Membangun Paradigma Intelektual dalam Menyikapi Industrialisasi (1)
Cari Berita

Membangun Paradigma Intelektual dalam Menyikapi Industrialisasi (1)

15 February 2019

Foto: Dok. Pribadi
OPINI, marjinnews.com - Intelektualitas merupakan sebuah paradigma yang menarik untuk diaplikasikan dalam program-program penelitian yang menaruh perhatian pada pelacakan tafsir-tafsir (Interpretations) atas suatu ide atau konsep yang muncul dalam kurun waktu tertentu di masa lalu. Menurut Profesor Heddy Shri Ahimsa Putra dari UGM Yogyakarta paradigma (paradigm) dapat di lihat sebagai sinonim dari perspektif (perspective),pendekatan (approach), sudut pandang (point of view), kerangka teoritis (theoretical framework), kerangka analitik (analytical framework) dan aliran atau madzhab pemikiran (school of thought).

Beliau berargumen bahwa paradigma terdiri dari beberapa elemen dan relasi-relasi (basic elements and relations), yaitu (1)Asumsi dasar (basic assumptions) (2) nilai (values) (3) model (models), (4) masalah untuk di pecahkan (problem to selve), (5) konsep (concepts), (6) metode penelitian (research methods), (7) metode analisis (methods of analysis), (8) hasil dari analisis (result of analysis). Tiga elemen yang pertama umumnya bersifat implisit, sedangkan lainya eksplisit. Beliau mengembangkan teori ini berdasarkan analisis kritisnya terhadap pemikiran Thomas Kuhn serta E.C. Cuff dan G.C.F. Payne’s. 

Mahasiswa sebagai agent of change seharusnya memgembangkan nalar kritisnya terhadap perkembangan jaman. Dengan kemampuan berfikirnya seharusnya mahasiswa peka terhadap keadaan lingkungan sekitarnya. Perkembangan industri di lingkungan sekitar misalnya. Banyak penelitian mengungkapkan di era sekarang terjadi banyak sekali pembangunan Industri yang luar  biasa sekali dampaknya. Baik dampak dari lingkungan maupun  dampak dari ekonomi yang tentunya ada nilai negative dan positif. 

Pro dan kontra dalam pembangunan industri nampaknya menjadi isu yang sedang hangat-hangatnya di bahas oleh masyarakat,baik masyarakat tingkat bawah hingga tingkat elit. Industrialisasi tampaknya merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan bagi manusia. Secara historis kehadiran industri-industri berskala besar di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan kolonisasi orang barat di berbagai daerah di Indonesia. 

Cikal bakal industrialiasi di indonesia bisa di runut dengan hadirnya industri perkebunan pada masa tanam paksa. Loncatan besar terjadi ketika UU Agraria tahun 1870 di berlakukan karena sejak saat itu pemodal-pemodal asing berlomba-lomba menanamkan modalnya di Indonesia dan salah satunya pada bidang Industri manufaktur. Pabrik gula berdiri dimana-mana,di ikuti dengan berdirinya industri-industri barang kebutuhan sehari-hari dalam skala besar serta industri manufaktur lainya. Setelah Indonesia merdeka, sektor industri mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Sebagai sesuatu yang baru,Industri me-munculkan dampak yang sangat beragam bagi kehidupan manusia,baik dampak non-sosial maupun dampak sosial seperti pada perubahan ciri fisik sebuah kota,pencemaran lingkungan, dan sebagainya. Secara sosial, industrialisasi telah mendorong berbagai perubahan sosial kemasyarakatan.

Kuntowijoyo (1991:171-184) mengatakan bahwa industri merupakan salah satu variable pendorong perubahan sosial yang dominan dalam abad-abad terakhir, sehingga kahadiran industri tersebut akan memunculkan apa yang di sebutnya sebagai masyarakat industri yang berbeda sekali dengan apa yang di sebut sebagai masyarakat agraris. Menurutnya, transformasi sosial menuju masyarakat industri merupakan sunnatullah yang tak terelakkan. 

