Rindu, Puisi-Puisi Fransiskus Pratama
Cari Berita

Rindu, Puisi-Puisi Fransiskus Pratama

29 January 2019

(Foto: Dok. Pribadi)

Gereja Tua

Kala itu status kita masih aku dan kamu
Gamang rasanya tuk saling menyentuh
Apalagi tentang kata cinta
Mungkin masih bahasa sekawan burung gereja

Hingga pada suatu masa
Kita dipertemukan disebuah gereja tua
Dipercayakan menjadi anak altar
Berawal dari saling melempar senyum
Lalu mengungkap rasa

Ditempat inilah tempat kita menyemai benih-benih cinta
Meski diawali rasa canggung untuk saling menyapa

Kemudian benih-benih itu tumbuh
Berbuahkan buah cinta
Yang kita nikmati kini
Dan status bermertamorfosis menjadi kita.


Jakarta, January 2019


Hujan


Kau kembali membungkus peraduanku
Semburat petir tak berhenti menyalak
Lantunan rintik-rintik hujan terus berirama
Tak jelas sedang menyanyikan lagu apa
Mungkin saja lagu rindu

Seperti hatiku yang mengiris sakit rindu
Entahlah, sampai kapan berhentinya
Petikan demi petikan gitar bernada rindu
Terus kumaikan

Adakah obat penawar yang ampuh
Tuk menyembuhkanya?

Jakarta, January 2019 

Senja dan Kamu

Sore yang indah
Kembali, semburat senja bergantung dilangit jingga

Meski hanya sesaat kutatap
Lalu tumbang ditelan cakrawala
Sementara kamu

Adalah panorama indah
Yang tak pernah beranjak pergi
Kapanpun kuingin pandang

Jakarta, January 2019


Stasiun Kereta

Deru peron terdengar nyaring
Makin mendekat makin memekakan telinga
Membuyarkan lamunanku
Yang sedang memikirkan dikau
Yang jauh disana

Sesaat hilang seketika
Entah kapan lagi bertamu dipikiranku
Aku berharap

Rasa rinduku kepadamu
Adalah tamu yang tak diundang setiap saat


Jakarta, January 2019


Penerangku

Engkau tahu ada begitu banyak bintang yang menghiasi langit malam
Dengan rupa yang sama menerangi cakrawala

Namun hanya Nampak pada malam hari
Kemudian suram bak lampu pelita kehabisan minyak
Bedanya dengan kamu selalu hadir kapanpun kumau

Disetiap penat yang menghampiriku
Engkau datang menghibur sembari menununjukan senyum simpulmu
Engkau adalah cahaya yang tak pernah redup

Kamu seperti malaikat tak bersayap
Menghiasi, menerangi hingga aku menemukan kesempurnaan hidup
Teruslah menjadi permpuan penerang hidupku.

Jakarta, 2019 

Rindu

Sore menyapa
Dalam kesendirian di kota metropolitan
Dalam diam,
Seperti biasa aku menatap senja yang bergantung dilangit jingga

Perlahan tumbang ditelan awan
Lalu menjemput temaram malam
Sembari menyeruput kopi hitam terlintas rindu yang kian memuncak

Merindukan dirimu yang jauh disana
Tak ada rupa dan suaramu dibalik gedung bertingkat yang kupandang
Hanya riak kendaraan yang membisingkan telingaku

Sesekali menepi menahan rindu
Namun hanya menyakiti diriku sendiri
Wajahmu selalu bertamu dalam mimpiku
Dari kejauhan tangan tak pernah berhenti berkatup

Bersembah sujud, berserah kepada tuhan
Agar kelak kita bersatu dalam kebahagian yang abadi.


Kamar kos, 2019

Menulis Untukmu

Engkau tahu aku bukanlah pujangga
Yang pandai dan puitis dalam merangkai kata

Setidaknya tulisanku inilah mewakili segalah perasaanku
Mewakili segala resah dan penatku
Perlahan kuambil secarik kertas berseama pena

Kemudian kurangkai kata menjadi kalimat
Tentangmu yang selalu bertamu dalam mimpiku

Engkau membuatku tak bisa tidur
Setiap malam aku selalu resah dan gelisah
Memikirkan dirimu seorang
Aku selalu memohon kepada angin
Berharap mengamini segala pintaku
Namun hanya terdengar lolonganya
Desaunya mengusik kupingku
Menggilikan kulitku

Aku sangat risau dan sepi
Andai engkau ada bersamaku
Kita dapat menikmati senja yang mengiasi langit sore
Tapi aku optimis kita akan selalu berada dibawah langit yang sama.




Oleh: Fransiskus Adryanto Pratama, Mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta.