Puisi-Puisi Edid Teresa
Cari Berita

Puisi-Puisi Edid Teresa

MARJIN NEWS
27 January 2019


Gambar: ilustrasi


Kertas Putih

Gundah terasa hari-hari
Sebab tak jarang aku kau dustai
Tapi demi kertas putih yang terikat predikat
Setia aku menempuhmu
Bila sering aku kau dapati sendiri
Abaikan saja, jangan kau peduli
Itu hanya inginku sejenak menyepi
Entah mengapa,
Hanya diam yang senantiasa berlagu
Berirama
Cinta putihku yang kian berkesima
Serabut kata mencoba terantuk
Sebab terlampau sering aku salah jalan
Namun atas nama cinta putihku
Kubalutkan raga bersama irama
Tak rapuh aku bertahan
Tergeletak, mengejar
Selembar kertas putih berpredikat
Yang tersimpan indah di meja
Sang pemuja tanpa tanda jasa


Pelacur Negeri

Pada sebuah perjumpaan terkesima, aku tertegun
Belaian jari-jarimu memanjakan daku pada sebuah kisah
Pada waktu itu pula, aku sempat mengucap janji
Aku adalah untukmu, seluruhku adalah untukmu
Dan kau tahu,
Semenjak itu pula, sejuta modifikasi serentak menjadi reparasi tak ternilai
Kau yang menjadi pemilik singgasana berbalut emas
Kini, berubah serentak menjadi pelacur tak bertuan
Lalu lalang sampah-sampah terabaikan, begitu saja
Kau semacam tak peduli
Mungkin terlalu nyaman dengan suguhan mistik ranjang semalam?
Terbalas dengan jasa kertas, sekejap pula engkau bergaya
Sejenak pula, preman-preman berteriak
Mengucap sumpah serapah, membobol ranjang kronologi
Sekejap amnesia dengan suguhan adegan mesum pada sebuah akun
Dasar pelacur!
Tetapi, aku tidak peduli dengan sikap pelacurmu
Karena engkau lebih bermartabat dari kami yang terbayar kata..



Terima Mintaku

Hujan di luar membasahi  jagat
Gemercik rintik pada belantara
Gonggongan niat kian mendekat
Menerkam!!
Adakah aku dalam pilihanmu
Anganku, aku mengeluh
Bulir-bulir rindu tak lagi bersahabat
Cita-cita tak lagi seirama
Kaku, membeku, terbalik
Anganku, aku menangis
Hilang tentang kataku
Berbaur pada niatku dikala itu
Gemercik rintik hujan tak lagi kurindu
Alunan melodi tak ingin kudengar
Tumpukan buku memenuhi akalku
Apa itu?
Terbawa rindu dikala senja
Hancur melebur
Menyerbu, menerkam disiang bolong
Apa kabarku
Aku sudah  malas
Aku mau berhenti sejenak
Mengejar pengalaman di negeri  seberang
Meraih angan di persimpangan
Reputasiku itu.


Kusuka kau!

Kusuka kau! kusuka hidup
Terus menjelma menjadi kata
Kutulis kau! Menjadi puisi.
Kau, judulnya.

Yogyakarta, 2019

Edid Teresa adalah Mahasiswa PBSI di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.