Namun, ia juga memberikan rambu-rambu bahwa industrialisasi bukanlah suatu perjalanan sejarah yang unilineal dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, masyarakat tradisional ke masyarakat modern, tetapi merupakan suatu evolusi yang multilineal. Menurutnya, tidak setiap masyarakat akan mengalami proses yang sama,kecepatan yang sama, atau akibat yang sama.

Hal yang tak terhindarkan dengan terjadinya industrialisasi adalah terjadinya urbanisasi yaitu perpindahan masyarakat desa ke kota. Menurut para ahli di daerah Barat, urbanisasi berdampingan dengan industrialisasi atau kebalikanya, Industrialisasi akan mendorong proses urbanisasi. Perkembangan industri dan perdagangan akan menciptakan sebuah daya tarik masyarakat desa menuju ke kota. 

Kedatangan masyarakat desa yang jumlahnya semakin banyak menyebabkan kerumunan di setiap daerah yang menjadi pusat-pusat Industri dan mau tidak mau akan menyebabkan perluasan wilayah perkotaan, sehingga tentunya melahirkan sebuah permasalahan baru yang tentunya harus sangat di perhatikan. 

Perluasan sebuah kota menyebabkan tergusurnya sebagian tanah yang seharusnya menjadi tanah untuk bercocok tanam, sebagai akibat meledaknya populasi masyarakat di sekitar area industri. Tanpa di sadari dengan maraknya perubahan tata kota juga berpengaruh dengan keadaan lingkungan. Lebih lanjut (Horton, 1984: 137) Dengan demikian, Industri merupakan salah satu daerah inti dari perkembangan atau pertumbuhan sebuah kota. 

Pendapat ini sejalan dengan pendapat Sirjamaki (1964). Menurutnya, daerah-daerah yang memiliki potensi ekonomi yang baik merupakan daerah yang mempunyai daya tarik yang kuat untuk pertumbuhan (pemekaran) kota. Oleh sebab itu, daya tarik di luar kota terletak pada daerah-daerah yang memiliki kegiatan ekonomi yang menonjol seperti pelabuhan, terminal, kawasan industri, dan sebagainya.

Sejarah Industri di Indonesia
Pada sekitar tahun 1920-an industri-industri modern di indonesia hampir semua nya di miliki oleh orang asing, meskipun jumlahnya relatif sedikit. Industri kecil yang ada pada masa itu hanya berupa industri-industri rumah tangga seperti penggilingan padi, tekstil dan sebagainya yang tidak terkoordinasi. Tenaga kerja terpusat di sektor pertanian dan perkebunan untuk memenuhi kebutuhan ekspor pemerintah kolonial. Perusahaan besar American Tobacco dan perakitan kendaraan bermotor General Motor Car Assembly. Depresi besar yang melanda sekitar tahun 1930-an telah meruntuhkan perekonomian. Penerimaan ekspor turun dari 1.448 juta gulden (tahun 1929) menjadi 505 juta Gulden (tahun 1935).

Sehingga mengakibatkan pengangguran. Situasi tersebut memaksa pemerintah kolonial mengubah sistem dan pola kebijaksanaan ekonomi dari menitik beratkan pada sektor perkebunan ke sector industri, dengan memberikan kemudahan-kemudahan dalam pemberian izin dan fasilitas bagi pendirian industri baru. 

Menurut sensus industri kolonial pertama (1939), Industri-industri yang ada ketika itu telah memperkerjakan tenaga kerja sebanyak 173 ribu orang yang bergerak dibidang pengolahan makanan dan tekstil serta barang-barang logam, dan semuanya di miliki oleh asing. Meskipun sumber dan struktur investasi pada masa itu tidak terkoordinasi dengan baik tetapi, menurut sebuah taksiran, stok investasi total yang berada di Indonesia pada tahun 1937 sebanyak kurang lebih US$ 2.264 juta, lebih dari separuhnya (US$ 1.411 juta) dimiliki oleh sektor swasta. Dari jumlah tersebut belanda memegang andil terbesar, sebanyak 63% kemudian Inggris sebanyak 14% Cina 11% dan Amerika Serikat sebanyak 7%.

