Debat Pilpres 2019 dan Matinya Nalar Kritis Netizen Kita

Foto: Dok. Pribadi
OPINI, marjinnews.com - Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis fakta yang ada kemudian membuat beberapa gagasan dan mempertahankan gagasan tersebut kemudian membuat perbandingan. Dengan membuat beberapa perbandingan kita bisa menarik kesimpulan dan membuat sebuah solusi atas masalah yang ada. (Chance : 1986)

Nalar kritis merupakan potensi yang tersembunyi dan dimiliki oleh seluruh manusia. Nalar Kritis adalah suatu cara berpikir evaluatif untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang obyektif. Sementara itu, Gerhard (1971) menyebut nalar kritis sebagai suatu proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data, dan evaluasi data dengan mempertimbangkan aspek kualitatif dan kuantitatif serta melakukan seleksi atau membuat keputusan berdasarkan hasil evaluasi.

Baru saja pasca debat capres ke 2 dilaksanakan, tersebar di media sosial Jokowi dituduh oleh netizen menggunakan alat bantu dengar yang berupa pulpen. Muncul gambar yang beredar seolah-olah Jokowi  terlihat memegang pulpen yang diduga tersambung nirkabel untuk mendapat arahan pihak lain selama debat berlangsung. Tak hanya pulpen, Jokowi juga terlihat sering memegang ke dua telinganya, sehingga memunculkan asumsi negative dari para netizen yang 'tidak suka' dengan Jokowi.

Ditemukan kegagalan dalam berlogika pasca Debar Pilpres ke 2. Narasi yang dibangun oleh netizen cenderung tidak mendasar dan tidak bisa dibuktikan secara faktual, dan anehnya banyak juga netizen yang lain percaya begitu saja pada gambar yang hari ini sangat viral. Akibat dari semua itu, muncullah tagar #savepulpen di media sosial yang semakin menambah geger jagad dunia maya.

Melihat realita tersebut, penulis mencoba mengajak netizen untuk berlogika secara sehat dan membangkitkan nalar kritis dalam melihat substansi serta crosscheck data dan fakta yang dipaparkan oleh masing-masing kandidat ketimbang memperdebatkan pulpen yang dipegang Jokowi. 

Debat kemarin mengangkat tema yang cukup menarik bagi penulis. Ke-2 calon memaparkan dan beradu argument. Capres 01 mengatakan "Produksi sawit di Indonesia sudah mencapai 46 Juta ton per tahun, dan melibatkan kurang lebih 16 juta petani". Hal ini tentu bertolak belakang dengan fakta yang ada, bahwa dari tahun 2010 hingga tahun 2017 produksi sawit di Indonesia tidak pernah mencapai angka 46 Juta Ton. 

Pada tahun 2017 produksi sawit hanya mencapai angka 34,46 Ton (Direktorat Jendral Perkebunan). Artinya, pertumbuhan produksi sawit per tahun tidak pernah mencapai angka 46 Juta ton dan jauh dari angka yang dikatakan oleh capres 01.

Kemudian dari capres 02 mengatakan "...Laporan-laporan bank Dunia yang terakhir-terakhir mengatakan bahwa tidak terlihat dampak terhadap  pertumbuhan ekonomi secara rill (yang dihasilkan dari) pembangunan infrastruktur yang dianggap tidak efisien dan tidak sesuai dengan proses-proses yang tertib". Padahal dari beberapa studi yang dilakukan oleh AS. Investasi infrastruktur turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dengan keuntungan investasi mencapai 60%. 

Infrastruktur juga berfungsi untuk mengurai kemacetan, seperti sistem transportasi antar-kota di China, yang menghubungkan suplai bahan mentah, batu bara, dan listrik (openknowledge.wordbank.org). Tentu perkataan dari Capres 02 bertentangan dengan fakta yang sudah dipaparkan. 

Berdasarkan fakta-fakta yang ada, penulis beranggapan masing-masing calon kurang jeli dalam melihat fakta yang ada, sehingga apa yang diucapkan malah bertentangan dengan fakta yang ada, tentu hal ini bila diteruskan dan tidak berusaha untuk diperbaiki maka akan merugikan (elektabilitas) kedua belah pihak.

