Mencari Jalan Pulang
Cari Berita

Mencari Jalan Pulang

MARJIN NEWS
22 February 2019

Foto: Istimewa
CERPEN, marjinnews.com - Dua bulan belakangan ini, Ranaka karam dan pulas dalam pelukan awan pekat. Sementara orang-orang menjadi trauma untuk keluar rumah barang berkebun atau menggembalakan ternak peliharaan mereka. Bagaimana tidak, hujan berkepanjangan atau yang kami sebut dureng yang disertai angin kencang terus melanda kampung kami. Kami menjadi trauma ketika dureng dan angin kencang itu telah melenyapkan belasan nyawa dalam dua bulan terakhir ini. 

Nyawa mereka hilang oleh sebab bencana longsor, banjir dan tertimpa batang kayu yang tumbang karena tiupan angin. Kami lebih memilih berdiam diri dalam rumah walau dalam balutan dilema yang mengerikan. Kami tahu bahwa ternak peliharaan kami akan mati kelaparan atau tertimpa tanah longsor pun pepohonan yang tumbang. Atau bahkan nyawa kami sendiri akan terancam bila nekat menembus dureng dan angin badai. 

Suatu pagi aku nekat menembusi dureng dan angin badai menelusuri jalan kampung yang becek dan berlumpur menuju kota yang memakan waktu kurang lebih 150 menit menggunakan kendaraan bermotor. Sesampainya di kota, mantel dan kendaraanku dilumuri lumpur pekat. Sekiranya orang-orang kota memahami kondisi yang tengah terjadi, aku enggan untuk merasa malu. Entahlah, apa kata mereka tentang penampilanku yang jorok dan kotor. 

Aku memang terkadang begitu, tidak mudah malu atau pun tersinggung bila sesuatu menimpaku. Barangkali karena kulit jidatku terlalu tebal atau perasaanku yang sedikit mati suri. Pada sebuah emperan tokoh aku menyandarkan kendaraanku, lalu duduk di selasar emperan toko itu sambil menyulut sebatang kretek yang separuhnya telah aku hisap pagi tadi. Hujan semakin lebat, riuh angin menerbangkan dahan dan dedaunan. 

Bukan hanya dahan dan dedaunan yang melekat dalam tubuh gemuruh angin itu, aku melihat beberapa spanduk dan poster ikut terbang bersama dedaunan dan dahan. Ya, spanduk dan poster para calon legislatif di tahun pemilu mendatang. Sekonyong-konyong aku tersenyum seorang diri. Aku jadi ingat akan usaha dan perjuangan mereka yang sia-sia dalam hal pemasangan spanduk dan poster. Foto mereka yang terpampang gagah-megah di poster dan spanduk mesti terkoyak dan sobek akibat amukan angin tiada ampun. 

Usai tersenyum seorang diri, aku lalu berpikir jangan-jangan di mata angin orang-orang ini tidak layak dan pantas. Pikiranku kian kuat, sebab di antara  wajah-wajah yang berserakan di udara itu, ada wajah-wajah lama yang banyak mengumbar janji dan tidak pernah ditepati. Mereka pandai memberi janji sementara rakyat kecil membutuhkan bukti. Mulut mereka tiada jemu-jemu mengucapkan janji-janji manis yang menggiurkan, harapan-harapan palsu nan semu, kosong bagai perut beduk.      

Mereka menjanjikan pembangunan infrastruktur yang baik untuk wilayah pedesaan, menjanjikan listrik untuk menerangi pedesaan yang masih mengandalkan lentera dan lampu pelita melawan gelapnya malam. Akh, betapa malangnya nasibku ini. Lahir di kampung yang segalanya terbelakang. Saking terbelakangnya, kami selalu saja menjadi korban  pembohongan orang-orang yang pandai dalam kongkalingkong. 

Di musim dureng dan angin badai seperti sekarang ini, mereka duduk tenang dan bersenang-senang dalam rumah tanpa memikirkan apa-apa selain merancangkan kata-kata yang tepat dan berkarisma untuk mempengaruhi hati dan pikiran massa pemilih saat kampanye nanti. Sementara rakyat kecil semakin susah saja, rumah tempat mereka tinggal yang jauh dari kata layak harus berjibaku dengan kening pening nan kerut melawan guyuran hujan dan amukan angin. 

Musim dureng adalah musim yang amat sangat menyebalkan. Musim dureng adalah petaka yang selalu menawarkan segudang duka sebab di rumah kami tidak ada Elpiji atau Rice coocker  layaknya di rumah tuan-tuan dewan terhormat, untuk menggantikan kayu api dan periuk. 

Hujan sebesar biji jagung jatuh persis di kepalaku. Aku lalu terkejut dan terjaga dari lamunanku yang terlampau jauh. Akh, aku masih di selasar teras sebuah toko yang tertutup sebab musim begini sepi pengunjungnya. Sementara hujan tak kunjung reda, kabut-kabut merendah bercengkerama dengan lumpur dan tubuh jalan yang basah. 

Aku jadi cemas, jangan-jangan aku kehilangan arah jalan pulang. Kabut-kabut itu akrab sekali dengan tubuh jalanan, sehingga tak ada satu pun yang tampak di sana. Celaka ini, sialan !. Protesku kesal. Bagaimana aku harus pulang, sedangkan kabut-kabut belum menyingsing?. Mau menelepon orang di rumah, aku takut. Petir menyambar liar dengan gemuruhnya yang menggelegar.  Sementara mulut kian kering, sebab kretek sebatang pun tak ada dalam kantong celana. Lalu aku tiba-tiba terdorong untuk mengucapkan sesuatu kepada gerombolan kabut-kabut itu. 

Aku berusaha sebisa mungkin menahan kelabilan amarahku  yang kian membara. Aku pun sejenak tertegun, lalu berkata; wahai kabut-kabut yang mulia. Aku ini bukan siapa-siapa. Aku ini orang kecil dari kampung terpencil. Beri aku jalan pulang agar bisa bersua keluargaku tercinta. Aku tidak pernah berbohong pun memberikan janji-janji palsu kepada siapa pun di bawah kemuliaanmu. Aku ini rakyat jelata yang selalu berkelana dalam ketakberdayaaan. Masihkah kabut yang mulia memandang aku dalam ketidakpantasan ?. 

Sekonyong-konyong, kabut-kabut itu menyingsing pulang. Aku melihat badan jalan dengan jelas lalu bergegas pulang.

Oleh: Marselus Natar
Penulis adalah Rohaniwan Katolik pada Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus. Sekarang menetap di biara St. Yoseph - Maumere. Beberapa cerpennya pernah di publikasikan di Surat Kabar Harian Pos Kupang, Majalah OIKOS dan Majalah Warta Flobamora. Kopi, jagung goreng dan singkong rebus adalah minuman dan makanan kesukaannya.   


Keterangan:
Ranaka adalah nama sebuah gunung yang terletak di daerah Manggarai.
Dureng adalah sebutan untuk musim hujan yang berkepanjangan dan berkesinambungan tanpa henti; mulai dari pagi, siang dan malam dalam masyarakat Manggarai.