Pada masa Perang Dunia ke II kondisi industrialisasi cukup baik, namun keadanya terbalik semasa kependudukan jepang atas Indonesia. Hal itu disebabkan adanya larangan impor bahan mentah, di angkutnya barang-barang kapital ke jepang dan pemaksaan tenaga kerja (romusha) sehingga investasi asing pada masa itu praktis menjadi nihil. 15 Tahun kemudian setelah merdeka, Indonesia menjadi pengimpor besar barang-barang kapital dan teknologi, serta memulai memprioritaskan pengembangan sektor Industri dan menawarkan investasi asing. Berkat kebijakan itu, penanam modal asing mulai berdatangan meskipun masih dalam taraf sekedar coba-coba.

Pada tahun 1951, pemerintah meluncurkan kebijakan RUP (Rencana Urgendi Perekonomian). Program utamanya ialah menumbuhkan dan mendorong industri-industri kecil bagi pribumi sembari memberlakukan pembatasan-pembatasan industri-industri besar atau modern yang pada waktu itu banyak di miliki oleh Eropa dan China. Kebijaksanaan RUP ternyata menyebabkan investasi asing berkurang, apalagi dengan adanya situasi politik yang sedang bergejolak pada masa itu; namun di sisi lain pihak telah memacu tumbuh suburnya sektor bisnis oleh kalangan pribumi kendati masih relatif kecil. Menyadari hal tersebut, pemerintah kemudian beralih pada pola kebijaksanaan yang menitik beratkan pengembangan industri-industri yang di jalankan atau di miliki oleh pemerintah. 

Sesudah tahun 1957 sektor industri mengalami stagnasi dan perekonomian mengalami masa teduh, sepanjang tahun 1960-an sektor industri praktis tidak berkembang. Selain akibat dari situasi politik yang selalu bergejolak, juga di sebabkan karena langkanya modal dan tenaga ahli yang terampil. Aliran modal yang termasuk mayoritas dari negara sosialis dalam bentuk pinjaman (hampir setengahnya dari Rusia). 

Pada masa itu perekonomian dalam keadaan sulit akibat inflasi yang parah dan berkepanjangan, menurut PDB kecilnya peran sektor industri di dominasi oleh industri-industri berat seperti pabrik baja di Cilegon dan pabrik super Fosfat yang berada di Cilacap. Keadaan ini terwariskan hingga kepemerintahan Orde Baru, dimana pemerintahan Orba melakukan perubahan-perubahan besar dalam rangka kebijakan perindustrian. Keadaan semakin baik dengan berhasil dan suksesnya kebijakan stabilitas di tingkat makro dan di laksanakanya kebijakan di berbagai bidang.

Dampak Industrialisasi 
Otto Soemarwotto (2009:36),menerangkan bahwa di dalam undang-undang baik dalam undang-undang No.4, 1982, maupun dalam NEPA 1969, dampak di artikan sebagai pengaruh aktivitas manusia dalam pembangunan terhadap lingkungan. Menurut UU No.5 tahun 1984 tentang perindustrian adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah,bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya, termasuk dalam kegiatan rancang bangun dan perekayasa industri.
Pembangunan industri bertujuan untuk : 

Meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata   dengamemanfaatkan dana, sumberdaya alam, dan/atau hasil budidaya serta memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup; Meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara bertahap, mengubah struktur perekonomian ke arah yang lebih baik, maju, sehat, dan lebih seimbang sebagai upaya untuk mewujudkan dasar yang lebih kuat dan lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi pada umumnya, serta memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan industri pada khususnya; 

Meningkatkan kemampuan dan penguasaan serta mendorong terciptanya teknologi yang tepat guna dan menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuan dunia usaha nasional. Meningkatkan keikut sertaan masyarakat dan kemampuan golongan ekonomi lemah, termasuk pengrajin agar berperan secara aktif dalam pembangunan industri; Memperluas dan memeratakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, serta meningkatkan peranan koperasi industri.

