Bangsa Ilmuwan Jaduk
Cari Berita

Bangsa Ilmuwan Jaduk

7 February 2019

Foto: Dok. Pribadi
OPINI, marjinnews.com - Di celah-celah aktivitas kita semua yang diiringi dengan perdebatan pilihan politik, saya coba ceraikan pembahasan di luar itu. Mari pertikaian politik yang berasas fanatik buta, kita arahkan pada hal yang lebih penting untuk kita melihat berbagai fenomena kehidupan bangsa yang semakin kabur, kering makna, nilai dan tujuan. 

Pertanyaanya, apa yang bisa dilakukan oleh generasi penerus saat ini, kita yang telah merasakan pendidikan-pendidikan di dalamnya?, kenapa justru akhirnya menjadi kikuk dalam berperan pada kehidupan? Apalagi sebagai bagian dari seorang mahasiswa dan mahasiswi, kenapa kita dipandang sebagai sosok yang telah naik tahta, tak pantas berkotor dan beraktivitas rendahan? 

Terkadang terdapat anggapan sebagai pribadi kelas atas, juga harus lebih banyak jatah rizkinya dibanding sekawan yang lulusan SMA ke bawah, kehidupan harus berkeliling bersih dan bermewahan, suatu pencapaian pendidikan harus sebanding lurus pada nilai kekayaan dan penumpukkan harta. Sehingga diyakini atau tidak, makna kongkrit keberhasilan pendidikan bangsa kita saat ini adalah suatu barang mati dan kebendaan. 

Pendidikan telah menjadi cahaya silau menganai mata kita semua, dan karena silaunya itu akhirnya mata kita menjadi gelap, tidak dapat melihat apa-apa secara jelas dan apa adanya, menjadi samar dan buram. Sehingga apa demikian harapan para leluhur kita, harapan para pendahulu kita? 

Di zaman ini, saat kita berbicara akal budi atau kesalehan yang tanpa memiliki nilai praktis, seolah tidak laku lagi sebagai ujud kebahagiaan hidup, ujud hasil konkrit dari proses pencapaian pendidikan. Bagaimana sebenarnya kita akan dibentuk oleh pendidikan-pendidikan ini? Kenapa semua menjadi kabur tanpa nilai, baik agama, adab dan adat kampung halaman yang berfungsi sebagai identitas kebesaran bangsa kita, sebagai daulat cara ciri hidup bangsa kita, telah ditindas oleh narasi globalisasi, pendidikan yang dijiwai untuk menjadi pribadi yang tertarik pada bangsa luaran, oleh cara ciri hidup bangsa lain, kita sebagai bangsa tiruan yang sekedar meniru, tanpa menemukan maksud didalamnya.

Mereka bangsa luar, sebagai pembangun cara ciri hidup lingkungannya, masih lumayan menemukan konsentrasi pada pengembaraan sains, mereka tidak setengah-setengah dalam mempelajari ilmu pengetahuan, baik ilmu alam dan sosial, mereka mencari, menyusun teori, rontok dan mencari lagi dan menyusun lagi. Mereka sangat begitu penasaran pada fakta-fakta obyektif, terhadap rahasia semesta, lihatlah jika kita mengenal film hewan dan paparan fenomena alam bangsa luar, hewan sekecil nyamuk dan cacing juga diteliti tata hidupnya, proses berkembang biaknya hingga kematiannya, mereka sangat total pada ilmu pengetahuan. 

Terhadap fenomana alam juga demikian, mereka gigih mencari hukum objektif atas fenomena alam yang terjadi, mesti lelah dan rumit, namun kita harus melihat adanya suatu nilai lebih dari mereka, atas lelahnya itu kita menjadi turut menikmati usaha menundukkan dan mengolah energi alam tersebut, adanya kendaraan darat laut hingga udara, komunikasi yang berjalan tanpa hukum batas, produksi baju, sepatu, hingga perkakas lain yang dihasilkan dari pencaharian para manusia barat untuk kemudahan hajat hidup manusia hingga saat ini.

Bukan bermaksud untuk merendahkan bangsa kita sendiri, justru dari narasi reflektif ini kita harusnya terkoyak untuk berfikir, tiada suatu bangsa yang lahir diruang kosong, kita dan para leluhur pastinya bukan sebagai bangsa yang sekedar jiplakan atau copyan semata dari bangsa luar. Kita harus mengenal diri kita sendiri serta sejarah bangsa sendiri, lihatlah segala prasati yang ada, candi, gerbah atau segala perkakas alat hidup yang ditemukan dalam urukan tanah Nusantara, ini bukan suatu bangsa yang kosong melompong dan tidak punya pengetahuan apa-apa, justru terdapat suatu keyakinan dari sebagian kawan-kawan, bahwa moyang kita adalah para ilmuwan, mereka adalah bangsa yang cerdas dan cakap. 

Tidak hanya cakap dalam membuat segala perkakas kebendaan, arsitektur dan megah, namun moyang kita dahulu adalah ilmuwan pada zamannya, bangsa ilmuwan yang jaduk (terkemuka). Mereka adalah ahli perbahasaan, ahli perbumian, ahli perbintangan atau perhitungan, ahli teologi hingga berbagai ragam spiritualitas, mereka adalah tungku peradaban dunia. Bersahabat dengan siapa saja, yang nampak dan yang tidak, mereka perlakukan sebagai makhluk yang sama mempunyai hak layaknya kehidupan sasama manusia.

Namun setelah kita mengenal lembaga pendidikan modern, kenapa semua terasa jauh, salah dan menjijikkan segala apa yang ditinggalkan moyang kami, di TV-TV juga kita diperkenalkan bahwa mereka hanya sebangsa yang bisa dipercaya sebagai pembantu dan tukang kebun, sebagai kelas sosial bawahan. Sedangkan kita diperkenalkan pada cara ciri hidup yang kita tidak tahu maksud dan tujuannya, sebagai bangsa yang sekedar meniru,  sebagai bangsa yang kini hidup dalam narasi budaya yang gandrung pada pakaian, kuliner dan pariwisata.

Fenomena bunuh diri yang terjadi di kabupaten dan pedesaan belakangan adalah suatu peringatan bagi kita semua, di balik tinggi dan megahnya gedung pendidikan, kenapa masyarakat kita menjadi repuh dan getas, apa yang salah, jangan-jangan kita juga masih menyalahkan roh leluhur, mereka (yang bunuh diri) telah diganggu oleh roh leluhur yang gentayangan dan jahat. Cukuplah kita beranggapan bahwa kita berasal dari kelas bangsa terbelakang, terhadap moyang sendiri dalam kehiduapan sudah kita perankan sebagai kacung dan jongos, masih juga dalam wilayah roh-rohnya kita anggap sebagai roh yang menakutkan dan jahat.

Dari segala warta kejadian bunuh diri yang mencengangkan itu,  pernahkah kita beranggapan bahwa inilah sebenarnya yang diinginkan oleh para bangsa luar yang tergiur pada wilayah dan bumi subur Nusantara, untuk dapat menguasai, bangsanya harus dibuat tidak percaya diri, tidak percaya pada keluarganya sendiri (perang saudara), tidak daulat atas rumah tangganya sendiri bahkan dirinya sendiri. Sebagai bangsa yatim piatu, fakir miskin, lemah dan rapuh. Semoga bermanfaat.

Oleh: Milada Romadhoni Ahmad
Pegiat KELOBOT: Kelola Bojonegoro Lestari & Kader Hijau Muhammadiyah