Sunyi, Puisi-Puisi Fransiskus
Cari Berita

Sunyi, Puisi-Puisi Fransiskus

Marjin News
31 January 2019

(foto: dok. pribadi)

Sunyi

Malam semakin senyap
Hanya gemerlap bintang menghiasi langit malam
Tak ada lagi terdengar riak kendaraan yang mengusik telingaku
Entah kenapa mata tak ingin kuajak tidur
Perlahan kubuka laptop, lalu jari jemariku mulai menari dikeyboar laptopku
Mulai menulis kegelisahanku
Lantunannya bak melodi bersyairkan cinta
Seirama dengan nadiku yang terus berdenyut
Tak lupa kopi hitam kuseruput sembari menghisap rokok putih
Perlahan asapnya mengepul pelan hilang dibalik jendela
Mungkin saja membawa kegelisahan hatiku pergi

Untukmu,
Andai kamu tahu, sejak engkau melempar senyum padaku kemarin sore
Aku sudah menaruh hati padamu
Tapi aku gamang apakah dirimu merasakan hal yang serupa denganku
Aku tak pandai mengungkap rasa secara lisan
Aku hanya lelaki yang pandai mengungkap rasa lewat tulisan
Mulutku bisu, bungkam, diam seribu bahasa

Hingga malam sunyi ini aku tak bisa tidur
Senyum simpulmu masih terbayang setiap aku ingin menutup mata

Bahkan saat menulis surat ini aku senyum- senyum sendiri
Aku lelaki yang sedang tergila-gila dengan dirimu
Aku pun menemukan jawaban kegelisahan yang menyelimuti hatiku
Aku sedang jatuh cinta denganmu
Tak ada lagi kata lain mewakili perasaanku untukmu
Aku harap kamu dapat membacanya
Lalu mengirim balasan untukku.

Jakarta, january 2019

Kamu Yang Kucinta

Tuhan itu luar biasa mengirim malaikat dalam rupamu
Kamu tahu sejak dirimu hadir dalam hidupku
Tak ada lagi resah dan penat yang menyelimutiku
Kamu selalu datang pada saat yang tepat bila kegundahan menghampiriku
Kesepian tak ada lagi dalam kamusku
Kamu telah menyempurnakan hidupku
Teruslah menjadi kamu yang kucinta

Kamar kos, january 2019

Surat Untukmu

Untukmu yang jauh disana
Apa kabar, aku disini baik-baik saja
Aku harap kamu juga baik saja disana
Kamu tahu kita dibentangkan samudra yang luas

Kita tak bisa saling menatap seperti yang sering kita lakukan disana dulu
Dalam diam,
Aku hanya menatap gedung bertingkat, pecangkar langit kata orang
Kesepian selalu menyelimuti hatiku

Suaramu tak lagi terdengar untuk menghiburku
Hanya klakson kendaraan yang membisingkan telingaku
Lolongan angin sering kudengar seperti menyindirku
Kenapa selalu duduk sendiri, tak adakah yang menemanimu

Tapi aku selalu memohon kepada angin
Menghantarkan rinduku kepadamu
Namun hanya terdengar desaunya bahkan menggilkan kulitku
Aku harap kamu juga merindukan diriku disana.

Kamar kos, january 2019.*


Penulis : Fransiskus Adryanto Pratama, Mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Jakarta