Hening, Puisi-Puisi Adryanto Pratama
Cari Berita

Hening, Puisi-Puisi Adryanto Pratama

Marjin News
6 February 2019

(foto: dok. pribadi)

Hening

Cahaya memerah diufuk barat mulai menyentuh batas langit.
Sang matahari perlahan menyembunyikan sinarnya ke bawah bumi.
Tak ada suara, selain desau angin, adjan dan lantunan ayat-ayat suci yang merdu.
Kumatikan lampu, lalu kunyalakan lilin.

Suram, hanya cahaya lilin yang nampak meremangkan kamarku sore itu.
Kukatupkan tangan, menundukan kepala, memejamkan mata berserah, bersujud kepada tuhan.
Khusuk,senyap, berdoa tanpa mengeluarkan suara.
Mencurahkan semua kepelikan,kepahitan hidup memohon kepada tuhan agar diberikan kemudahan dalam menjalani hidup.

Seakan menyihirku menari diantara lilin yang menyala.
Sekian menit dalam keheningan, lampu kamar kembali kunyalakan.
Seakan doa terkabulkan dan tuhan memberi jalan dan terang bagi kepahitan hidupku,
Aku percaya doa dalam keheningan tuhan akan mengabulkan semua permohonan kita.

Kamar kos, February 2019

Tentang February

Tentang hujan yang membuyarkan semua kenangan
Tentang cinta yang telah kita rajut bersama selama satu tahun lebih
Rintik-rintik hujan pembawa rindu kembali kesarangnya
Memuncak, tumpah kehabisan penampungnya
Meresap kedasar tanah lalu tumbuh ke akar-akar kerinduan

Kini bertamu dalam balutan imajinasi
Kemudian kutuangkan semua kisah itu meski tak habis dalam satu cerita
Kugoreskan dan kuabadikan semua kenangan itu
Masih kuiingat senyummu padaku waktu itu
Seakan membiusku dalam cinta yang diam

Tak karuan menggarukan kepala malu diam seribu bahasa
Namun tuhan memang baik mengirim bidadari dalam rupamu
Yang kemudian kupersunting dirimu menjadi pelengkap hidupku
Kini hidup lebih berwarna, tak ada lagi sepi yang membungkus kehidupan kita
Tetaplah menjadi kita hingga maut menjemput
.*
Jakarta, february 2019



Oleh: Fransiskus Adryanto Pratama, Mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta