Kapolres Manggarai Diminta Profesional Tangani Kasus Penganiayaan yang Dilakukan Oknum Polisi Terhadap Warga di Matim
Cari Berita

Kapolres Manggarai Diminta Profesional Tangani Kasus Penganiayaan yang Dilakukan Oknum Polisi Terhadap Warga di Matim

MARJIN NEWS
10 February 2019

Hasil gambar untuk ilustrasi gambar laporan polisi
Gambar: Ilustrasi



RUTENG, marjinnews.com -Kapolres Manggarai harus mengedepankan profesionalisme penyidiknya dalam memproses laporan polisi dari masyarakat, termasuk laporan Herman Mbawa, seorang warga Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Bripka Lalu Sukiman, Kepala Pos Polisi (Kapospol) Elar, Kabupaten Manggarai Timur.

Untuk diketahui laporan polisi sudah dilayangkan pada tanggal 30 November 2018 sehari setelah kejadian perkara penganiayaan yang terjadi di Elar, akan tetapi hingga saat ini pelapor Herman Mbawa tidak pernah mendapat SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan) sebagaimana layaknya SOP penyidik Polisi Republik Indonesia (Polri) di seluruh Indonesia dalam memberikan pelayanan publik bagi masyarakat bahkan program Profesional, Modern, dan Terpercaya (PROMOTER) dari Kapolri.

Koordinator TPDI, Petrus Selestinus, dalam keterangan tertulis yang diterima media ini mengatakan bahwa buruknya pelayanan keadilan dan penegakan hukum oleh Polri termasuk tidak fair-nya penyelidik dan penyidik dalam melayani proses penegakan hukum dan ketertiban, di samping tidak adanya keberpihakan Polres Manggarai terhadap laporan masyarakat kecil yang sering dipertontonkan oleh Polres Manggarai di hadapan publik, antara lain dapat disaksikan dalam kasus laporan polisi Herman Mbawa.

Selanjutnnya, menurut Selestinus, kasus laporan polisi Herman Mbawa ini menjadi pergunjingan di tengah masyarakat Manggarai karena Kapolri mencanangkan Polri yang Promoter, tetapi praktek dan orientasi oknum anggota Polisi di Manggarai justru membangkangi program Promoter Kapolri melalui aksi penegakan hukum hanya berpihak kepada mereka yang kuat dan memiliki banyak uang.


Sebagai contoh kasus laporan polisi Herman Mbawa yang melaporkan dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh Bripka Lalu Sukiman, Kapospol Elar yang sudah dua bulan lebih berjalan, namun hingga saat ini tidak ada kemajuan penyelidikan atau penyidikan yang diinformasikan kepada pelapor Herman Mbawa selaku korban. Polres Manggarai malah lebih bersemangat memproses laporan Bripka Lalu Sukiman bahwa Herman Mbawa telah menghinanya dengan laporan tentang dugaan penganiayaan itu” terangnya

Menurut Selestinus, Kapolri harus menghentikan praktek-praktek intimidasi terhadap rakyat kecil yang dilakukan oleh oknum-oknum Polri terhadap rakyat kecil di Manggarai, termasuk dengan cara rekayasa laporan balik sebagaimana dalam laporan polisi Bripka Lalu Sukiman, Kapospol Kecamatan Elar, Polres Manggarai bahwa Herman Mbawa, korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Bripka Lalu Sukiman, pada tanggal 29 November 2018, sebagai perbuatan fitnah terhadap dirinya (Bripka Lalu Sukiman).

Laporan Polisi Lalu Sukirman yang dimaksud adalah Laporan No : LP/235/XII/2018/NTT/Res. Manggarai tanggal 7 Desember 2018 untuk mengcounter Laporan Polisi Herman Mbawa Nomor : LP/230/XI/2018/NTT/Res. Manggarai, tertanggal 30 November 2018, sebagai daya tawar membujuk Herman Mbawa mencabut Laporan Polisi Penganiayaan atas dirinya” tukasnya

Lebih lanjut Kordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia itu mengatakan bahwa sikap melindungi kepentingan korps secara berlebihan pada gilirannya hanya melahirkan sikap tidak simpatik yang meluas dari masyarakat terhadap Polisi, karena Kapolres Manggarai dianggap bersikap tidak adil dalam proses penyidikan dan tidak mendidik anggotanya yang sering bertindak main hakim sendiri terhadap rakyat kecil. (EJ/MN)