Cerita di Balik Korek Api Pemberian Bapak
Cari Berita

Cerita di Balik Korek Api Pemberian Bapak

13 February 2019

Foto: pxhere.com
CERPEN, marjinnews.com - Ini adalah sepenggal kisah yang dulu pernah coba aku lupakan dengan sekuat tenaga. Awalnya aku menganggap dia hanya alur sejarah hidup yang sangat menjijikkan walau hanya sebentar untuk dikenang. Aku sangat membenci diriku sendiri dan bahka pernah sekali waktu menghujat Tuhan atas segala yang aku alami. Aku ingin memotong denyut nadi di tanganku, agar semua darah yang berkaitan dengan si bajingan itu keluar habis tanpa tersisa sedikit pun membekas. Aku tidak sudi hidup jika ada sedikit saja bercak terkait tetek bengek apapun yang ada sangkut pautnya dengan dia. Bapakku.

Semuanya bermula ketika dia pamit pergi entah kemana kepada ibu waktu itu. Aku belum terlalu mengerti membaca setiap semburat cerita tersirat dari raut wajah ibu yang tampak nanar dengan sedikit air sejenis embun di sudut bola matanya yang bercahaya kemilau. Aku belum terlalu paham arti kalimat: "nak, jaga ibumu baik-baik selama bapak tiada". Namun, beberapa tahun setelahnya baru aku sadar dan mengerti kalau dia pergi tanpa tahu kapan akan kembali. Dia meninggalkan kami. Meninggalkan aku yang waktu itu masih butuh kehangatan kasih sayang seorang bapak. Di manja, dielus dan bertengkar layaknya seorang anak lelaki lainnya di dunia ini. 

Tuhan memang tidak adil. Aku paham justru ketika ibu sudah mulai bosan berdoa untuk menjaga bapak di tanah rantauan. Aku paham justru ketika bertahun-tahun aku mendengar ibu mendesah sambil menangis karena dicumbu begitu beringas oleh Pak Kades, oleh adik kandung bapak, oleh lelaki jangkung tetangga sebelah rumah dan laki-laki lain yang mengerti dengan kebutuhan manusiawi ibu sejak saat itu.

Ibuku tidak bersalah. Dia tidak berdosa. Dia hanyalah seonggok daging yang lemah akibat kelakuan bapak. Lalu aku apa? Aku tidak mengerti. Aku tidak tahu harus berkata dan melakukan apa. Aku hanya tahu mengintip dari ventilasi jendela. Melihat ibu yang mempertontonkan raut wajah gelisah dan penyesalan sambil menahan kenikmatan yang adalah haknya sebagai perempuan dewasa. Bagiku, bapak merupakan biang dari segala siksaan nurani ibu yang sementara dilema, antara cinta atau kebutuhan dasarnya sebagai imbas dari kesepakatan saling mencintai. 

Namun, semuanya berubah ketika aku bertemu Sulastri. Perempuan malang dari Kota Solo yang saat ini sedang bermandi peluh setelah semalam suntuk bercumbu denganku tanpa ampun. Dia itu seperti dewi Fortuna. Tahu segala hal termasuk untung malang nasibku sejak malam itu. Kami bertemu kemarin sore di pinggiran rel kereta. Tempat nongkrong kami jika tugas kuliah sudah tidak lagi dapat diselesaikan dengan akal sehat. 

Aku sebenarnya hanya mau minum kopi. Sesekali meminum arak ilegal yang lolos dari operasi cukai dengan  harga sesuai kantong mahasiswa. Terlibat dalam mafia bisnis lendir yang akrab dengan Human Trafficking di daerah asalku adalah haram bagiku. Sekali lagi, karena Sulastri aku terdampar di sebuah motel dengan bayaran murah selama satu malam. Dia membuka pembicaraan kami sore kemarin dengan mengomentari korek api pemberian bapak.

Yah, selepas aku SMA bapak balik ke rumah. Merajut kembali benang kusut yang mulai hilang bagian-bagiannya bersama ibu tanpa menyoal segala masalah antar mereka. Tetapi, aku tetaplah aku. Dengki itu tetap membuncah di dadaku. Meski ibu sering berbicara dengan tatapan mata denganku, aku tidak peduli. Korek yang aku bawa pun itu tanpa sengaja tersangkut dalam ransel waktu aku kesini. Melanjutkan studi dengan hasil keringat bapak bertahun-tahun meninggalkan aku dan ibu.

Dari Sulastri aku tahu kalau korek api itu adalah kesayangan bapak. Setiap kali bertemu di malam minggu untuk saling berkeluh, Sulastri mengaku sering membantu bapak yang kewalahan kala tubuhnya kelelahan selama berjam-jam melumat dia di atas ranjang. Sejenak hatiku hancur berkeping-keping. Ingin aku tampar Sulastri yang berani menjamah bapak, kekasih hati ibuku. Tetapi, aku malu terhadap diriku sendiri karena telah gagal menjaga ibu sebagai seorang laki-laki. Sebagai anak yang berbakti. Taat kepada ibu pertiwi.

Melihat raut wajahku yang tak karuan. Sulastri memeluk erat. Dengan sedikit sentuhan, dia merebahkan badan di sampingku sambil melumat aku tidak karuan. Dia menatap mataku dan meneteskan air mata dan berkata: "Andai engkau tahu nak, ayahmu selalu menangis kala bertemu aku. Dia membenci dirinya sendiri karena merasa gagal menjadi suami yang baik untuk ibumu dan ayah yang baik untuk dirimu. Dia sering menyiksa diri dengan bekerja lembur agar lelah membunuhnya pelan-pelan dari segala dosa dan atas apa yang dilakukannya kepada kau dan ibumu".

Mendengar itu aku memalingkan muka. Membayangkan sesosok wajah yang tidak pernah aku peluk dan aku cium setelah dia pamit waktu itu. Aku membenci Sulastri atas kebenaran sebuah fase kehidupan yang mudah sebenarnya untuk ku terima, tetapi aku belum siap menerimanya. Aku melempar korek api pemberian bapak di tong sampah penginapan. Lalu menyiksa Sulastri dengan gejolak birahi yang semakin tak tertahan dalam diriku. 

Soal bapak, nanti baru aku pikirkan. Biarkan waktu menjelaskan segalanya dengan jujur. Pastinya, besok pagi di hari kasih sayang akan ku telpon si bangsat itu untuk berdamai. Dan mengakui segala sesuatu yang pernah ku lihat sambil bercanda. Dia takkan marah, kecuali orang lain menyakiti perasaan ibu dan menghilangkan senyumnya yang selalu merekah bak mentari dari bibirnya. Aku yakin bapak pasti kuat. Sekuat dia menahan berat badan Sulastri yang aduhai ini.

Oleh: Andreas Pengki