Mereka Juga Keluarga
Cari Berita

Mereka Juga Keluarga

MARJIN NEWS
11 February 2019


Foto: Dok. Pribadi



Kesepian, kesendirian dan kerinduan adalah hal yang akrab dirasakan oleh anak muda perantau. Merantau adalah masa dimana kita mesti berani mengambil sebuah resiko yang bagi segelintir orang sangtalah berat untuk dijalankan. Bukan tidak mungkin jauh dari orang tua,  saudara, bahkan sahabat akan menjadi sebuah alasan untuk menciptakan masalah.

Bukan tentang masalah menang kalah sebagai akhir dari sebuah pertarungan lelaki sejati zaman now tetapi, tentang rindu akan kampung halaman yang selalu menjadi alasan untuk merengek lalu mengajak angan untuk kembali. Jarang diungkapkan sebagai permasalahan tentang kerinduan dan tak pernah habis untuk  dibicarakan langsung pada mereka.

Mengeluh dan menyesal kerap datang pada saat waktunya ingin mengenang, mengapa mesti memilih jalan ini? Apa boleh kembali? Sungguh ini sebuah episode yang tak pantas untuk dilanjutkan lagi. Namun, pemikiran demikian dipatahkan oleh anak muda perantau. Susah adalah sisi hidup yang mesti ada, agar kita tahu bagaimana sisi senangnya tentang sebuah juang. Kedua hal tersebut kadang menjadi ujian yang tak nyaris berlalu begitu saja bagi setiap jejak petualang anak muda perantau. Ujian adalah  proses untuk saling memahami dan memperkaya setiap jiwa.

Ada masanya ketika hati merindu akan orang-orang rumah, menghabiskan waktu,membagi canda  dengan sahabat-sahabat adalah obat ampuh paling mujarab dalam menghilangkan kata bernama rindu.  Barangkali berlebihan jika saya mengatakan bahwa, kebersamaan sesama anak muda di rantau sangat dibutuhkan. Keluh-kesah, susah-senang di perantauan, hanya sesama anak muda di rantau yang tahu. Kepada sesama perantaulah kita menceritakan semua.

Anak muda sesama perantau juga yang dapat menghibur untuk sejenak menghilangkan rasa rindu yang ada. Di perantauan banyak mengajarkanku bahwa hidup ini tidak jalan di tempat, ternyata hidup ini setiap harinya akan ada cerita-cerita baru layaknya sinetron yang tiap episode ceritanya akan selalu baru meski terkadang alur ceritanya harus mundur bahkan acak, sehingga membuatku untuk lebih membaur, membuka hati, bahkan memberi ruang untuk lebih banyak mencari teman atau sahabat untuk dijadikan keluarga tak sedarah.

Ketika kita berani mengambil langkah bahwa persahabatan, apalagi bila kita mampu untuk saling memahami satu sama lain, sebenarnya itulah definisi keluarga tak sedarah.  Jiwaku ada dalam kamu, dan kita terbuka untuk saling memahami satu sama lain.

Terkadang agak lebai tentang  sebuah persahabatan, kebersamaan yang terlahir dari rasa ketulusan dari hati dan pasti akan sampai pula ke hati. Tapi, bagaimanapun harus ikhlas sebagaimana kita ikhlas ketika bertemu dengan teman-teman hingga akhirnya dekat layaknya saudara.

Definisi persahabatan yang menjadi bianglala kebersamaan kemudian kita saling menyatukan dalam aura cinta dan kasih persaudaraan. Persahabatan sejati mengajak kita untuk masuk lebih dalam ke lini kehidupan, membuat saya semakin sadar menjadi bagian hidupmu di perantauan adalah keistimewaan dalam berkarya  yang  tidak lebih dari sekadar penumpah lelah, namun juga kawan suka dan duka.

Denganmu, kuceritakan hampir segala kisah hidupku. Padamu, aku merangkai khayal tentang cita-cita, setia mendengar tanpa bosan tentang ocehan yang selalu mendarat jauh ke pendengaranmu dan aku tidak menyadari bahwa jika itu akan membosankan bagimu. Pantaslah aku jika mengatakan “beruntungnya aku memilikimu”. Aku ingin kamu pun merasakan hal yang sama. Semoga kita bisa saling melengkapi selalu.

Kawan seperjuanganku, maafkan aku yang kadang egois. Bukan bermaksud demikian, hanya saja terkadang aku merasa kamu tak paham. Padahal di balik semua yang kamu lakukan, tak didasari rasa ingin memanfaatkan. Kamu jadi tempatku mengadu di kala hati gelisah karena dikecewakan orang. Kamu yang selalu aku repotkan dengan hiruk pikuk masalah rumit yang menghadang.

Bukan hanya kampus yang punya jadwal ujian. Kita pun sudah berkali-kali diuji oleh Tuhan. Kamu pasti ingat masa-masa sulit harus meluluhkan kerasnya hatiku. Memang banyak orang tahu siapa aku. Pernah dulu aku salah paham padamu, mengira kamu memanfaatkan dan tak pengertian. Aku abaikan membaca dan melihat tulisan dari teman-teman hingga beberapa saat. Tak hentinya kamu muncul terus di beranda facebookku, karena tak pernah tahu bagaimana kabarku.

Menyisihkan waktu agar mampu bertahan di kemudian hari adalah hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak muda. Namun saat tahu bahwa ada orang yang mengkritik tulisanku, hanya satu kata yang bisa mewakili perasaan: “sabar”. Namun tak apa, itu merupakan bagian dari proses kehidupan. Sebab, proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Di balik semua rasa pengertianmu, aku tahu ada lelah yang tak tersampaikan. Kamu tak akan pernah tega membuat sobatmu ini kecewa karena keluhan.

Untuk Sahabat-sahabatku, Terima kasih Telah Menjadi Rumah Keduaku di Sini.

Oleh : Arifanus Apur
Kontributor Marjinnews Malang