Meningkatkan penerimaan devisa melalui peningkatan ekspor hasil produksi nasional yang bermutu, di samping penghematan devisa melalui pengutamaan pemakaian hasil produksi dalam negeri, guna mengurangi ketergantungan kepada luar negeri; Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan industri yang menunjang pembangunan daerah dalam rangka pewujudan wawasan nusantara; Menunjang dan memperkuat stabilitas nasional yang dinamis dalam rangka memperkokoh katahanan nasional.

Dampak Terhadap Bidang Sosial Ekonomi
Menurut Sindung Haryanto (2011:22), Sosiologi ekonomi merupakan disiplin yang berada di luar ekonomi, terutama karena berfokus pada pasar secara empiris, lebih tepatnya pada pasar-pasar (jamak), bukan pasar (tunggal), pada mekanisme pasar, atau (sebagai negasinya) kagagalan pasar. Adanya industri menyebabkan terbukanya peluang penyerapan tenaga kerja karena perusahaan banyak menarik masyarakat setempat untuk ikut andil dalam memperoleh lapangan pekerjaan baru. Industri juga sangat berpengaruh terhadap berkembangnya struktur ekonomi di daerah sekitar industri. 

Namun yang menjadi masalah ialah tidak semuanya masyarakat di daerah industri mendapatkan lapangan pekerjaan, baik karena persoalan sumber daya kualitas masyarakatnya dan juga di karenakan industri di era modern ini banyak menggunakan mesin untuk menggantikan tenaga manusia, yang di harapkan mengurangi pengeluaran dan cacat produk yang penyebab besarnya di karenakan oleh pekerja manusia. 

Hal ini tentu menjadi catatan bagi pemerintah untuk membuat kebijakan yang berpihak kepada masyarakat,terutama dalam hal industri dewasa ini banyak di temukan protes masyarakat akan kehadiran sebuah industri, yang menurut masyarakat tersebut adanya sebuah industri di daerahnya tidak mengubah kondisi perekonomian di daerahnya.

Adanya sebuah industri seharusnya berpengaruh terhadap perubahan pendapatan masyarakat di daerah itu. Dalam hal ini peluang masyarakat untuk berwirausaha di sekitar lokasi industri terbuka sangat luas,baik wirausaha berupa perdagangan maupun jasa. Namun tidak di pungkiri di beberapa daerah masyarakat tidak di beri ruang sedikitpun oleh pimpinan sebuah industri, dalam hal ini pimpinan industri menutup rapat-rapat atau seakan akan buta terhadap nasib masyarakat di sekitar lokasi industri. 

Akan tetapi,meskipun memberikan dampak yang begitu luas bagi kehidupan masyarakat terutama di bidang ekonomi, industri juga akan menimbulkan masalah baru di masyarakat, yaitu adanya konflik. Masalah konflik ini bukan lagi hal baru di sektor industri, mulai dari ketidakpuasan para pekerja terhadap gaji yang di berikan dan juga permasalahan lingkungan akibat limbah pabrik yang mencemari lingkungan di sekitar. Masalah konflik lahan juga kerap terjadi antara perusahaan dengan masyarakat lokal yang lahan nya di gusur akibat pembangunan sebuah industri. 

Tidak hanya konflik lahan,persaingan antar anggota masyarakat. Persaingan yang ada yaitu persaingan dalam hal keterampilan (skill) dan pengetahuan masyarakat pada bidang pekerjaan yang menuntut kedua hal tersebut. Tumbuhnya kawasan industri tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan di berbagai sisi kehidupan, baik perubahan kondisi alam maupun perubahan nilai-nilai kehidupan yang telah ada di masyarakat. (Lanjut ke bagian ke-2)

Oleh : Afrizky Fajar Purnawan 
PK IMM Al Qossam UMSurabaya