Menggugat Langkah
Cari Berita

Menggugat Langkah

9 February 2019

KATA MEREKA, marjinnews.com - Jika kamu pernah membaca buku "Seni untuk Bersikap Bodo Amat" yang ditulis oleh Mark Manson, kamu mungkin mengenal Charles Bukowski, seorang pecandu alkohol, mata keranjang, seorang penjudi kronis, orang udik, pelit, pecundang, dan pada hari-hari terburuknya, seorang penyair. 

Jika kamu belum baca bukunnya, saya akan ceritakan sedikit tentang Charles Bukowski, tetapi kamu harus beli dan baca bukunnya, atau pinjam ke siapa saja yang kamu percaya tidak akan minta lagi buku yang sudah dipinjamkanya (baca: malu minta lagi). 

Charles Bukowski bercita-cita menjadi penulis, tetapi karyanya selalu ditolak dengan cacian oleh berbagai media, majalah, koran, jurnal dan sebagainya. Kata mereka, karya Bukowski menjijikan, mentah, tidak berbobot dan berbagai cacian dilontarkan untuknya. Cacian-cacian itu ternyata tidak membuatnya untuk terus mencoba, melainkan dia semakin depresi dan membenci dirinya sendiri. 

Bukowski menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan alkohol, perjudian dan pelacuran, sembari sesekali menulis puisi-puisi sederhana dengan mesin tiknya. Sampai pada usia 50 tahun, seorang editor dari salah satu penerbit independen kecil memberi kesempatan pada Bukowski untuk kembali menulis. Singkat cerita, Bukowski menulis novel pertamanya dengan judul "Kantor Pos" dalam karyanya tersebut Bukowski menulis "didedikasikan untuk tidak ada". Hingga pada akhirnya dia menjadi penyair populer, menertibkan ratusan puisi dan enam novel. 

Cerita tentang Bukowski adalah cerita tentang bermimpi, mencintai mimpi dan mengambil langkah yang tepat. Tidak sebagian kecil dari kita pernah punya cita-cita, punya mimpi yang besar, tapi selalu dibenturkan dengan banyak hal yang kemudian memaksa kita untuk harus memilih, melangkah lagi dengan ekstra keras atau berhenti dan nyaman. Kamu yang mana?

MARJINNEWS.COM Out Of the Box 

Saya tidak terlalu tahu, bagaimana proses lahirnya marjinnews.com pada 9 Februari 2017 lalu. Saya bergabung dengan media ini saat usianya berjalan hampir enam bulan. Ketika itu, saya berbincang-bincang via facebook dengan sang Pimpinan Redaksi, kemudian memutuskan untuk bergabung dan belajar dengan mereka. 

Satu hal menarik yang masih ada sampai sekarang di marjin news adalah founding father dan seniornya menerima teman-teman yang ingin bergabung dengan mereka hanya dengan satu syarat; anda mau belajar dan menempa diri (berpikir dan bertindak out of the box). Mereka berani mengambil resiko terhadap segala hal, terutama tentang ketidaktahuan dari jurnalisnya di tengah persaingan media online yang semakin tinggi. 

Mungkin cukup penting jika saya harus mengatakan bahwa saya bergabung dengan marjinnews hanya dengan modal "saya tidak tahu apa-apa tentang jurnalistik", beserta harapan-harapan yang perlahan tiba. Marjinnews.com berhasil membuat saya jatuh cinta pada jurnalistik, dia berhasil membuat saya berani bertarung dengan mimpi. Saya yakin, orang-orang di rumah ini sepakat dan merasakan hal yang sama. 

Tetapi itu tidak terlalu penting, yang paling penting adalah bagaiamana marjinnews.com memperlakukan orang-orang yang berkarya (menulis) di sana. Ratingnya setingkat, tidak ada yang lebih spesial. Sama rata sama rasa.

Marjinnews.com adalah media untuk belajar, media untuk orang-orang muda yang berani memulai menulis. Jangan heran jika kalian menemukan tulisan-tulisan yang mungkin menurut kalian "tulisan ecek-ecek yang tidak layak dipublikasikan di media", mulai dari diksi yang tidak berbobot, penulisan beberapa kata hingga kalimat yang salah, makna yang lemah dan banyak "ketidaklayakan lain". 

Yah, namanya penulis pemula yang baru mulai menulis, tulisannya tidak langsung wow seperti yang biasa kita temukan di berbagai media mainstream. Tetapi marjinnews.com menerima tulisan-tulisan seperti itu, menerima dengan harapan orang-orang itu terus menulis dan menjadi penulis hebat. Sekali lagi, karena marjinnews.com adalah tempat untuk belajar, berkarya dan menempa diri. 

Pada pertengahan hingga akhir 2018, banyak pihak menyerang marjinnews.com di media sosial dengan propaganda buruk tentang media ini. Banyak hal dilakukan oleh penyerang, senjata utamanya adalah mencari kesalahan (teknis) pada setiap tulisan di marjinnews.com. Mempublikasikanya pada media sosial dengan hujatan-hujatan yang sangat subyektif. Kalian pasti tahu tentang ini.

Bagi sebagian orang, ini adalah tanda ketidakterimaan publik terhadap media ini, artinya marjin segera mengalah, mundur dan menghilang, maybe. Sudalah, jangan memaksa diri; misalnya dengan sindiran seprti itu. Tetapi bagi kami (baca: aktor-aktor marjinnews.com) itu adalah the real of fight. Pilihannya cuma dua, berada di zona nyaman dan kalah atau menantang dan berani mengambil resiko. 

Kami memilih yang kedua, menantang dan berani mengambil resiko. Tentu bukan menantang dengan kembali menghujat, atau membela diri dengan tidak mengakui kesalahan. Kami menantang dengan aksi dan prestasi, sembari sesekali berefleksi dan memperbaiki diri. Marjinnews.com melihat ini sebagai bagian dari proses dan kita harus berpikir out of the box. Menjadi pembeda dan bertarung tanpa mengenal takdir. 

Menantang Pilihan

Perumpaan tentang anak yang hilang di timur sungai Yordan (Lukas, 15:11-32) memberi banyak pelajaran buat kita tentang kasih. Terlepas dari itu, putra kedua dalam cerita tersebut juga memberi kita pelajaran bagi tentang memilih dan menantang pilihan. Bagi saya, putra kedua itu sudah berani memilih keluar dari zona nyaman namun pada akhirnya kalah dengan piilihannya sendiri. Kita mesti memilih dan melangkah agar hidup lebih hidup. 

Marjinnews.com itu pilihan dan sudah melangkah. Selanjutnya, bagaimana kita menantang pilihan dan menggunggat langkah tersebut. Pada dua tahun usia marjinnews.com, saya pastikan tubuh berkepala yang menggerakan marjinnews.com siap menggunggat setiap langkah, bahwa langkah mereka akan menyesatkan mereka pada kesuksesan. 

Sebagai penutup, saya ucapkan selamat ulang tahun marjinnews.com. Lebarkan sayapmu. Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. 


Oleh: Viky Purnama, 
Kontributor Wilayah Yogyakarta