Malam Tahun Baru: Rumah dan Rantau
Cari Berita

Malam Tahun Baru: Rumah dan Rantau

1 January 2019

foto: Istimewa
Aku merenung sejenak menatap lampu jalanan yang sudah mulai menyala. Kususuri  trotoar berdebu  perlahan tanpa berniat untuk cepat-cepat segera berlalu.

Sementara itu suara adzan maghrib sudah menghiasi langit sore yang cerah. Aku masih ingin tetap menikmati sore ini, namun aku tak tahu bagaimana caranya.

Malam ini adalah malam tahun baru. Tapi aku tak merasakan itu akan terjadi. Hatiku masih beku dan lidahku rasanya kelu untuk berbicara sepatah katapun.

Aku hanya tahu bahwa malam ini malam akhir tahun sekaligus detik-detik menuju ulang tahunku di pembuka tahun, 01 Januari 2018.

Aku ingin ikut bereuforia dengan kemegahan tahun baru. Ku lirik jam tanganku, masih setengah tujuh sore. Lalu aku memilih menikmati suasana jalanan yang ramai sambil menunggu pukul 00.00, puncak semarak malam ini.

Perlahan tampak di bola mataku kembang api yang bertalu-talu sili berganti. warna langit di seluruh penjuru kota Malang penuh warna, meletup, diikuti teriakan orang-orang yang memilih ke jalanan merayakan tahun baru.

Disaat seperti inilah aku teringat rumahku, tanah kelahiran. Selalu terbayang malam tahun baru yang indah dengan berkumpul bersama keluarga besar.

Mengenang orang-orang rumah dengan berbagai luapan kasih, entah berdoa, pelukan hangat, ciuman atau sekedar canda tawa.

Akh, sudahlah kadang mengenang bisa membuatmu sesak napas.

Aku melanjutkan langkahku.

Aku berbelok kekiri menuju jalan kecil ke Gereja. Pada tikungan kedua terdapat gereja megah tempatku beribadah malam ini. Kurang lebih 500 meter dari Jalan umum (Jl. S. Supriyadi). Gereja paroki Janti berada tepat di belakang kampus Universitas Kanjuruhan Malang (UNIKAMA).

Saat aku berjalan perlahan memasuki gerbang gereja, jemaat sudah mulai memenuhi tempat duduk dalam gereja. Sementara parkiran penuh dengan mobil mewah dan sepeda motor.

Kulirik beberapa orang teman kampusku  sudah datang sejak dari tadi. Kami memang lumayan dekat dari gereja janti. Bersyukurlah teman-teman yang kuliah dikampus lain ternyata sudah datang lebih awal berantusias datang dari segala penjuru.

Para penerima tamu didepan Gereja telah berdiri untuk menyambut setiap jemaat yang datang. Tampak sukacita tergambar di wajah mereka. Kurasa hanya aku yang murung dalam sukacita tahun baru kali ini.

Tetapi dalam hati kutekadkan untuk mencari makna sesungguhnya dari malam tahun baru. Aku malu, malu kepada Tuhanku. Aku tak ingin tahun baru kali ini kunodai dengan perbuatan ku yang tidak layak disebut sebagai orang Kristen.

Pada saat misa tahun baru kali ini aku berjalan dengan khidmat. Semuanya kumaknai dengan kasih dari Tuhan yang nyata melalui kedatangan Yesus Kristus Sang Juru Selamat pada saat natal kemarin.

Dalam jiwaku bergejolak sebuah penyesalan yang dalam akan semua salahku di tahun yang berlalu, sementara itu aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Hanya penyesalan dan sukacita harapan yang coba kuisi  dalam jiwaku di penghujung tahun.

Malam larut saat misa tahun baru selesai.

Semuanya kembali dengan membawa sukacita yang baru. Bersalam-salaman dalam damai dan sukacita yang indah. Semuanya tertawa, tersenyum saling memberikan ucapan syukur dan ucapan selamat tahun baru.

Aku sekali lagi kembali pergi jauh ke dalam lubuk hatiku. Bayangan wajah ayah dan ibu yang mulai menua dan wajah keluarga besarku menyeruak dalam kerinduan. Aku  berdiri di depan pintu sambil memandang keujung jalan. Mereka jauh di mata tetapi dekat di hati.

Gerangan adakah salah seorang dari ketiga anaknya akan pulang merayakan tahun baru kali ini?

Kulihat dengan jelas rumah kami yang sederhana itu semakin sepi penuh kerinduan.

Tahun baru kali ini kedua saudariku  tidak lagi merayakan tahun baru bersama dirumah, karena mereka merayakan tahun baru bersama keluarga kecil mereka masing-masing.

Sementara aku sudah beberapa tahun tidak merayakan tahun baru bersama orang tua.  Aku mendapatkan rasa sepi itu. Rasa sepiku sendiri, rasa sepi di rumah dan semua orang di dalamnya.

Aku hanya bisa berharap tahun depan aku akan pulang untuk merayakan tahun baru bersama mereka.

Aku teringat dengan isi pembicaraan ku dengan mama ditelpon beberapa hari yang lalu. Kurasakan kesepian itu semakin dalam pada  intonasi suaranya.

"Ma, mungkin tahun depan saya baru bisa pulang untuk merayakan tahun baru, doakan saja kita semua sehat- sehat."

"Baiklah, mama berharap kalian bertiga juga bisa pulang bersama-sama dan kita bisa berkumpul lagi."

"Semoga saja ma, tapi tahun ini saya tidak bisa pulang."

Kudengar keikhlasan yang dalam dari kata-katanya yang diiringi sebuah pengharapan. Aku juga berharap semua itu terjadi, bahwa kami akan berkumpul kembali merayakan tahun baru bersama.
Terlebih saya dan saudari yang pertama, kurang lebih hampir tujuh tahun  tidak pernah bertemu.

Aku ingin berteriak ke seluruh jagad raya. Ingin kusampaikan kerinduan ini dan kuteriakan,"Selamat Tahun Baru!!"

Dalam perjalanan pulang yang sepi aku berujar di dalam hati "selamat tahun baru ma, pa."

Tahun ini aku tidak bisa pulang. Lagi.

Oleh: Arifanus Apur