Menakar Peran Anak Muda dalam Menangkal Radikalisme
Cari Berita

Menakar Peran Anak Muda dalam Menangkal Radikalisme

9 February 2019

OPINI, marjinnews.com - Indonesia pada saat ini telah berumur 73 tahun. Perjalanan yang cukup panjang dan meninggalkan begitu banyak pengalaman sejarah dimana demi mencapai sebuah kemerdekaan harus dilalui dengan pengorbanan yang sangat keras. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa meski telah merdeka dengan usia yang sudah cukup tua itu menjamin bahwa Indonesia telah benar-benar merdeka. Kita masih berhadapan dengan penjajah baru yang justru lahir dari anak kandung ibu pertiwi sendiri.

Negara indonesia pada saat ini masih berhadapan dengan sebuah masalah radikalisme. Kasus ini telah menjamah setiap sendi kehidupan manusia Indonesia baik di bidangg politik, sosial, budaya, maupun ekonomi. Dengan memasuki usia yang sudah mapan ini masyarakat Indonesia belum menunjukan sikap solidaritas antara sesama masyarakat yang berbhineka.
Usia yang sudah tua ini sepertinya telah mengalami degradasi yang sangat tajam. Problematika ini dapat kita ketahui secara bersama dari lahirnya oknum-oknum atau kelompok tertentu yang melakukan tindakan radikalisme untuk mendapat keuntungan berlipat ganda demi kepetingan kelompok. Naasnya fakta menunjukkan bahwa persaingan ini justru membuat individu kehilangan rasa memiliki terhadap sesama masyarakat sebangsa  dan setanah air. 

Persaingan yang  dilakukan baik oleh  oknum-oknum atau kelompok tertentu membawa dampak buruk bagi masyarakat. Masyarakat menjadi kehilangan arah untuk mencapai suatu cita-cita luhur bangsa ini sesuai dengan yang tertera pada bunyi Pancasila ayat kelima yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.” Bahwasannya bunyi pancasila tersebut tidak diimplementasikan dalam kehidupan bersama.

Ironisnya, problematika yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia ini dilakukan oleh orang-orang yang boleh dikatakan memiliki peran penting dalam sebuah negara. Tindakan oknum-oknum ini justru bukan menjadi cerminan positif bagi generasi milenial, terutama kaum muda yang nantinya mampu mengambil alih tugas mereka. 

Mereka menjadi semacam jamur yang merusak harapan kaum muda. Latar belakang problematika yang terjadi disebabkan oleh sikap materialisme dan hedonisme yang membuat oknum-oknum tertentu melakukan tindakan yang tidak memiliki substansi kemanusiaan. Polemik yang kerap kali terjadi di tengah kehidupan masyarakat, membuat situasi menjadi sangat kacau.

Definisi Radikalisme
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikalisme adalah paham atau atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Kasus radikalisme di indonesia didominasi oleh tindakan para elit-elit politik yang tidak memandang siapa saja baik itu suku, budaya, agama, maupun etnis tertentu. 

Dengan problematika yang sangat pelik ini, Indonesia membutuhkan salvator utama sebagai aktor yang mampu menjadi problem solving atau pemecah masalah. Hemat penulis, aktor yang berperan penting dalam mengatasi kasus semacam ini adalah generasi muda. Modal idealisme dalam diri kaum muda menurut penulis mampu menjadi fondasi dasar untuk mengerakan roda pembaharuan. Idealisme yang diharapkan adalah idealisme yang memiliki kualitas untuk merevitalisasi reputasi bangsa yang semakin luntur. 

Kehadiran generasi muda sangat urgen tersebut dapat berupa: Pertama, pemuda hadir sebagai obor bagi masyrakat. Dalam arti bahwa pemuda mengarahkan masyarakat untuk lebih jeli dalam menyikapi berbagai tantangan yang dihadapi oleh sebuah negara terlebih khusus dalam menangani radikalisme agama dan budaya. Di samping mengingatkan bahwa negara kita adalah negara multikultur, negara yang memiliki beragam suku, budaya, etnis dan agama tertentu.

Kedua, pemuda hadir untuk mengarahkan masyarakat untuk menanamkan sikap toleransi terhadap sesama baik itu agama, budaya, suku, atau etnis tertentu atau tidak. Dengan kegiatan saling menghargai perbedaan pendapat dan kepercayaan. Dalam hal ini kecendrungan masyarakat untuk melakukan tindakan radikaliasme dapat berkurang.

Ketiga, pemuda berani memberikan aspirasi terhadap kejanggalan yang terjadi pada setiap kebijakan negara. Dalam hal ini pemuda harus menentang segala tindakan radikalisme dari para elite-elite politik atau oknum-oknum tertentu yang memiliki sistem kepemimpinam bersifat destruktif sambil bersandar pada dasar negara  yaitu Pancasila.

Keempat, pemuda hadir sebagai promotor dengan melakukan desentralisasi baik dalam bidang budaya, politik, maupun ekonomi dengan tujuan memberdayakan masyarakat lokal dan menggerakan cara berpikir yang masih dangkal demi tercapainya sebuah negara yang berkualitas bebas dan damai. Lebih dari pada itu Pemuda harus mampu mengimplementasikan arti dari empat pilar negara kita yaitu PANCASILA, UUD, NKRI, dan BINEKA TUNGGAL IKA. Dengan upaya seperti ini hemat saya dapat mengurangi terjadinya kasus radikalisme.

Melihat problematika yang terjadi kita semua mengharapkan akan adanya pembawa perubahan, pembawa pembaharuan. Dengan empat solusi yang ditawarkan hemat penulis sedikit membantu dalam mengatasi kasus radikalisme di Negara Kesatuan Republik Indonesia sambil tetap berpayung di bawah empat pilar negara NKRI.

Oleh: Fransiskus Chandra Jas
Kader PMKRI Cabang Surabaya