Ancaman Demokrasi



 
Gambar: Ilustrasi

OPINI, marjinnews.com- Demokratisasi yang berjalan dengan asumsi bahwa rakyat sebagai pihak yang berdaulat tidak hanya dilayani dengan baik. Namun juga diberikan ruang akses yang cukup dalam proses pengambilan keputusan. Salah satunya dalam pemilihan presiden atau pemilihan legislatif nanti. Sehingga presiden yang dipilih oleh rakyat betul-betul sebagai representasi rakyat secara murni tanpa intervensi dan patronase pemerintah maupun uang. Maka harus dipahami sebagai sebuah proses untuk membuka ruang bagi lahirnya para caleg maupun presiden yang dipilih secara demokrastis.  


Ditambahkan pendapat Philippe C. Schmitter (2017), bahwa diperlukan kecakapan untuk memimpin dan menjalankan kontrol politik  dan mampu memberikan layanan yang diperlukan oleh massa. Atau layanan yang diberikan dianggap tidak bernilai lagi atau terjadi perubahan pada kekuatan-kekuatan sosial yang ada dalam mayarakat, maka perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat terhindarkan.


Dalam konteks politik lokal, elite politik lokal dapat dilihat dalam tiga kategori. Pertama, elite berdasarkan pelapisan sosial yang terdiri atas tiga kelompok sosial, yaitu raja dan kerabat/kelompok bangsawan, kelompok orang yang merdeka/memiliki kebebasan, dan kelompok hamba. Kedua, elite berdasarkan karisma (elite strategis) dalam sistem pemerintahan kerajaan, yaitu pemimpin adat, dan agama. Ketiga, elite berdasarkan kegiatan fungsional, yaitu cendekiawan, usahawan, dan pahlawan. Elite fungsional ini menempati elite strategis dalam piramida sosial. Dengan terbukanya peluang untuk menjadi elite bagi setiap lapisan masyarakat di Indonesia menyebabkan pengelompokan berdasarkan kelompok militer, suku, bangsawan, ulama, dan kelompok lainnya.


Pandangan Foucault yang mencakup dua komponen kunci yakni politik wacana dan biopolitik. Dalam politik wacana, kelompok-kelompok marginal (yang tertindas) yang berusaha untuk menghadapi wacana-wacana hegemonik yang memposisikan individu-individu ke dalam “straitjacket” (pengekang) identitas-identias normal untuk melepaskan kebebasan bermainnya perbedaan-perbedaan.


Dalam masyarakat apapun wacana adalah suatu bentuk kekuasaan karena hukum-hukum yang mendeterminasi wacana memaksakan norma-norma yang dianggap rasional, sehat atau benar. Dengan demikian berbicara di luar hukum-hukum tersebut berisiko terpinggirkan dan terabaikan.


Dalam pandangan Foucault semua wacana dihasilkan oleh kekuasaan, tetapi mereka tidak tunduk total terhadapnya dan dapat menggunakannya sebagai titik tolak untuk menolak bahkan pijakan awal bagi suatu strategi perlawanan. Sebaliknya dalam biopolitik (bio struggle) entitas-entitas individual berusaha untuk memberontak dari cengkaraman kekuasaan disiplin dan menanam kembali tubuh (sebagai sebuah lembaga) dengan menciptakan model-model kesenangan dan kepuasan baru. Namun keduanya bertujuan untuk memfasilitasi perkembangan bentuk-bentuk baru dari subjetifitas dan nilai-nilai.



Ancaman Demokrasi

Bangsa Indonesia yang kini sedang berposes demokrasi (pilpres dan pileg), benar-benar sedang berada dalam situasi kritis. Karena kini kita tepat berada di persimpangan jalan keselamatan atau jalan kehancuran. Bila proses demokrasi ini tidak dapat kita lalui dengan baik, ancaman yang kita hadapi tidak saja proses disintegrasi bangsa. Tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan terjadinya proses disintegrasi sosial atau hancurnya  social bond (kerekatan sosial) dalam masyarakat. Bila social bond hancur, akan tumbuh social distrust (iklim tidak saling mempercayai) di antara kelompok-kelompok sosial. Sehingga kelompok satu dengan yang lain dalam masyarakat akan saling curiga, saling bermusuhan atau bahkan saling berupaya meniadakan. Dalam situasi  ini,  tawuran massal gaya Thomas Hobbes, war of all against all, bukan lagi menjadi khayalan.


Situasi yang penuh pertentangan di antara masyarakat itu dinamakan state of nature. Di mana manusia saling bersaing dan berkompetisi tanpa aturan dan ketiadaan hambatan atau restriksi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan jika perlu membunuh dan penghalalan segala cara lainnya atau paling tidak menguasai orang lain. Pada tataran abstraksi ini, manusia dipandang sebagai srigala yang saling berkelahi untuk mendapatkan kebebasan atau makanan bagi dirinya. Jadi aturan yang adapun hanya dipergunakan agar tidak terjadi tindakan yang mungkin menghancurkan diri sendiri atau dalam bahasa lain “Suatu proses untuk memperoleh apa yang kita kehendaki ataupun mengelakkan apa yang tidak kita sukai”.


