$type=grid$count=4$tbg=rainbow$meta=0$snip=0$rm=0

Mengelola Kebhinekaan



Gambar: ilustrasi

OPINI, marjinnews.com- Indonesia adalah sebuah negara bangsa yang dibangun dalam keanekaragaman (multikultural) yang sangat besar. Keanekaragaman ini memberikan pembeda yang sangat jelas antara Indonesia dan negara-negara lain di dunia. Namun demikian, sejalan dengan perkembangan  negara lain di dunia,  realitas multi tersebut  berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi keindonesiaan sebagai ‘integrating force” yang mengikat seluruh keragaman yang  kadang memperlihatkan kecenderungan kurang “bersahabat” karena hubungan antara etnis, agama, suku nampaknya hanya bersifat semu.


Begitu semunya hubungan itu, sehingga  tidak jarang  muncul “konflik berskala kecil”  yang berdampak pada proses akulturasi budaya berjalan lambat. Karena setiap   etnis sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, tanpa adanya kesediaan  ruang dialog untuk memecahkan kebuntuan hubungan itu, mendorong tumbuhnya konflik yang mengarah pada perpecahan yang bisa menimbulkan  semacam collective efferescence atau keadaan yang meluap yang dialami oleh kelompok.



Semuanya itu karena kurang jelasnya bagi warga masyarakat konsepsi integrasi kebangsaan di Indonesia yang ingin dicapai pemerintah, merupakan salah satu kendala yang menyebabkan proses integrasi kebangsaan itu mengalami hambatan. Di satu pihak pemerintah dan masyarakat  menyatakan tekad untuk melaksanakan integrasi kebangsaan   tetapi di pihak lain praktiknya yang diperlihatkan oleh pemerintah bertentangan dengan hal tersebut


Sikap ambivalensi ini secara tidak langsung mendorong menguatnya “disintegrasi kebangsaan” antaretnis, antarsuku, antarbudaya di Indonensia. Akibatnya terjadi keengganan dari masing-masing pihak yang harus bersosialisasi untuk saling mendekatkan diri. Sehingga usaha pendekatan individual atau kelompok sering ditanggapi dengan sikap kecurigaan sosial. 


Kasus pertikaian antaretnis, antarsuku di Indonesia yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, mendorong kita untuk membangkitkan memori kolektif kita pada sejarah awal menyatunya Republik ini. Untuk mengingat kembali memori kolektif tersebut, sering kita disodori pertanyaan motivasi apa yang  mendorong berbagai suku bangsa, agama, ras, dan, bahasa menyatakan dirinya bersatu memilih Indonesia sebagai bangsanya?   


Atas pertanyaan terebut jawaban yang mungkin dijadikan rujukan ialah semangat kebersamaan dan semangat untuk mendahulukan kepentingan publik daripada kepentingan pribadi. Semangat kebersamaan itulah yang menjadi pilihan utama oleh pendahulu-pendahulu kita, yakni masyarakat indisoluble and permanent nation.  Selain itu, pada awal mula menyatunya berbagai  suku bangsa, bahasa, etnis dan agama menjadi satu ikatan komunal karena menghadapi nasib yang sama, yakni sama-sama dijajah bangsa asing.


Membaca kebinekaan rujukan yang paling pas untuk saat ini, kita mengacu kepada postulat Max Weber, dalam  Esays in Sosiology Oxford University Press, (1946,p.130) mengatakan: Each nation has its own of moral phylosopy conforming to is character, artinya setiap bangsa mempunyai falsafah moral masing-masing yang sesuai ciri-ciri khusus bangsa itu. Selanjutnya ia mengatakan: Human concience that we must integrally realize is nothing else than the collective concience of the group which we are the part, artinya karena nilai-nilai moral yang kita miliki, sebenarnya adalah nilai-nilai yang diakui bersama oleh kelompok tempat kita berada. Semakin majemuk masyarakat, semakin majemuk fungsi-fungsi di dalamnya, semakin majemuk pula nilai-nilai yang disepakati untuk dijadikan tali pengikat mereka dalam kebersamaan.


Jiwa kehidupan sosial suatu masyarakat bersumber dari dua hal yakni adanya pembagian fungsi di antara sesama anggotanya dan adanya kesamaan pandangan tentang nilai-nilai moral. Pandangan tentang nilai-nilai moral itu akan berkembang sesuai dengan perkembangan kemajemukan dalam masyarakat itu sendiri. Ada yang berubah, ada juga yang dipertahankan. Jika unsur kesamaan hilang dari seseorang, maka ia dilihat sebagai bukan orang kita atau ia berbeda dari kita. Jika kehilangan kesamaan itu terjadi pada sisi yang dianggap sebagai fundamental, maka dapat merusak kelangsungan hidup  itu sendiri. “It is impossible for offense againts the most fundamental collective sentiments to be tolarable with out the disintegration, seakan melegitimasi deakulturasi budaya, karena masih ada sekelompok etnis tertentu memandang etnis lain sebagai suatu golongan yang tidak mempunyai akar dalam masyarakat dengan ciri etnis, bahasa yang sama sekali berbeda dan begitu juga bentuk-bentuk kebudayaannya. 


Pesatnya perkembangan dalam revolusi teknologi ternyata semakin meniadakan batas bagi masyarakat dunia—antara negara sebagai realitas dunia. Berbagai kemajuan ikut melahirkan konflik primordial (suku, agama, ras) dalam bungkus globalisasi ideologi dan ekonomi.


Konflik primordial terasa di berbagai daerah belakangan ini. Semua itu sebenarnya pada tataran konflik yang bersangkutan, memperlihatkan bagaimana globalisasi ideologi yang menyungkup dunia, juga memperlihatkan  adanya elemen politik di dalamnya.


Terjadinya dislokasi posisi dan disorientasi nilai, baik bagi individu maupun kelompok masyarakat sebenarnya memaknai bahwa dalam kehidupan kini telah terjadi kesenjangan ideologi, akibat kebijaksanaan yang dilakukan oleh negara. Dan di bidang politik, melahirkan marginalisasi politik yang sebenarnya mencairkan identitas individu atau kelompok dalam masyarakat. Kebutuhan akan identitas itulah yang melahirkan berbagai potensi isu primordialisme (etnis dan sara). Melalui pengatasnamaan primordialisme sebagai identitas, maka militansi yang tercipta memperlihatkan sebagai  passion bagi para pendukungnya. 


Pada sisi yang lain, penyeragaman yang terjadi, yang dilakukan oleh negara menolak pluralisme serta berupaya meniadakannya, justru memperlihatkan gambaran yang pedih, sebagaimana yang terlihat pada sejumlah daerah seperti di Poso, Sambas dan Maluku beberapa waktu lalu.


Kemerdekaan ideologi dan budaya, ternyata memperlihatkan bagaimana ideologi lebih banyak diurusi oleh pemerintah ketimbang budaya. Akan tetapi dalam kacamata sejarah bangsa, sebenarnya persoalan ideologi itu sejak kemerdekaan tidaklah merdeka sebagaimana politik negara. 


Kenyataan ini memang tidak pernah dibicarakan secara terbuka, dalam arti semua itu memperlihatkan adanya elemen politik di dalamnya.


Dalam rangka merekonstruksi keindonesiaan sebagai integrating force ingin mengatakan kepada kita bahwa titik tolak eksistensi bangsa-bangsa di Indonesia dengan tetap hidupnya budaya peaceful co-exixtence sebagai belahan lain  dari peradaban mondial, tetapi secara implisit kita temukan penegasan-penegasan historis menjadi dasar pembentukan karakter bangsa.


Modal Dasar


Di era pasca perang dingin, bahaya-bahaya terhadap bangsa-bangsa di dunia tidak lagi bersifat konvensional militeristis dengan aktor negara, tetapi bersifat non-tradisional (non traditional security threat) dengan pelaku non state actors seperti terorisme, kejahatan transnasional terorganisasi, perusakan lingkungan hidup, perdagangan senjata api, migran gelap, perdagangan manusia untuk prostitusi dan sebagainya. Belum lagi persoalan kemiskinan, penyakit menular, perang saudara, senjata nuklir, dan masih juga adanya bahaya perang.


Modal dasar bangsa Indonesia untuk menghadapi itu semua adalah nilai-nilai dasar yang telah menjadi konsensus final, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI di tambah Wawasan Nusantara sebagai geopolitik dan ketahanan nasional sebagai geostrategi.


Ketahanan nasional (national resilience) pada hakikatnya merupakan kondisi tingkat peradaban (the level of civilization) suatu bangsa yang tidak dapat hanya diukur atas dasar parameter kemampuan defence and security , pertumbuhan ekonomi dan jumlah pendapatan perkapita suatu bangsa, tetapi juga ditentukan oleh kondisi stabilitas politik dan perlindungan HAM, tingkat demokrasi, tingkat kemiskinan, kemampuan suatu bangsa untuk memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif di era globalisasi, kemajuan pendidikan dan sains serta teknologi dan sebagainya, yang semuanya sebenarnya merupakan jumlah keseluruhan dari human and national capabilities.


