Pengurus PMKRI Komisariat STPMD "APMD" Resmi Dilantik
Cari Berita

Pengurus PMKRI Komisariat STPMD "APMD" Resmi Dilantik

Marjin News
22 January 2019

(Foto: dok. Pantia)

Yogyakarta, Marjiinews.com - Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Yogyakarta, St. Thomas Aquinas Melantik Bertolomeus Pondang, sebagai ketua komisariat PMKRI komisariat STPMD "APMD" dan jajaran pengurus kerja harianya dengan periode kepengurusan 2019-2020, pada (21/01).

Dalam sambutannya, ketua komisariat terlantik Bertolomeus Pondang mengingatkan kader PMKRI supaya perkuat lagi semangat dan roh PMKRI dalam diri masing-masing kader untuk melawan segala bentuk ketidakadilan di Indonesia.

"Ideologi bangsa kita sedang dirusaki oleh kelompok-kelompok radikal yang tidak bertanggungjawab. Ada yang berusaha merusak bangsa ini. Selain itu, ketidakadilan, penidasan terjadi bgtu banyak.
Kita sebagai kader PMKRI harus memperkuat roh ke-PMKRI-an kita, meperkuat idealisme supaya vis kita untuk mewujudkan keadilan sosial dan persaudaraan sejati bisa kita wujudkan" pungkasnya.

Ketua komisariat demisioner, Viki Purnama menyoroti pragmatisme dan paktek politik praktis yang menurutnya akhir-akhir ini marak terjadi di Indonesia dan dilanggengkan oleh organisasi mahasiswa.

"Saya meyakini bahwa kita semua menempatkan pragmatisme politik dan praktek politik praktis sebagai salah satu musuh bersama kita yang harus kita musnakan dari negeri tercinta ini. Kita mahasiswa Indonesia sebagai pewaris peradaban bangsa seharusnya menjadi aktor untuk menuntaskan segala persoalan tersebut, termasuk praktek politik praktis yang dilakoni oleh petinggi birokrasi kita.
Tetapi, akhir-akhir ini organisasi mahasiswa seperti menjadi aktor utama dalam praktek politik tersebut, untuk mrencapai kekuasaan di tingkat organisasi saja banyak dari kita yang berani memilih jalur politik praktis, kontrak politik, tidak punya standar kompetensi, mengahalakan segala cara, semuanya untuk jabatan dalam organisasi." Ungkap mahasiswa Ilmu Pemerintahan STPMD "APMD" tersebut.

Selain itu, menurutnya pendidikan politik yang lemah kepada masyarakat oleh mahasiswa sebagai pemegang tahta amanat rakyat juga sangat berdampak negatif bagi perjalanan demokrasi Indonesia.

"Kita sebagai pemegang tahta amanat rakyat juga sangat lemah dan bahkan tidak bisa memberikan pendidikan politik kepada masyarakat kita. Karena kita sendiri saja belum mampu berpolitik dengan baik dan etis, kita sendiri terjebak dalam politik praktis. Itulah yang membuat demokrasi kita tidak akan tiba pada puncaknya, masih terus berada pada masa transisi demokrasi atau demokratisasi" pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua presidium PMKRI Jogja, Astra Tandang mengatakan keberpihakan PMKRI pada kaum tertindas dan keberadaan organisi yang independen.

"PMKRI bukan organisasi politik, bukan partai politik. Keberpihakan kita adalah kaum-kaum tertindas. Kehadiran komisariat di Jogja diharapkan bisa memperkuat basis gerakan, sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing komisariat. APMD dengan kajian pemerintahan dan sosial, UJB dengan kajian hukumnya." Ungkap Astra.*


(OD/MN)