Cinta Pertama
Cari Berita

Cinta Pertama

MARJIN NEWS
13 February 2019

Foto Model: Dok. Penulis

CERPEN, marjinnews.com - Di ufuk barat, matahari akan pergi meninggalkan sorenya. Diriku melihat, seolah-olah Ia bermalas-malasan sore itu. Awan hitam menyibukan diri berkumpul menjadi satu, gelap melanda langit yang biasanya cerah.

Perlahan-lahan gerimis turun membasahi daun-daun yang bergoyang ditiup angin.

Rasanya tubuh ingin kembali keperaduannya di balik selimut koyak yang menghangatkan.

Seperti biasa orang-orang desa kembali dari ladangnya masing-masing, dengan gesitnya mereka mencari tempat berlindung. Di saat bersamaan seorang gadis berlari menghampiri gubuk untuk berteduh, tubuhnya basah kuyup. 

Lekukan tubuh gadis itu tergambar jelas dibalik bajunya yang transparan. Rambutnya yang indah terlihat sedikit kusut akibat gerimis yang dengan nakal membasahinya. Wajahnya terlihat sedikit pucat, badannya gemetar kedinginan

"Ah....hujan sialan," umpat gadis itu. 

Dengan tergesa-gesa dia duduk di bawah gubuk yang hampir rusak itu. 

Lena, sapaan yang kerap dilontarkan penduduk sekitar memanggil dirinya. Entah apa yang membuatnya terlihat mayun, sebentar-sebentar matanya melihat kiri-kanan, sepertinya dia menunggu seseorang.

Seketika itu tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Dengan sigap Lena membalikkan tubuhnya, rambutnya yang basah hampir mengenai wajah orang dibelakangnya itu. Lena sedikit mengerutkan kening, raut wajahnya terlihat heran menatap laki-laki tersebut. Dengan sedikit gugup Lena menyapa laki-laki itu.

"Maaf, abang siapa ya?"

Dengan santai laki-laki tersebut menyahut, "masa kamu lupa denganku?" 

Lena semakin terlihat heran mendengar ucapan laki-laki yang sekarang tepat berhadapan di depannya.

Dengan senyum khasnya ia menyahut lagi, "maafkan aku, sepertinya aku lupa dengan abang."

"Wahh mentang-mentang sekarang kamu makin cantik, jadi gampang lupa sama cinta pertamamu," ucap laki-laki itu sedikit kecewa. 

Mendengar ucapan tersebut Lena tersentak kaget. Sekujur tubuhnya gemetar, rasanya tubuh indah itu baru saja tersengat aliran listrik. Hampir saja Lena terjatuh. Namun dengan sigap laki-laki itu menopangnya. 

Keduanya pun beradu pandang. Ada sejuta rindu yg terpancar dari bola mata kedua insan itu. Kembali membawa kenangan lama yang sempat dibuang oleh jarak yang merenggut kisah terpaut dalam kalbu.

"Abang Rian?" Sapa Lena dengan penuh cinta. 

"Ia Lena ini aku, abang Rian cinta pertamamu? Jawab Rian dengan penuh kasih.

"Abang kemana aja, selama 15 tahun ini. Abang menghilang, kabarpun tak pernah aku dengar," Lena menimpali, isak tangisnya bagaikan sajak rindu. Butir-butir air mata membasahi pipinya.

Rian dengan sedikit ragu merangkul Lena. Lena menyandarkan kepalanya di dada Rian yang bidang dan kekar, sudah lama Lena merindukan pelukan hangat Rian. Begitu nyaman rasanya. Pelukan itu yang membuat Lena semakin terlena, membawanya kembali ke masa lalu, dimana keduanya dulu saling merajut kasih. 

Dengan penuh cinta, Rian membelai rambut Lena yang kusut, isak tangis Lena mereda. Ia mengambil nafas pelan dan sedikit terlihat tenang.

"Maafkan aku Lena, aku pergi begitu saja tanpa memberi kabar padamu. Aku pergi terburu-buru. Itu yang membuat aku lupa akan dirimu untuk memberi pesan" sahut Rian penuh kecewa. Matanya berkaca-kaca, ada kesedihan di raut wajahnya. 

Keduanya pun kembali asyik bernostalgia sehingga lupa hari di luar makin gelap. Mereka membuka kembali kenangan lama yang sempat usang oleh waktu. Janji-janji dulu yang pernah mereka lontarkan mengingatkan mereka, bahwa pernah ada cinta yang tak terpisahkan di antara keduanya.

Siapa yang tahu, manusia hanya mampu merencanakan,Tuhanlah yang menentukan segalanya. Begitulah kira-kira makna dari jalinan kasih di antara keduanya.

Perjalanan sekaligus pelajaran bagi hidup mereka. Terpisah oleh jarak dan waktu selama 15 tahun. Dan kini keduanya kembali merajut kisah.

Dengan langkah lunglai, Lena kembali ke rumahnya, wajahnya makin kusut dan terlihat sangat pucat. Gadis periang nan ayu itu berubah murung. 

Air matanya kembali menetes mengingat ucapan Rian, laki-laki yang ditunggunya selama 15 tahun yang kembali membawa cerita yang tak biasa. Kisah yang tak seharusnya didengar oleh Lena.

***

Cinta Rian dan Lena harus berakhir. Rian yang menjadi dambaan hatinya itu jatuh dalam dekapan orang lain.

Perjodohan yang tak bisa tertelakkan dari orang tua Rian yang membuat Lena harus kehilangan cinta pertamanya.

"Mencintaimu adalah rasa sakit yang membuatku ingin lenyap. Aku harus pasrah menikmati setiap goresan luka. Sayat-sayat pilu yang membiuskan. Cinta tak berujung membuatku tersandung jatuh ke dalam kisah yang tak biasa," ucap Lena dengan suara parau.

Kegelisahan melanda hatinya, sesaat Lena merasa bahagia dengan kembalinya sosok yang Ia cinta, tapi sayang semua itu hanya menambah luka dalam hati Lena.

"Mungkin hujan ini akan menghapus jejakmu," ujar Lena dalam hati.

Dengan tekad yang kuat Lena ingin membuka lembaran baru dan bahkan membeli buku baru, untuk menulis dan kembali merajut kisah selanjutnya yang di dalamnya tidak ada Rian sebagai cinta pertamanya.

Oleh: Emerensiana Murniati Novi