Bagi Hobbes, cara yang paling efektif untuk menghentikan situasi itu adalah dengan menciptakan suatu pemerintahan yang kuat agar mampu melakukan represi dan menegakkan aturan. Sosok pemerintah yang kuat itu digambarkan sebagai Leviathan, makhluk yang menyeramkan dari lautan dan setiap orang menjadi lemah dan takut berhadapan dengannya. Dengan itu, masyarakat dapat ditertibkan dan dikendalikan. Uniknya, sosok itu sendiri dibutuhkan oleh masyarakat yang saling berkelahi itu untuk menciptakan ketertiban.


Dalam nada yang lebih positif, John Locke menggambarkan situasi yang mendorong manusia untuk melakukan kesepakatan di antara mereka sendiri untuk mengadakan badan sendiri yang mempunyai kekuasaan politik. Kedua pemikir ini dipandang sebagai peletak dasar teori-teori kontrak sosial yang populer di dalam alam pikiran Barat.


Indonesia saat ini sedang menghadapi pertarungan kekuasaan antar elite politik baik yang berkedudukan di lembaga legislatif maupun eksekutif, telah menyeret kehidupan berbangsa dan bernegara kedalam kekalutan, ketegangan dan krisis berkepanjangan. Indonesia sedang mengalami pembusukan (decaying), bukan hanya political decay tapi juga social-economic decay. Modal politik (political capital) hancur berkeping-keping akibat konflik para elite yang terkesan tidak tahu diri dan irasional. Akibatnya modal ekonomi (economic capital) meleleh akibat ketidakberesan dan ketidakmampuan para pengambil keputusan maupun kepemimpinan nasional dalam mengelola perekonomian, sedangkan modal sosial (social capital) tergerus habis akibat krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap para pemimpin nasional yang ada.


Indonesia yang dilanda krisis dewasa ini memerlukan kepemimpinan nasional yang ikhlas dan komit untuk berkorban dalam semangat Samurai untuk membangkitkan spirit, aktivisme dan intelektualisme beserta segenap sumber daya rakyat dalam menyelamatkan reformasi total yang pada hakekatnya adalah menyelamatkan bangsa dan negara.


Para pemimpin generasi tua terbukti telah menyianyiakan kesempatan sejarah (historical opportunity) untuk mengimplementasikan enam visi reformasi yang sudah dipertaruhkan jutaan rakyat, mahasiswa dan kaum muda dengan darah dan air mata. Generasi tua saa ini ternyata sangat lembek, penuh intrik, saling sikut dan sarat pertarungan kepentingan (conflict of interest). Ujungnya adalah perebutan kekuasaan dan uang, dengan cara mendayagunakan ”konstitusionalisme” sebagai senjata legal formal untuk mempertahankan atau menjatuhkan kekuasaan.


Orde Baru Soeharto, kita tahu diruntuhkan oleh ”revolusi mahasiswa” pada tahun 1998, namun ternyata masih menyisakan ekses-ekses rezim Orbarian yang mencekam. Indonesia telah dinobatkan Transparency International dan PERC serta lembaga internasional lainnya sebagai negeri KKN dan negara paling korup di dunia. Agenda reformasi ditelikung para politisi, pejabat, pengusaha dan kaum profesional yang sudah mengalami demoralisasi. Sisa-sisa ekses rezim Orbarian terus bertahan: KKN-Kroniisme merajalela, krisis utang yang sudah 100 persen dari Produk Domestik Bruto, beban rekapitalisasi sekitar Rp 300 triliun lebih, Sensuri gate, korupsi oleh aparat pemda dan DPR/D dan lain-lain,  terus merosotnya nilai rupiah, lesunya pasar saham, krisis lingkungan yang tak kunjung usai, kenaikan harga sembako, serta kenaikan harga-harga menjadi bayang-bayang kelabu bagi bangsa kita. Sementara sejauh ini, supremasi hukum atau kepastian hukum belum ditegakkan pemerintah dan yudikatif dalam upaya menciptakan keadilan, kepercayaan dan harapan masyarakat.


Oleh karena itu dalam rangka memajukan demokrasi kita berusaha memilih pemimpin yang betul-betul pro rakyat bukan janji tapi kepastian. Kepastian hukum, kepastian ekonom, kepastian politik dan sebagainya. Itu hanya diperoleh kalau rakyat sungguh-sungguh menjadi demos, bukan sebagai obyek demokrasi.


Oleh: Ben Senang Galus, penulis buku, tinggal di Yogyakarta



Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,6,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,In-Depth,15,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,102,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1373,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,14,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Ancaman Demokrasi
Ancaman Demokrasi
https://3.bp.blogspot.com/-3gKO8Um0mt4/XGZwvv0gZVI/AAAAAAAAAP8/p91ywHQ04EstZDlPbrYN7BYeofJxdS7CQCLcBGAs/s320/272412_08543227032015_mimbar-wanita-dan-politik-hidup-katolik.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-3gKO8Um0mt4/XGZwvv0gZVI/AAAAAAAAAP8/p91ywHQ04EstZDlPbrYN7BYeofJxdS7CQCLcBGAs/s72-c/272412_08543227032015_mimbar-wanita-dan-politik-hidup-katolik.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2019/02/ancaman-demokrasi.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2019/02/ancaman-demokrasi.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy