelah terjadi kesepakatan lisan, Werly dengan FOS sudah hampir tidak ada saling kontak lagi karena sibuk dengan urusan masing masing. 

Werly sibuk bolak balik dari Labuan Bajo ke Surabaya, Bali dan Jakarta. Ia juga tidak mengetahui kapan dan bagaimana caranya  FOS mulai memproses balik nama SHM tersebut. 

Pada tahun 2005 Werly merantau ke New Zealand untuk mencari kerja dan baru balik ke Surabaya  tahun 2009. Tahun 2010 secara kebetulan bertemu FOS di toko daerah Jl.Kembang Jepun, tapi FOS sama sekali tidak menyinggung soal tanah. 

Tahun 2012 FOS datang ke Surabaya lag,dan menelpon Werly sekitar jam 22:30 mengatakan bahwa FOS ingin memberikan uang sebesar 50 juta rupiah kepada Werly asalkan mau menandatangani surat kuasa balik nama sebuah SHM yang sampai sekarang masih atas nama Werly. 

Ketika Werly menanyakan SHM apa dan letak di mana, FOS tidak memberikan jawaban yang memuaskan tapi cenderung menutup nutupi  menimbulkan  kecurigaan Werly. 

Setelah Werly mencari informasi dari istrinya dan dari fotocopy SHM yang sudah tersimpan puluhan tahun dalam lemari akhirnya membuka kembali memory bahwa SHM 875 tersebut tidak dijual kepada FOS melainkan cuma di jadikan jaminan pinjaman 5 juta tanpa bunga.

Setelah mengingat semuanya, Werly meminta kembali SHM 875, tapi ditolak oleh FOS dengan alasannya bahwa dia sudah membeli dari Werly dan sudah dia balik ke nama FOS. 

Pengakuan  FOS yang menyatakan sudah membeli, tidak diterima oleh Werly sehingga Werly meminta bukti kuitansi seperti 2 kuitansi lainnya untuk SHM 876 dan 878. FOS tidak bisa memberikan bukti kuitansi,dan mengatakan sudah hilang.

Namun  Werly meyakini bahwa FOS telah berbohong karena kuitansi  bukan hilang melainkan tidak pernah dibuat karena memang SHM 875 itu tidak pernah dijual kepada FOS. Yang membingungkan Werly, mengapa justru SHM 878 (yang ada kuitansinya) si FOS tidak balik nama dan justru SHM 875 (yang tidak ada kuitansinya) yang bisa dia balik nama.

Mungkin merasa Werly sudah mulai mengetahui kecurangannya, beberapa hari kemudian FOS mencoba merayu Werly dengan menaikkan tawaran pemberian uang dari 50 juta menjadi 75 juta rupiah atau kapling ukuran 25x100 m yang dia janjikan dulu akan diberikan jika mau menandatangani surat kuasa balik nama SHM 878. Penawaran FOS ini justru membuat Werly marah karena merasa FOS bukanlan seorang yang jujur tapi merupakan seorang yang licik karena kapling 25x100 m tersebut merupakan kewajiban dia untuk diberikan kepada Werly sebagai salah satu syarat Werly mau melepaskan/menjual SHM 876 dan 878 kepada FOS.

Jadi jika janji tersebut tidak ditepati maka berarti dengan sendirinya kuitansi jual beli SHM no.876 dan 878 tsb bisa BATAL dengan sendirinya.Karena tidak terjadi kesepakatan maka, tahun 2015 Werly dengan Kuasa Hukumnya mulai melapor FOS di Polres Mabar. Tapi kemudian menarik laporan ke Polda Kupang NTT karena mempertimbangkan faktor keamanan. 

Sangat disayangkan, Kuasa Hukum sebelumnya  terindikasi main 2 kaki,sehingga Werly menghentikannya sebagai kuasa hukum. Juga sangat disayangkan karena permintaan Werly untuk labfor tandatangan saat itu tidak dijalankan  pihak penyidik Polda pimpinan Direskrimum Kombes Sam Yulianus Kawengian.

“Kuasa Hukum saya yang terindikasi main 2 kaki,  mereka hanya menjalankan proses perdata dengan mengabaikan tindak pidananya. Setelah pergantian Direskrimum baru di Polda NTT dipimpin  Kombes Yudi Sinlaloe, barulah proses labfor dijalankan sesuai dengan prosedur, “ jelas Werly.

Hasil labfor menunjukkan bahwa tanda tangan yang ada di AJB sbg dasar FOS balik nama SHM no.875 adalah NON IDENTIK. Dari hasil labfor  Werly semakin yakin bahwa FOS telah melakukan kecurangan dengan SHM 875 yg seharusnya masih menjadi hak Werly.

Proses balik nama SHM 875 adalah cacat hukum karena tidak ada dasar kuitansi jual beli, tanda tangan di AJB terbukti NON IDENTIK sesuai hasil labfor dan Werly merasa tidak pernah hadir didepan PPAT untuk proses jual beli, dengan saksi-saksi hidup yang bersaksi hal yang sama. 

Sumber media ini mengatakan setelah usai masa tahanan jaksa 20 hari, kasusnya  setelah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Manggarai Barat, akan disidangkan di Pengadilan Negeri ( PN) Mabar atau Ruteng. Pertimbangan JPU Kajati NTT, Nurcholis,SH cs, guna  menjaga lancarnya persidangan,dari serbuan masa pendukung FOS. (RN/MN)