Kunjungan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Paus Dikejar oleh Seorang Bocah Hanya Untuk Beri Surat
Cari Berita

Kunjungan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Paus Dikejar oleh Seorang Bocah Hanya Untuk Beri Surat

MARJIN NEWS
7 February 2019

Foto:Dok. Istimewa

ABU DHABI, marjinnews.com - Hari terakhir kunjungan Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab pada Selasa (5/2/2019) menjadi kisah tersendiri bagi seorang perempuan.

Dia menjadi pusat perhatian ketika berlari ke arah mobil Paus Fransiskusyang tiba di Stadion Olahraga Zayed, Abu Dhabi, untuk memberi misa terbuka bagi umat Katolik di sana.

Mengenakan baju putih berwarna putih dan celana pink, video yang beredar di media sosial memperlihatkan bocah itu berlari sambil membawa sesuatu di tangannya.

Gulf News memberitakan Rabu (6/2/2019), bocah itu diidentifikasi bernama Gabriela, dan datang ke Abu Dhabi bersama keluarganya.

Dalam wawancara video dengan Virgin Radio, Gabriela mengatakan dia dan keluarganya sengaja menempuh jarak 13.500 km hanya untuk bertemu Paus Fransiskus.

Seraya digendong oleh petugas keamanan, Gabriela memberikan benda yang ternyata merupakan surat kepada Paus Fransiskus.

Bocah itu mengaku sudah mempersiapkan surat untuk diberikan kepada Paus asal Argentina tersebut. "Saya ingin beliau membaca surat saya," ujar dia. 

Dalam video yang kemudian viral tersebut, Paus Fransiskus meminta sopir Mobil Kepausan untuk berhenti, di mana dia kemudian memberikan berkat kepada Gabriela.

Saat perjalanan kembali ke Vatikan, Paus Fransiskus memuji tekad yang ditunjukkan oleh Gabriela untuk berlari ke arahnya.

"Anak ini mempunyai masa depan!" kata Paus 82 tahun itu bersemangat kepada awak media sepanjang perjalanan pulang.

"Saya menyukainya. Anda harus mempunyai keberanian untuk melakukannya," ujar Paus ke-266 dalam sejarah Gereja Katolik tersebut.
Oil
Kehadiran anak-anak kepada Paus Fransiskus bukanlah hal baru.

Pada 2015, bocah lima tahun di Amerika Serikat (AS) juga berlari, dan memberikan gambar dari krayon kepada dia

Quraish Shihab Bertemu Paus Fransiskus

Pada Senin (4/2/2019), dunia menyaksikan momen bersejarah bagi ditandatanganinya Deklarasi Abu Dhabi oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Alzhar, Dr Ahmed At-Tayyeb.

Ini kali pertama bagi seorang pemimpin Gereja Katolik Roma menginjakkan kaki di Uni Emirat Arab, negara di Semenanjung Arab.

Sebelum memimpin misa kudus yang dihadiri 150.000 umat Katolik di UEA, Paus Fransiskus menandatangani deklarasi "Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidu Berdampingan".

Forum tersebut turut dihadiri oleh 400 pemimpin agama, termasuk dari Indonesia.

Dia adalah ulama dan pakar tafsir Al-Quran Quraish Shihab, dalam kapasitasnya sebagai anggota Majelis Hukama’ Al-Islam atau Moslem Elders Councils.

Organisasi tersebut bertujuan untuk menghindarkan kekerasan dalam bentuk apapun, dan mengedepankan dialog serta menegaskan tentang penghormatan terhadap perbedaan pendapat.

Quraish Shihab juga tak melewatkan sebuah momen istimewa ketika dia bersalaman dengan Paus Fransiskus.

Dalam rilis dari Pusat Studi Al-Quran yang diterima Kompas.com, Rabu (6/2/2019), menyebutkan Quraish Shihab juga memberikan ceramah yang berjudul Persaudaraan Manusia: Tantangan dan Kesempatan.