Persoalan yang serius yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah perekonomian yang lemah, gerakan separatisme, etnonasionalisme, etnodemokrasi, serta konflik sosial (agama, etnis, bahasa dan lain sebagainya). Apabila konflik sosial tidak segera ditangani, kita khawatir konflik berlatar belakang perbedaan etnis, agama atau bahasa akan berkembang di seluruh daerah tanpa sebab yang jelas. Di sini perlunya penguatan pemerintah berdasarkan hukum desentralisasi tanpa perpecahan, sekaligus penguatan nilai-nilai politik secara nasional.  Demikian pula penguatan masyarakat sipil (Civil Society). Indonesia memiliki keuntungan adanya sentimen nasional yang kuat tetapi sekaligus memiliki sumber-sumber yang potensial menciptakan instabilitas politik atau ekonomi. Oleh karena itu, perlu ada kepemimpinan yang kuat dan visioner.


Bangsa Indonesia yang kini sedang mengalami proses transisi demokrasi, benar-benar sedang berada dalam situasi kritis karena kini kita tepat berada di persimpangan jalan keselamatan atau jalan kehancuran. Bila proses transisi ini tidak dapat kita lalui dengan baik, ancaman yang kita hadapi tidak saja proses disintegrasi bangsa (lepasnya wilayah tertentu dari negara), tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan terjadinya proses disintegrasi sosial atau hancurnya  social bond (kerekatan sosial) dalam masyarakat. Bila social bond hancur, akan tumbuh social distrust (iklim tidak saling mempercayai) di antara kelompok-kelompok sosial, sehingga kelompok satu dengan yang lain dalam masyarakat akan saling curiga, saling bermusuhan atau bahkan saling berupaya meniadakan. Dalam situasi  ini, tawuran massal gaya Thomas Hobbes, war of all against all, bukan lagi menjadi khayalan.


Ada banyak argumentasi fundamental yang  melatarbelakangi hancurnya social bond, salah satu di antaranya ialah pemekaran daerah di Indonesia pasca UU Nomor 22 Tahun1999, di mana pemekaran daerah lebih   sebagai  alasan,   preference of homogeneity (kesamaan kelompok (SARA) atau historical ethnic yang memungkinkan ikatan sosial dalam suatu etnik yang sama perlu diwujudkan dalam suatu wilayah yang sama pula. 


Keinginan untuk membentuk wilayah baru seiring dengan semakin menguatnya kecenderungan pengelompokan etnis pada wilayah lama. Hal ini muncul mengingat dalam wilayah lama tidak banyak kesempatan ekonomi dan politik yang dapat dimanfaatkan dengan baik oleh etnik tersebut, di samping tentunya faktor sejarah etnik tersebut pada masa lampau.  Hal tersebut membuktikan bahwa preference of homogeneity atau historical etnic menjadi alasan dalam melemahnya kebinekaan di Indonesia, yang ke semuanya justru akan memperkuat politik identitas baik agama, budaya, suku, dan etnis dan cenderung menghancurkan social bond.


Situasi yang penuh pertentangan di antara masyarakat itu dinamakan state of nature di mana manusia saling bersaing dan berkompetisi tanpa aturan dan ketiadaan hambatan atau restriksi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan jika perlu membunuh dan penghalalan segala cara lainnya atau paling tidak menguasai orang lain. Pada tataran abstraksi ini, manusia dipandang sebagai serigala yang saling berkelahi untuk mendapatkan kebebasan atau makanan bagi dirinya. Jadi aturan yang adapun hanya dipergunakan agar tidak terjadi tindakan yang mungkin menghancurkan diri sendiri atau dalam bahasa lain “suatu proses untuk memperoleh apa yang kita kehendaki ataupun mengelakkan apa yang tidak kita sukai.” (Deliar Noer, 1982).


Bagi Hobbes, cara yang paling efektif untuk menghentikan situasi itu adalah dengan menciptakan suatu pemerintahan yang kuat agar mampu melakukan represi dan menegakkan aturan. Sosok pemerintah yang kuat itu digambarkan sebagai Leviathan, makhluk yang menyeramkan dari lautan dan setiap orang menjadi lemah dan takut berhadapan dengannya. Dengan itu, masyarakat dapat ditertibkan dan dikendalikan. Uniknya, sosok itu sendiri dibutuhkan oleh masyarakat yang saling berkelahi itu untuk menciptakan ketertiban (Jamil Salmi, 2005).


Dalam nada yang lebih positif, John Locke menggambarkan situasi yang mendorong manusia untuk melakukan kesepakatan di antara mereka sendiri untuk mengadakan badan sendiri yang mempunyai kekuasaan politik. Kedua pemikir ini dipandang sebagai peletak dasar teori-teori kontrak sosial yang populer di dalam alam pikiran Barat.


