Tantangan dan Peluang Home Industri di Gresik, Catatan Perjalanan Yanuarius Bless
Cari Berita

Tantangan dan Peluang Home Industri di Gresik, Catatan Perjalanan Yanuarius Bless

21 January 2019

Foto: Dok. Pribadi
GRESIK, marjinnews.com - Sampai hari ini, Indonesia telah merdeka selama 72 tahun. Namun, itu hanyalah sebuah nama karena pada kenyataanya tidak seperti itu. Masih banyak rakyat Indonesia yang tidak sejahtera, hal ini dibuktikan bahwa masih tingginya angka kemiskinan yang terdapat di Indonesia. Dalam membangun sebuah wilayah tidak hanya melihat dari segi utility (prasarana), jumlah penduduk, dan lingkungan saja. Namun, dari segi ekonomi pun sangat diperlukan dalam membangun sebuah wilayah yang cerdas. 

Bahkan, Mantan Presiden RI  SBY mengatakan bahwa untuk lebih mengutamakan pembangunan sumber daya manusia kemudian dilanjutkan dengan pembangunan nasional lainnya. Menurut hasil data BPS (Badan Pusat Statistik), perekonomian Indonesia dari tahun 2012 sampai tahun 2013 mengalami  peningkatan sebanyak 5,78 persen. Meskipun perekonomian Indonesia telah mengalami  peningkatan tetapi, kesenjangan sosial masih tampak terlihat di Indonesia terutama terdapat di kota-kota besar. 

Apabila kesenjangan sosial masih terus berlanjut di Indonesia secara otomatis  perekonomian Indonesia bisa mengalami penurunan. Kesenjangan sosial ini suatu masalah yang kurang mendapat perhatian dari aparat pemerintah padahal kesenjangan sosial akan memiliki dampak yang luar biasa untuk golongan masyarakat menengah ke bawah, tidak heran apabila golongan masyarakat menengah ke atas akan semakin kaya dan golongan masyarakat menengah ke  bawah akan semakin miskin. 

Hal tersebut disebabkan sebagian besar perusahaan dan kantor  pemerintahan di kuasai oleh golongan masyarakat menengah ke atas sementara golongan masyarakat menengah ke bawah hanya duduk terdiam di pinggir jalan menunggu bantuan dana dari pemerintah. Keadaan Indonesia saat ini sangat kontradiksi antara golongan masyarakat menengah ke bawah dengan golongan masyrakat menengah ke atas, seperti yang kita ketahui  bahwa mereka masyrakat menengah ke atas hidup penuh dengan berbagai fasilitas baik  pendidikan, perumahan, kesehatan,dll. 

Di samping hal tersebut juga terlihat banyak sekali masyarakat menengah ke bawah yang hidup dengan minim sekali akan fasilitas yang di dapatkan, Itulah gambaran masalah kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia.

Ada satu cara yang efektif untuk menurunkan tingkat kesenjangan sosial yaitu Home Industri. Home industri adalah industri kecil-kecilan yang berada di perumahan, perkampungan, atau rumah. Home indutri memberikan angin segar terhadap roda perekonomian masyarakat. Home Industri atau Industri Rumahan bertujuan untuk meningkatkan perekonomian golongan masyrakat menengah ke bawah, mengurangi tingkat pengangguran, masyrakat menengah ke  bawah memiliki keativitas di berbagai macam bidang, membuat masyrakat menengah ke bawah menjadi masyrakat yang mandiri, dalam arti kata mandiri ialah bukan masyrakat yang hobi dengan kata konsumtif, tetapi lebih meyukai kata produktif. 
Potret pelaku usaha Home Industri di Desa Dooro Gresik (Foto: Dok. Pribadi)

Ketika masyarakat menengah ke  bawah memiliki kreativitas yang tinggi akan menjadi suatu kesematan emas dalam meggali  potensi pereekonomian masyarakat masyrakat menengah ke bawah. Tidak terlepas dengan tujuan utama dalam mengembangkan Home Indutri ialah agar menurunkan tingkat kesenjangan sosial yang sedang terjadi. Home Indutri akan menjadi cara yang tidak efeisien dalam menurunkan tingkat kesenjangan sosial dikarenakan beberapa faktor pemicu yang mempengaruhi seperti persaingan antar usaha yang ketat, kurangnya perhatian. 

Pemerintah seharusnya tidak hanya berdiam diri tapi sudah sewajarnya pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan bisnis Home Industri yang sering sekali terabaikan karena dianggap produksinya yang sedikit yang cara yang digunakan cara tradisional, sehingga konsumen memiliki ketidaktertarikan pada barang-barang hasil produksi Home Industri. Oleh karena itu, diperlukkan peran pemerintah dalam  pengembangan program home industri melalui sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenalkan program Home Industri lebih lanjut. 

Angin Segar Home Industri di Gresik
Saat ini penulis tengah melakukan KKN di Desa Dooro Gresik. Inspirasi membahas tentang Home industri ini terjadi pasca menyaksikan sendiri bagaimana sekelompok orang pekerja yang berjumlah sekitar 30 orang terdiri dari 27 orang perempuan dan 3 orang laki-laki melakukan sebuah praktek usaha dalam rangka menambah penghasilan dan meningkatkan kesejahteraan hidup di tengah persaingan pasar yang semakin kuat.

Home Industri ini merupakan binaan PT Behaestex yang khusus memproduksi kain tenun. Dari 30 orang pekerja tersebut di atas, perempuan bertugas sebagai penenun atau penjahit sementara yang laki-laki bertugas untuk mengawasi dan mengirimkannya ke perusahaan yang ada di Kota Gresik untuk diberi label/merk dan dipasarkan ke seluruh Indonesia. Harga yang ditetapkan itu tergantung dengan tingkat kerumitan tenun hasil kerja para pelaku home industri.

Perbedaan paling mencolok di wilayah ini adalah kualitas kerajinan teksil yang diakibatkan ketiadaan pendampingan sebagai pelaku usaha Home Industri atau dengan kata lain pelaku usaha yang bergerak secara individu. Berbeda dengan Home Industri di bawah pendampingan PT Behaestex yang sering mendapat pelatihan, hasil desainnya acap kali monoton. Padahal pelatihan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kain sarung. Hal ini membuat penghasilan dari pelaku usaha individu ini pun sangat kecil dan boleh dibilang masih sangat jauh dari kata sejahtera. 

Oleh: Yanuarius Bless
Mahasiswa Fakultas Antropologi UNAIR Surabaya