Prihatin! Kesehatan Menurun Pasca Melahirkan, Pasien di Welak Harus Digotong Sejauh 2 KM
Cari Berita

Prihatin! Kesehatan Menurun Pasca Melahirkan, Pasien di Welak Harus Digotong Sejauh 2 KM

25 January 2019

Beberapa warga Kampung Todang harus menggotong pasien dengan bambu akibat ketiadaan akses jalan di wilayah mereka pada Kamis (24/1/2019) malam. (Foto: Esti Inggur)
DATAK, marjinnews.com - Beberapa foto sekelompok pria menggotong seorang ibu yang diketahui telah bersalin dan mesti mendapat perawatan beredar di media sosial facebook pada Kamis (24/1/2019) malam. Dalam foto yang diposting pertama kali oleh akun facebook atas nama Inggur Ernesty itu ternyata terjadi di Welak, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Pada gambar di postingan pertama, Ernesty membuat caption foto yang sangat memprihatinkan tentang jalan di wilayah tersebut. Tampak jelas bagaimana lumpur itu membekas sampai di lutut membuat pejalan kaki harus membawa sandalnya memakai tangan. Dengan hanya mengandalkan senter, mereka bersusah payah menempuh perjalanan selama hampir 3 jam (pada postingan kedua) menuju Puskesmas setempat. Ada pun si ibu yang hendak bersalin dalam postingan itu tampak harus dibantu sebotol infus yang diikatkan pada kayu di dekat bambu penggotongnya.

"Bantu kami malam ini Tuhan, lelo ke halang gami ta pemerintah (pemerintah perhatikan jalan di wilayah kami .red)," tulis Ernesty yang menuai banyak komentar sedih dan haru para netizen.

Berdasarkan keterangan yang berhasil didapat marjinnews.com dari Ferdi, salah satu warga yang turut membantu menggotong si ibu dalam foto tersebut menjelaskan bahwa mereka menempuh perjalanan sejauh 2 KM selama 3 jam untuk bisa sampai ke Pos Pelayanan Terpadu (Postu) yang ada di Epandaru, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat.

"Kami menempuh perjalanan sekitar 2 KM selama tiga jam dari kampung Tadong ke Postu yang terletak di Epandaru. Setelah mendapat pertolongan dan istirahat kami mesti jalan kaki lagi dari Epandaru menuju Kampung Kotok agar bisa sampai di Puskemas Datak" terang warga asal Todang itu kepada marjinnews.com pada Jumat (25/1/2019) dini hari.

Masih menurut Ferdi, bahwasannya Kampung Tadong dan Epandaru memang tidak bisa dimasuki mobil, kecuali motor.
Warga tampak kesulitan akibat jalan berlumpur dan harus berjalan kaki (Foto: Esty Inggur)
"Kampung kami dan lokasi Postu memang tidak bisa dimasuki mobil. Kecuali motor. Itu pun sangat susah. Sehingga dalam kondisi seperti ini kami mesti ke Kampung Kotok agar bisa segera mendapat ambulance untuk segera ke Puskesmas yang terletak di Datak" terang Ferdi.

Menurut sumber lain yang kami dapatkan diketahui bahwa mobil hanya bisa sampai di Kampung Baang, sebuah kampung sebelum Epanderu. Menurut pria yang diketahui bernama Ari Bero itu menjelaskan bahwa akses menuju kedua kampung yang dimaksud sebenarnya tidak akan mengalami hambatan jika jalannya diaspal.

"Ia brother, itu sudah menjadi tradisi (menggotong pasien .red), karena kan tidak bisa masuk kendaraan seperti mobil, kecuali motor. Kalau bangun jalan aspal di situ saya rasa mudah aksesnya," terang Ari kepada marjinnews.com.

Sementara itu, pemilik akun facebook Inggur Ernesty dikonfirmasi bernama lengkap Ernesty Suharni Inggur ternyata adalah bidan yang menangani pasien dalam peristiwa menyedihkan tersebut. Dalam keterangannya kepada marjinnews.com, Ernesty menjelaskan bahwa pasien yang digotong sebenarnya sudah melahirkan di rumahnya di Kampung Tadong. Karena kondisinya semakin menurun maka pasien yang telah bersalin itu pun harus mendapat perawatan yang intensif agar kondisinya kembali membaik.

"Pasien sudah melahirkan di rumahnya. Tetapi, karena ada beberapa masalah pada pasien sehingga perlu ditangani lebih lanjut" terang Ernesty yang mengaku tiidak tinggal di Tadong karena Poskesdes letaknya di Epanderu.

Sementara ketika ditanya soal kondisi bayi dan keadaan pasien, Ernesty menjelaskan bahwa kondisi sang bayi baik-baik saja. Sementara ibunya langsung dirujuk ke Rumah Sakit Komodo, Labuan Bajo.

"Kondisi bayinya baik-baik saja. Tetapi, ibunya harus dirujuk ke Rumah Sakit Komodo untuk mendapat perawatan lebih lanjut" kata bidan yang akrab disapa Esty itu. 

Adapun pasien dalam kejadian naas ini adalah Rolin (17) asal Kampung Tadong. Istri dari seorang pria asal Lete bernama No ini melahirkan seorang bayi laki-laki. Rolin diketahui sudah melahirkan dengan bantuan dukun beranak karena alasan Poskesdes cukup jauh dan cuaca tidak memungkinkan untuk memanggil bidan.

"Pasien sudah melahirkan sejak Pukul 18.30 WITA dengan bantuan dukun beranak. Tetapi, plasentanya tidak keluar dan mereka berusaha untuk mengeluarkan plasenta tersebut. Mereka juga tidak memberitahukan proses persalinan tersebut kepada saya. Ini kehamilan kedua tetapi persalinan pertama karena pasien pernah mengalami keguguran" terang Esty kepada marjinnews.com

Esty pun berharap, pemerintah bisa memperhatikan persoalan di wilayahnya bertugas terutama soal jalan raya, listrik, air minum dan sinyal untuk berkomunikasi. Selama kami hubungi, Esty harus dengan susah payah mencari sinyal untuk memberikan informasi terkait masalah ini. Semoga pemerintah Manggarai Barat dapat melihat ini sebagai persoalan serius dan dapat segera diselesaikan.

Laporan: Ari Bero | Viki Purnama
Editor: Andi Andur