Perlukah Umat Islam Takut Terhadap Simbol?
Cari Berita

Perlukah Umat Islam Takut Terhadap Simbol?

26 January 2019

(gambar: dok. pribadi)


OPINI, Marjinnews.com - Akhir-akhir ini warganet di hebohkan dengan kabar simbol yang menyerupai salib di daerah Solo, Jawa Tengah. Ada sebuah kelompok bernama Lembaga Umat Islam Surakarta (LUIS) yang memprotesnya dalam bentuk demonstrasi. Massa Aksi menuntut Pemerintah Solo untuk menghapus dan merenovasi ulang gambar yang menyerupai salib tersebut sembari membawa poster penolakan. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah perlukah umat Islam takut terhadap simbol agama lain ? Tentu menarik bila isu ini dikaji.

Saya sepakat perkataan Ustad Ahmad Baidowi salah satu Ustad Kampung yang cukup terkenal di Solo, beliau mengatakan: “Jika iman dan kesabaranmu demikian mudah tersulut emosinya hanya karena simbol yang menyerupai salib, sebenarnya pertanyaan utama yang harus kamu tanyakan pada dirimu sendiri adalah "seberapa kuat mutu imanmu?”

Perkataan beliau menjadi pertanyaan juga bagi diri saya sendiri. Apakah iman kita lantas turun hanya  karena ada simbol yang menyerupai salib yang diletakkan di Jalan? Jika tidak, mengapa protes? Tentu ada yang akan bilang begini: “Sekarang yang digambar adalah jalan, besok apa?” Ini adalah kenyataan bahwa narasi ketakutan dan kebencian masih tertanam di pikiran mereka semua.

Dalam sejarah Islam ada oknum-oknum  yang menggunakan simbol agama tertentu untuk kepentingannya sendiri. Dalam perang Shiffin, Amr bin Ash menggunakan sobekan Alquran yang ditempel pada lembing untuk memerangi Sahabat Ali Bin Abi Thalib (khalifah sah saat itu). Mereka membuat pendukung Ali untuk ragu berperang dan membuat mereka takut merusak Alquran sehingga nanti masuk neraka.

Nabi Muhammad sendiri sebenarnya telah memberikan teladan bahwa keimanan tidak diukur dari apa yang tampak. Dua kali ia memberikan contoh bahwa simbol dalam agama bisa jadi tidak penting.

Yang pertama kisah tentang Arab Badui yang mengencingi Masjid Nabawi bisa menjadi cermin bagi kita bagaimana menghadapi orang yang tidak tahu telah berbuat salah. Kisah tersebut termuat dalam kitab Shahih Muslim. Yang mana pada waktu itu Rasulullah dan para sahabat sedang berada di Masjid Nabawi. Mereka pun kedatangan tamu orang A'rabiy (Arab Badui). Tiba-tiba, si Arab Badui tersebut kencing di dalam Masjid Nabawi. Seketika, sahabat mengerubungi orang itu dan meneriakinya dan menyebutnya sangat kelewatan. Rasulullah langsung menghalau para sahabat dan mengatakan "Biarkan saja dia sampai selesai".

Setelah si Arab Badui itu menyelesaikan hajatnya, Rasulullah meminta sahabat untuk mengambil air satu timba. "Siramkan air itu di atas tanah yang dikencingi tadi," ucap Rasulullah, tanpa terlihat marah sama sekali.

Begitulah Rasulullah, sosok penuh kasih. Bisa saja Rasulullah menegur dengan keras si Arab Badui, namun tidak dilakukan. Rasulullah tahu, celaan terhadap kekeliruan hanya akan menyakiti hati si pelaku.

Yang kedua adalah peristiwa sebelum Rasulullah SAW bertolak ke Tabuk, orang-orang Munafik membangun bangunan yang mereka namai "Masjid". Mereka membangun bukan demi karena Allah SWT, tetapi untuk tujuan menyambut kehadiran seorang yang bernama Abu Amir ar-Rahib. Ketika pembangunan Masjid tersebut sudah selesai mereka mengundang Rasulullah SAW untuk shalat di sana dan Rasul memperkenankan permintaan mereka.

Rasulullah SAW bersiap-siap menuju ke sana untuk shalat, tetapi sebelum melangkah turun firman Allah surat At-Taubah ayat 107 yang artinya, ''Dan orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan terhadap orang-orang Mukmin secara khusus, dan masyarakat secara umum, dan untuk kekafiran dan tujuan pengingkaran kepada Allah SWT serta untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin...''

Begitu turun ayat ini, Rasulullah SAW membatalkan niatnya berkunjung ke masjid Bani Ghani bahkan memerintahkan beberapa orang untuk pergi menghancurkannya.

Jika kisah itu terjadi pada masa sekarang dan memakai standar moral dan iman hari ini, saat ada orang yang kencing dan membakar masjid, bisa jadi orang itu akan dipancung di jalanan oleh masyarakat yang mengaku paling beriman.

Simbol yang kita lihat baik salib dan simbol kekristenan lainnya bukan lagi hal utama dalam pewartaan hari ini. Mengherankan juga kalau ada orang Islam yang takut akan simbol agama lain. Padahal simbol itu tidak muncul pada zaman ini saja, melainkan sudah sejak dahulu kala.

Orang Kristen mengatakan bahwa salib itu mampu mengusir setan dan hanya setan yang takut padanya, bukan menakut-nakuti manusia. Sementara mereka yang beriman lain dan sebagaimana juga kami beriman, mereka tidak akan terganggu dengan salib yang secara sosial menjadi identitas Kristen Kecuali mereka adalah setan berkedok agama.

Kita Umat Islam harus meyakini bahwa selama kita beragama dan meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kita  tidak perlu takut akan simbol, ajaran, dan segala sesuatu dari agama lain. Kita harus yakin betul iman yang ada dalam hati kita semua tidak akan goyah hanya karena ada pengaruh dari luar. 

Ribuan Gereja berdiri di Indonesia dan setiap tahun selalu ada peringatan Natal dan Kenaikan Isa Al Masih, yakinkan pada diri kita semua bahwa peringatan itu tidak akan juga memengaruhi secuil pun iman kita semua. Alih-alih itu semua mengganggu justru semakin meyakinkan kita bahwa Iman adalah keyakinan, Iman adalah pengakuan, dan iman tidak ada sangkutpautnya dengan simbol.

Oleh : Afrizky Fajar Purnawan
Kader Hijau Muhammadiyah