"Agama dan kemanusiaan berdampingan untuk menciptakan kehidupan yang damai dan harmoni," demikian ceramahnya di hadapan para pemimpin keagamaan.

Quraish Shihab menilai, tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan persaudaraan manusia adalah peradaban modern yang terlalu mementingkan aspek material dan mesin, disertai dengan sifat rakus, egoisme dan mengesampingkan kemanusiaan.

Di sisi lain, dia optimistis soal kesempatan untuk melaksanakan persaudaraan manusia masih terbuka luas.

Semua itu dapat diwujudkan dengan sejumlah langkah, termasuk hubungan yang baik antara tokoh agama, saling tukar pikiran antarsesama, dan gagasan yang mencerahkan untuk kebaikan umat manusia dan kedamaian dunia.

Misa Terbuka  

Momen bersejarah terjadi di Uni Emirat Arab (UEA) di mana Paus Fransiskus menggelar misa massal untuk sekitar 170.000 umat Katolik di sana.

Paus melambai di antara kerumunan yang membawa spanduk maupun bendera Vatikan ketika dia sampai di Stadion Olahraga Zayed.

Dilaporkan AFP Selasa (5/2/2019), altar dengan salib besar didirikan untuk menggelar misa secara terbuka yang belum pernah terjadi di UEA.

Paus Fransiskus yang menjangkau komunitas Muslim sebagai landasan kepausannya, mengakhiri kunjungan selama tiga hari dengan menghelat misa.

"Betapa membahagiakannya bagi saudara sekalian bisa bersatu di langit ini," kata pemandu acara dalam bahasa Arab saat Paus tiba pukul 10.00 waktu setempat.

Selama di Abu Dhabi, pernyataan publik Paus Fransiskus menjurus kepada adanya upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Dalam homilinya, paus berusia 82 tahun itu mengarahkan fokus kepada ribuan pekerja migran yang menghuni negara teluk tersebut.

Paus Fransiskus berkata, pasti merupakan momen yang berat bagi mereka untuk bekerja dengan keluarga mereka berada di seberang lautan.

"Kalian kehilangan kasih sayang dari keluarga, dan menghadapi tantangan masa depan yang tak berubah. Namun Tuhan itu Pemurah dan tak akan meninggalkan umat-Nya.

Kunjungan Paus Fransiskus disambut hangat umat Katolik dari India dan Filipina. Ada sekitar satu juta umat Katolik di UEA.

Sebagai putra migran Italia yang lahir dan besar di Argentina, Paus Fransiskus sangat menaruh perhatian pada isu migran dan pengungsi.

Di dalam stadion, 50.000 umat Katolik yang membawa tiket melambai, dengan salah satu kelompok kecil membentangkan spanduk "Kami Umat Katolik Yaman Mengasihimu".

Sementara 120.000 orang sisanya memilih mengikuti misa dari luar stadion dengan panitia menyediakan layar besar.

Paroki di seluruh UEA menyatakan, mereka sudah membagikan sekitar 135.000 tiket bagi umat. Sementara 4.000 diberikan bagi Muslim yang ingin datang.

UEA mengundang Paus Fransiskussebagai bagian dari "Tahun Toleransi" 2019 dengan Menteri Toleransi Sheikh Nahyan bin Mubarak menyambut umat.

Pada Senin (4/2/2019), Paus dengan nama asli Jorge Mario Bergoglio menyerukan berhentinya konflik di Timur Tengah saat pertemuan lintas agama.

Di hadapan rabi dan sheikh ternama, dia menuturkan setiap pemimpin keagamaan mempunyai tugas menolak setiap kalimat yang bisa menjurus kepada perang.

Meski tidak mendiskusikan politik dia meminta adanya "pengakuan utuh" bagi seluruh kelompok masyarakat yang ada di Timur Tengah.

"Saya melihat masyarakat dari berbeda keyakinan mempunyai hak kewarganegaraan yang sama, dengan kekerasan harus dihapuskan," tegasnya.

Sumber: kompas.com
Editor: Remigius Nahal