Hasil debat kemarin (infrastruktur) juga di nilai oleh Akhmad Akbar (Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM) masih terlalu umum dan tidak terstruktur. Dia mengatakan "Seharusnya ada poin-poin pertanyaan yang tegas, seperti 'menurut anda, apakah infrastruktur penting? Mengapa? Jika iya, apa masalah utama terkait infrastruktur kita? Solusi apa yang Anda tawarkan dan akan seperti apa pelaksanaannya ?".

Debat kemarin menurutnya belum bisa secara utuh menggambarkan masalah yang ada, respons pokok calon, strategi, atau programnya untuk mengimplementasikan respons tersebut.

Membahas tema tentang lingkungan hidup. Capres 01 mengatakan "... penegakan hukum untuk pelanggaran lingkungan dan menyebutkan adanya kolusi pejabat-pengusaha". Kemudian langsung di respons oleh Jokowi bahwa pemerintahan saat ini sudah tegas sedemikian sehingga ada vonis sebesar 18T (Rp 18,3 Triliun) kerugian negara, menurutnya uang ganti rugi tersebut adalah capaian besar bagi pemerintahan Jokowi". 

Menurut Nirarta Samadhi (Direktur WRI Indonesia). "Yang tidak dieksplorasi lebih lanjut dalam debat kemarin adalah apakah 18T tersebut sudah dibayarkan? Karena salah satu masalah mendasar menurutnya adalah kekurangan regulasi untuk menegakkan hukum secara tuntas sampai dengan eksekusi pembayaran kerugian negara."

Dia juga menyoroti belum dimanfaatkannya Perpres tanggung renteng "beneficial ownership" pada kasus pelanggaran lingkungan semacam ini yang akan menghukum tidak hanya perusahaan pelanggar tapi juga penanggung jawab korporasi induknya yang selama ini selalu bebas dari jangkauan hukum. Hal itu yang tidak dibahas dalam debat pilpres kedua.

Tentu dari apa yang dikatakan oleh pengamat di atas menggambarkan bahwa masih banyak substansi dari debat pilpres kemarin yang belum dibahas secara tuntas, dan cenderung membahas hal-hal yang bersifat umum dan kurang terstruktur. Inilah yang menjadi catatan bagi kita semua untuk melihat lebih jeli dan luas dalam setiap proses debat pilpres yang diadakan.

Penulis mencoba mengajak para netizen untuk memperdebatkan hal yang pantas untuk di perdebatkan, bukan memperdebatkan hal yang tidak penting diperdebatkan. Penulis mengajak untuk berusaha check ricek apa yang dikatakan oleh masing-masing calon dengan fakta yang ada, hal ini tentunya lebih penting untuk dijadikan bahan diskusi dan perbincangan, karena apa yang diucapkan oleh masing-masing calon seharusnya berdasarkan fakta dan kebenaran dilapangan, ketimbang berdebat masalah pulpen yang menurut penulis sama sekali tidak masuk akal untuk di jadikan bahan untuk debat, terutama untuk kalangan akademisi.

Oleh : Afrizky Fajar Purnawan 
Kader Hijau Muhammadiyah

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,6,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,In-Depth,15,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,102,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1373,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,14,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Debat Pilpres 2019 dan Matinya Nalar Kritis Netizen Kita
Debat Pilpres 2019 dan Matinya Nalar Kritis Netizen Kita
https://1.bp.blogspot.com/-qdBWGzcnmTM/XGuubO86eBI/AAAAAAAACTA/kizuHNXXrYoPrnfUpVi-UA7HovjgNWc7wCLcBGAs/s320/IMM%2BOPINI%2Bmarjinnews.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-qdBWGzcnmTM/XGuubO86eBI/AAAAAAAACTA/kizuHNXXrYoPrnfUpVi-UA7HovjgNWc7wCLcBGAs/s72-c/IMM%2BOPINI%2Bmarjinnews.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2019/02/debat-pilpres-2019-matinya-dan-nalar-kritis-netizen-kita.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2019/02/debat-pilpres-2019-matinya-dan-nalar-kritis-netizen-kita.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy