Perjalanan Cinta Sang Musafir, Part 3: Last Chapter

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Perjalanan Cinta Sang Musafir, Part 3: Last Chapter

2 January 2019


Gambar: ilustrasi

CERPEN, marjinnews.com- Di suatu hari, pada waktu itu, di Jalan Danau Tamblingan, Sanur – Denpasar Selatan, Orang-orang sibuk seperti biasanya. Sopir-sopir taxi mondar-mandir mencari penumpang. Begitu juga dengan tukang ojek ilegal. Mereka berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Banyuwangi, Sumatra, Sulawesi, Lombok, Flores dan lain sebagainya. 

Kita duduk di depan sebuah Mini Market. Kebetulan memang ada kursi dan meja yang lagi kosong. Di atas meja tempat kita duduk terdapat satu botol teh pucuk harum. Teh pucuk itu tadinya aku beli di Mini Market itu. Tak ada barang lain yang aku beli. Maklum saja hari itu hatiku setengah meradang, sebab kabar tak enak beredar tentang kamu dan Kristian (selanjutnya nama “Kristian” akan ditulis dengan nama “Tian” saja, biar tidak terjadi kesalahpahaman), lelaki yang tak malu dengan usia itu.

Ada kegetiran yang kau goreskan pada pelupuk ruang relungku. Kemarahanku memuncak saat diam menjeda mulut kita terlalu lama. Kesunyian sementara yang kamu ciptakan melalui ketidakpahamanmu tentang maksudku, membuat semuanya semakin memburuk. 

Kamu tidak bersuara, merengut dengan roman yang tak sedap untuk dipikirkan. Meskipun nyatanya kamu tetap memesona. Tetap menjadi bintang yang binarnya mengalahkan senja yang merona di ufuk barat jagat raya. 

Aku berkali-kali menenggakan teh pucuk yang tadi aku beli, meskipun sebetulnya aku tidak haus. Barangkali itu sekadar untuk menghapus kemarahanku. Sementara kamu tetap membatu, layaknya lukisan yang terpajang saja di dinding museum. 

“Apa artinya kita ini bagimu?,” tanyaku meletus, memecahkan keheningan yang terlalu lama berdesir. 

Aku yakin suaraku kala itu meninggi. Di sela-sela suaraku ada malu yang mengendap, karena sebenarnya aku tidak pantas untuk menanyakan itu, sebab saat itu kita belum jadian. Belum ada ikatan yang menjadi dasar bagiku untuk memarahimu.

Kamu belum menyahutku. Kamu tetap diam, membatu dan tak acuh. Tetapi ada mendung di matamu, yang barangkali sebentar lagi butir-butir embun akan menggenangi kedua matamu. Kemudian akan jatuh di pipih, dan membuat rona pipihmu hilang. 

Atau mungkin luruh tangismu sudah pecah. Dan air matanya kamu telan sendiri, sehingga tidak perlu kau jatuhkan ke pipihmu. Mungkin begitulah yang kamu lakukan kala itu, biar aku tidak menyadari bahwa di dalam hatimu ada perhelatan batin yang cukup serius.

“kamu tahu, kalau perjalananmu ke Bedugul dengan Tian beberapa hari yang lalu sungguh membuatku terluka. Dan orang-orang mulai menebar gosip tak sedap tentang kamu,” ujarku lagi. 

Perkataanku belum juga kamu gubris. Kamu masih mendiami kesabaranmu. Membiarkanku mengeluarkan semua unek-unek yang terlalu lama menggumpal dengan penantian.

“Odilia, apa kamu masih belum bisa menjadikan aku sebagai pacarmu,” tanyaku lagi. 

Kali itu aku blak-blakan. Sebab sudah habis kata yang bisa kuucap. Sudah habis kesabaran untuk menunggu rindu yang terlalu lama mengambang. Menimang hati untuk terus menanti itu butuh lebih dari sekadar kedewasaan.

“Ini untuk terakhir kalinya aku menanyakan ini. Jika kamu tidak juga memberikan kepastian, aku akan membiarkan semuanya berlalu dihapus ego dari perasaanmu,” lanjutku, sebab kamu bahkan belum bergeming sedikit pun. 

“Ya sudah,” ucapmu singkat disertai mata merah menyala. Mungkin itu tandanya kamu lagi marah. Entahlah. 

“Ya sudah apa?,” tanyaku sedikit membentak.

“Ya sudah, aku mau menjadi pacar kaka,” jawabmu dengan roman muka yang tak berubah, masih datar.

Aku tak kuasa menahan naluriku yang terus memaksa bibir menyungging senyumnya. Hatiku yang dari tadi hanya membara dengan kemarahan yang terus memuncak, serentak saja mencair, luluh oleh jawabanmu yang terlalu indah untuk didengar. 

Riuh getir yang mendesir surut termakan kalimatmu yang terakhir. Proses kita jadian waktu itu memang tidak seromantis seperti yang terjadi di Sinetron atau pun di Drama Korea yang sering kamu tonton. Proses kita jadian waktu itu unik dan langka. Bayangkan, seorang lelaki meminang perasaan wanitanya melalui pertengkaran. Ah, kita betul-betul akan menjadi pasangan yang aneh. 

***

Semenjak kita berdua sepakat menjadi sepasang kekasih, ada banyak tempat yang sudah kita kunjungi. Tidak ada yang lebih bahagia bagiku saat itu selain menemanimu mengelilingi Bali untuk mengunjungi beberapa tempat wisata. 

Setiap detik yang kita lewati adalah bukti yang akan menjadi alasan bagi kita untuk tetap bertahan dalam situasi apa pun. Setiap detik pastinya ada kemesraan yang terus mengukir cinta semakin dalam di hatiku, dan aku rasa kamu juga demikian.

Jalanan yang pernah kita lalui adalah ruas rindu yang nanti akan menjadi bukti ada kita yang pernah dan saling mencintai. Suatu saat, ketika usia kita sudah senja, dan kita tidak lagi berdua tetapi berbanyak yaitu ada anak-anak kita yang akan menemani kita membelah ruang dan waktu, kita akan dengan bahagia menceritakan tentang semua tempat yang pernah kita kunjungi berdua. 

Semoga kesetiaan, tanggung jawab,  dan saling memahami akan selalu kita utamakan,  sebab cinta saja tidak cukup membuat hubungan bertahan. 


Penulis: Eman Jabur
Jurnalis Marjinnews