Di Indonesia, konflik horizontal dan pertarungan kekuasaan antar elite politik baik yang berkedudukan di lembaga legislatif maupun eksekutif, telah menyeret kehidupan berbangsa dan bernegara ke dalam kekalutan, ketegangan dan krisis berkepanjangan. Indonesia sedang mengalami pembusukan (decaying), bukan hanya political decay tapi juga social-economic decay. Modal politik (political capital) hancur berkeping-keping akibat konflik para elite yang terkesan tidak tahu diri dan irasional. Modal ekonomi (economic capital) meleleh akibat ketidakberesan dan ketidakmampuan para pengambil keputusan maupun kepemimpinan nasional dalam mengelola perekonomian, sedangkan modal sosial (social capital) tergerus habis akibat krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap para pemimpin nasional yang ada. 


Indonesia yang dilanda multi krisis dewasa ini memerlukan kepemimpinan nasional yang ikhlas dan komit untuk berkorban dalam semangat jihad (menurut keyakinan Islam) untuk membangkitkan spirit, aktivisme dan intelektualisme beserta segenap sumber daya rakyat dalam menyelamatkan reformasi total yang pada hakikatnya adalah menyelamatkan bangsa dan negara.


Para pemimpin generasi tua terbukti telah menyia-nyiakan kesempatan sejarah (historical opportunity) untuk mengimplementasikan enam visi reformasi yang sudah dipertaruhkan jutaan rakyat, mahasiswa dan kaum muda dengan darah dan air mata. Generasi tua ini ternyata sangat lembek, penuh intrik, saling sikut dan sarat pertarungan kepentingan (conflict of interest). Ujungnya adalah perebutan kekuasaan dan uang, dengan cara mendayagunakan ”konstitusionalisme” sebagai senjata legal formal untuk mempertahankan atau menjatuhkan kekuasaan.


Nasionalisme per definisi seringkali dikonotasikan dengan aspek-aspek emosional, kolektif, idola dan syarat memori histories seperti seperasaan, senasib. Faktor memori histories adalah factor kecenderungan yang dibangun untuk menumbuhkan rasa perasaan “bersatu” dalam sebuah konsep kebangsaan tertentu.


Menurut Ernest Renan, seorang teoritikus Perancis dalam esai terkenalnya “ What is Nation?”, mengatakan, bahwa nation adalah jiwa dan prinsip spiritual yang menjadi ikatan bersama baik dalam pengorbanan (sacrifice) maupun dalam kebersamaan (solidarity). Sementara menurut Benedict Anderson, nation didefinisikan sebagai “sebuah komunitas politik terbayang” (an imagined political community). Nation pada awalnya lebih dalam bentuk imajinasi pikiran belaka. Namun nation kemudian terbayangkan sebagai komunitas, dan diterima sebagai persahabatan yang kuat dan dalam (deep horizontal comrademship).


Dalam semangat inilah nasionalisme Indonesia muncul sebagai satu ikatan bersama melawan kolonialisme. Di sini, nasion dan nasionalisme dipakai sebagai perasaan bersama oleh ketertindasan kolonialisme, dan oleh karena itu, dipakai sebagai senjata ampuh untuk membangun ikatan dan solidaritas kebersamaan melawan kolonialisme.


Nasionalisme saat itu tergolong nasionalisme yang diciptakan. Seperti ditulis Eriksen (Ethnicity and Nationalisme) bangsa adalah sebuah komunitas yang diharapkan terintegrasi dalam hal budaya dan identitas diri secara abstrak dan anonim. Semasa Bung Karno, semangat nasionalisme berhasil dijaga dan ditanam, sehingga merasuk ke darah daging setiap orang Indonesia, tidak peduli di mana dia lahir dan dari suku apa orang tuanya berasal. Itulah inti pesan kebinekaan kita, bagaimana kita mengelola keragaman dalam bingkai NKRI.


Demikian pula saat ini berkembang media sosial, dengan mudah orang mengakses berita. Dunia saat ini memang tidak ada batasnya (borderless world). Berita-berita yang masuk dalam alat komunikasi kita dimanfaatkan oleh subyek tertentu untuk memenangkan sebuah pertarungan dan bahkan menciptakan konflik sosial.



Oleh: Ben Senang Galus, penulis buku "Kosmopolitanisme Satu Jiwa Satu Negeri," tinggal di Yogyakarta

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,2,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,644,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,51,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,102,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,350,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,345,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,560,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1363,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,50,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,235,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Mengelola Kebhinekaan
Mengelola Kebhinekaan
https://4.bp.blogspot.com/-2rjJT6ChMCk/XC9SSJmZpMI/AAAAAAAAAG0/YanDVqEMvwMRXDwWqEesGQja6PtKif1EQCLcBGAs/s320/IMG_20190104_203137.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-2rjJT6ChMCk/XC9SSJmZpMI/AAAAAAAAAG0/YanDVqEMvwMRXDwWqEesGQja6PtKif1EQCLcBGAs/s72-c/IMG_20190104_203137.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2019/01/mengelola-kebhinekaan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2019/01/mengelola-kebhinekaan.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy