Jika Aku Adalah, Cerpen Karya Filomena Jelita
Cari Berita

Jika Aku Adalah, Cerpen Karya Filomena Jelita

MARJIN NEWS
16 January 2019


Gambar: Ilustrasi


CERPEN,  marjinnews.com- Engkau tahu, semenjak engkau memberi aku senyum simpulmu pada awal pertemuan kita di sebuah gubuk kecil itu, rasanya aku selalu ingin kembali. Lenggok dahimu yang aduhai, ah, aku tidak pantas. Engkau adalah sahabatku. Kita berada dalam satu sisi juang yang sama. Kita dalam juang hobi yang sama. Andai dua insan itu disatukan-Nya, mungkin aku tak perlu menjadi amatiran.

Senja sore semakin menjadi-jadi sebagai penawar rindu yang setia. Setiap waktu siang dan malam kuhabiskan dengan menulis kisah dalam benakku tentang kita. Aku kadang berpikir jika kita suatu ketika yang adalah kelak diwujudnyatakan dalam sebuah mimpi menjadi nyata. Dalam setiap semoga yang nyaris menjadi aminku.

Aku pernah berkelakar pada sebuah doa, Tuhan terima kasihku tak terhingga karena dia sudah Engkau titipkan untuk aku dalam satu sisi juang yang sama. Terima kasih tak batas waktu karena Engkau menitipkan dia pada sisi sebelah kaki kiriku untuk menemani kaki kananku yang hampir saja terantuk pada sebuah eliminasi kosakata rindu yang tak usai kuceritakan pada setiap jumpa malam kita dalam sebuah nama “DOA” 

Aku pun sampai lupa kelakarku itu sering menjadi sebuah undang-undang yang mesti kuhafalkan pada setiap ujudku. Ya,, dunia memang mestinya demikian. Hidup dipenuhi doa. Harap engkau laraskan pada setiap doa. Dan jawaban adalah bentuk terkabulnya doamu. Nah,, Tuhan mendengarkan doamu.

Adalah Mawar seorang gadis berparas manja sudah kukenalkan pada dinding media sosialku. Namanya indahkan? Ia seindah parasnya. Sudah sejak setahun yang lalu kami dipertemukan dalam sebuah ikatan yang bernama pertemuan. Masih kuingat ketika itu, kami masih awal-awal masuk sebuah kampus. 

Mawar adalah anak seorang petani tulen sebuah kampung yang amatiran. Jalur masuk kampungnya sangatlah membutuhkan nyali agar segera usai. Ketika pertama kali aku berkunjung ke rumahnya, paras manisnya seolah menghalang aku untuk segera pamit agar lekas pulang dari gubuk itu.

Tawaran senyum simpulnya tak lekang oleh rambut pirangnya seusai menjalankan aktivitas di dapur demi menjamu tamu istimewanya pada malam itu. Bukan juga mereka pejabat mewah sebuah instansi tetapi mereka lebih sebagai sahabat-sahabat satu juang yang pantas dihargai semesta karena jiwa juang mereka untuk kaum terpinggirkan tak habis dihitung waktu. 

“Mas bro, silahkan makan. Maaf jika ada yang kurang berkenan,” tawarannya pada malam ketika kami bertandang. Ah,,, negeriku memang suka bermajas. Segala kelebihan selalu disampaikan dengan sejuta kekurangan. Fatalnya lagi, menu yang menjadi spesial nyaris menjadi menu belaka sebagai bahan sesajen. Berlebihan kan? Atau engkau menunjukkan kesombongan? Ah, tidak. Itulah negeriku. Negeriku sukanya bermajas. 

Kisah itu akan selalu menjadi ceritaku pada anak-anakku kelak, jika pada suatu ketika yang bernama kelak, engkau yang adalah Mawar menjadi kita dengan aku dalam sebuah ikatan beramu cinta. Cinta yang misteri. Pasti anak-anakku menapik, “kok bisa ayah bertemu ibu dulu?.” Maka saya akan menjawab, “sayang, begitulah. Semesta memang suka memberi tanda pada kita akan suatu ketika. Bermimpilah karena Tuhan melalui semesta selalu setia menyampaikan nyanyian kicauan tak karuan”

Ah, sudahlah itu hanya sekadar cerita Hendra pada sebuah notofikasi dikala itu. Cerita ini sebenarnya hanya menjadi coretan sampah pada sebuah kertas putih suatu malamku tentang sebuah nama yang serentak mengawal hatiku. Dengan sapaan romantis bak kekasih sehabis jadian pada siang bolong, dia selalu menyapaku lagi sebelum mentari sampai. Barangkali dia takut jika siang mengintip lalu tersenyum, tak habis cerita memberi kabar pada seorang kekasih yang sebenarnya lebih menjadi kekasih sahnya pada sebuah juang.

Sebenarnya aku bingung dengan Hendra, selepas ia memberikan aku kabar semalam, keesokan harinya ia mengajak aku ke sebuah kafe tidak jauh dari kampus tempat kami mengadu nasib. 

“Silahkan sayang, kamu mau pesan apa? Kalau aku sukanya kopi. Kamu sukanya apa? Tapi agar kelihatan romantis kita mesti pesan secangkir. Atau apa aku perlu menjadi kopi yang engkau seruput? Biar engkau menjadi racun yang nyaris mengalir dalam sekujur tubuhku..hehehhe”

Mawar tersenyum malu, perempuan memang tak suka menyimpan indah dikala senjata ampuh sang lelaki sudah mendarat manis. Kopi pun sekejap manis meski tanpa gula, gula pun sekejap madu meski telah habis. Ia begitulah. Dunia kita memang demikian. 

“Hmmm.. Kamu memikirkan apa sayang?” sahut Hendra

“Tidak. Aku hanya bingung, aku mesti memesan apa? Atau apa ada rekomendasi darimu?” sahut Mawar berpura-pura manja.

“Sudahlah, aku sudah memesankan kamu secangkir kopi. Aku tahu kamu sukanya kopi kan?” sahut Hendra sembari membelai rambut Mawar.

“Kok tahu?”

“Iaialah sayang, yang namanya cinta kita mesti semakin tahu banyak. Bukankah cinta untuk saling memperkaya dua insan?” pungkas Hendra dengan senjata barunya lagi. Nyaris kali ini mendarat dengan sempurna.

“Aku tahu dari setiap postingan media sosialmu engkau selalu berbicara tentang kopi. Bahkan setiap kali aku mengintip media sosialmu, kopi akan menjadi bahan cerita awalmu pada pagi menjelang siang. Maaf yah, aku suka mengintip. Aku terlanjur candu dengan parasmu,”

“Nggak apa-apa kok…hehehehe. Media sosial memang milik semua orang. Siapa saja boleh mengintip. Aku memang tak berhak melarangmu ataupun mereka. Tugasku sekadarlah membagi sebagian dari kisahku, siapa tahu itu akan menjadi motivasi tersendiri untuk sahabat-sahabatku, termasuk kamu, ia kan?” kali ini jurus bijak Mawar hampir keluar.

“Sudahlah sayang, ayo kita nikmati kopinya. Keburu malam. Nanti kamu sakit kalau kita pulang terlalu malam. Itu mesti tak terjadi, cin..hehehehhe”

Malam semakin menunjukkan angka 11, sudah semestinya kami harus pulang. Hendra mengantarku ke kos dengan sepeda motor yang aduhai kerennya. “Wah.. Engkau adalah titipan Allah yang mesti di syukuri,” pungkas Mawar dalam hatinya.

”Malam ini aku akan ke gubuk, aku membelai rambutmu, kukecup keningmu, memegang kedua tanganmu. Jangan merindu” pungkas Hendra sebelum pamit ke kosnya.

“Rindu adalah tugas muliaku, apalagi jika itu tentang kamu, kamu adalah satu-satunya alasanku merindu” balas Mawar sembari menatap Hendra yang sebentar lagi membunyikan starter pertanda sebentar lagi berlalu.

“Okey sayang, selamat malam”

“Sayang, aku sudah sampai di kos, tidurlah dalam lindungan Tuhan, jangan lupa berdoa. Syukuri tentang hari ini. Aku mencintaimu”

Wah… serentak mataku melotot mengintip karena penasaran tentang notifikasi itu. Oh ia, Hendra lagi Hendra lagi. Lelaki tampan yang tadi mengantar aku ke sebuah kafe.

“Terima kasih sayang” kataku membalas.

Semenjak itu, malamku penuh misteri. Bayang wajahnya tak lagi kubenci tak seperti ketika awal mula kami berkenal nama pada sebuah akun komunitas. Ya, aku merasa dia adalah anugerah terindah Tuhan yang pantas aku syukuri setiap doaku.

Bagaimana tidak, perhatian dan candaannya setiap kali menitipkan aku notifikasi seakan mengubah duniaku pada sebuah kenyataan bahwa dunia ini memang benar-benar adil. Suka tidak suka, yang pertama kali kami terapkan bukan lagi sebuah kebencian yang mesti kami bawa sampai pada sebuah lubang lahat sebagai akhir pertemuan raga yang mesti diratapi. Ah,, aku harus belajar mencintaimu. Belaian jemarimu pada sebuah gubuk kafe mengantar aku pada sebuah kenangan yang mesti aku ceritakan pada anak-anakku kelak.

Tet,….tet…tet….

Ah…bangsat, waktunya tidur. Alarmku kembali mengingatkan aku akan waktu yang semestinya aku patuhi. Entahlah. Semenjak kehadiranmu dalam duniaku, segalanya mudah kujalani. Bangun pagi pun tak mesti dengan bunyi khas tet..tet..tet,, lagi. Semesta telah mengirimkan kamu sebagai alarm alamiahku dalam bentuk notifkasi yang bertanda “Selamat pagi sayang, semangat untuk hari ini”

Ya,, mestinya aku harus membenci karena bukan aku lagi yang mengatur batokku namun engkau yang  biasa kusebut sebagai pemilik kuasa rindu. Sudahlah. Barangkali Tuhan sudah menitipkan dia untukku. Tak usah diratapi. Bersyukurlah saja, bahwa ada yang mesti kamu syukuri, bahwa ada yang mesti mencintaimu, bahwa ada yang harus menyapamu mesti itu melalui notofikasi semata. 

Ahhh…… Selamat datang dalam duniaku hai kau yang ingin kusebut sebagai “raja imajinasi”

“Sayang hari ini aku mungkin tak bisa lagi intens menyapamu, ada yang mesti aku lakukan demi hari esok, berdoalah. Semua itu tentang kita. Selamat pagi yah, semangat untuk hari ini, love u”

Dengkulku merengut, jemariku lincah, mataku melotot, hatiku berbunga-bunga, jantungku hampir kecopot kosakata yang kau kirim.

“Oh ia sayang, semangat juga untukmu, jaga kesehatan, jangan lupa selalu bersyukur” sapaku membalas notifikasi itu

Hendra lagi Hendra lagi. Lelaki yang sudah mendarat jauh pada hati Mawar akhir-akhir ini.


****

Senja tak lagi bersahabat bersamaku sore itu. Mungkin karena banyak yang membencinya. Maka pergi berlalu begitu saja. Celoteh bibir perempuan manis yang bernama Mawar dari balik kamar kosnya. 

Akhir-akhir ini Mawar suka sekali merangkai kata menjadi sebuah puisi. Memang tidak heran  hobinya memang adalah menulis. Ketika ada teman bertanya bagaimana dia bisa menulis sehebat itu? Mawar tidaklah akan langsung menjawab dengan polosnya, raut wajah manisnya akan tetap mengepulkan tanya seolah ada yang tersembunyi dan malu ia katakan. Apa karena Hendra? Lelaki tampan pujaannya itu? Barangkali. “kopi yang telah membuat aku candu” jawab lembut perempuan pemilik wajah berparas manja itu.

Selepas usai setiap Tanya sahabatnya, Mawar kadang suka mengeluh. Bukan mengeluh tentang hidupnya yang penuh dengan derita, duka atau kekurangan tetapi mengapa Tuhan harus mempertemukan ia dengan lelaki tampan itu.

Aku tidak pantas menjadi kekasihnya, apalagi jika Tuhan memperkenan aku menjadi bagian dari tulang dan dagingnya pada sebuah yang bernama akhirat. Aku pernah mengadu pada Tuhan dalam sebuah doa “Tuhan jikalau engkau hanya menitipkan dia sebagai pengetahuan untuk mengajarkan aku tentang sakit, maka biarkan dia mendarat pada hati yang semestinya ia sakiti, dan bila ia adalah aku, maka patahkan saja semuanya tentang aku, remukkan semua tentang aku, kubiarkan dia yang berkuasa atas diriku saat ini hingga pada waktu yang bernama kelak”

“Hen, aku serentak rindu kamu sore ini. Apa karena senja sudah lama tak bercerita tentang kita? Atau ada yang mesti kita coretkan lagi dalam secangkir kopi yang pernah kita seruput bersama di sebuah sudut kafe itu? Maaf,  jika kali ini aku datang hanya untuk mencipta ribut pada notifikasimu, dengan jujur aku hanya ingin mengatakan bahwa ada rindu yang masih kupeluk dari sini untuk kamu yang ada di sana. Selamat sore Hen,” bunyi notifikasi Mawar untuk Hendra pada suatu sore semenjak Hendra sudah tidak pernah lagi menyapanya.

Pesan terkirim dengan centang dua bertanda abu. Hendra belum membacanya.

Mengintip, mengintip dan mengintip, apa Hendra sudah menciptakan sebuah warna hijau pada notifikasi itu? 

Adalah nyenyak ketika kita mengajak jiwa berlarut dalam sebuah nama yang bernama tidur jika hati tenang. Adalah raga yang cape mengajaknya jeda nyenyak pada sebuah malam entah semua berantakan semenjak Hendra tak lagi membaca notifikasiku.

Apa engkau sibuk? Sudahlah, mungkin dia belum sempat membuka handphone dari balik kesibukannya.

Hari pun semakin terlarut dengan sejuta pertanyaan. Apa aku mesti tetap bertahan? Sejuta kata bijak saya bongkar dari setiap akun media sosial. Berharap ada yang berbicara tentang apa yang aku suarakan sekarang.

Atau apa aku mesti pergi? Siapa tahu engkau yang aku harapkan sekarang adalah bukan lagi menjadi bahu tempat aku mendaratkan rindu.

Atau apa aku harus berteriak pada sebuah lereng bahwa sesedih inikah risau rindu yang aku pikul?

Kuingat kembali setiap notifikasi yang pernah engkau layangkan untukku. Betapa romantisnya engkau menyapaku, bahkan engkau menjelma matahari sebagai alarm. 

Aku ingin menjadi anak kecil, seketika pula imajinasi mereka berkembang tak kenal batas. Tak mengenal makhluk yang bernama cinta, apalagi setan yang disebut rindu. Semuanya diramu begitu indah dan diracik secara sederhana serentak pula melompat kegirangan. 

Hendra, Hendra… engkau makhluk yang menjadikan aku candu. Semua hobi kutuangkan semua untukmu. 

“Selamat pagi” sebuah notifikasi spesial kembali muncul.

“Oh ia Hendra. Aku menapik layar itu. Biar sesekali kau tahu bagaimana jika suatu rindu tak kau pedulikan,” sahut Mawar dalam hati.

Laki-laki memang hobinya sama. Suka hilang saat kita pada posisi nyaman. Barangkali mau mengajarkan kerasnya rindu tanpa dibelai ya?

Atau mau menjelma menjadi laki-laki romantis pada novel garis waktu? Sekejap menghilang lalu kembali dengan sejuta pesona.

Aku sebenarnya suka jika kamu menulis. Aku suka jika kamu berbicara tentang senja. Aku lebih candu jika kamu berbicara kopi, apalagi jika kopi itu kau bagikan bersama aku dalam secangkir kehangatan. Pada dinding gelas itu engkau meninggalkan bekas bibirmu yang manis. Dan aku suka jika pada bekas bibirmu itu menuliskan sebuah kenangan yang tak terhingga dan mesti kita bawa dalam juang yang sama hingga suatu ketika bernama cinta.

Tetapi, waktu semestinya mengajarkan yang lain, aku dan kamu tak lagi direstui untuk bersatu sampai seumur hidup. Tak perlu kau sesali akan suatu pertemuan yang pernah kita cerita. Tak perlu kau ratapi lagi kisah yang pernah kita ukir. Tak ada yang perlu kau marahi jika ada yang mesti kau sembunyikan.

Aku mesti pamit. Masih ada kesibukan yang mesti aku perjuangkan untuk ibuku pada sebuah gubuk tua. Adalah suatu ketika yang bernama kelak aku akan kembali andaikan Tuhan tetap menjagamu untukku.

Adalah kepastian yang mesti mengajak langkahku untuk segera beranjak pada sebuah tugu perjuangan yang mesti aku pijak. Janganlah kau menangis atau menyesali akan perbuatanku.

Maaf, karena aku tak sempat memiliki sepenuhnya. Maaf karena aku tak sempat memulai itu bersama kamu. Maaf jika yang aku katakan selama ini telah menjadi sampah belaka untuk kamu pada sebuah sisi juangmu.” 

Demikianlah bunyi goresan lelaki tampan yang bernama Hendra pada sebuah dinding media sosialnya.

Pagi itu secara tidak sengaja aku membuka akun media sosialku. Aku mesti berpikir tentang kata-kata lelaki tampan itu dan itu mestinya untuk aku.

Hendra yang sering memanggilku sayang dan mengajakku bersua pada secangkir kopi  telah menjadi penonton setia pada ceritaku pada sebuah akun yang bernama WhatsAap. Tak juga ia membalas kata apalagi meneriak suara ketika aku berteriak. Diam. Diam. Diam dan selamanya diam.

Pelan dan halus dia beranjak pergi tanpa meninggalkan sebuah kata “PAMIT” untukku ketika seorang gadis tak kalah manisnya menjadi satu meja denganku dalam satu sisi juang yang sama sebagai penulis amatir.


Bunga-bunga tak lagi mewarnai cerita. Kehidupan telah mengajarkan aku sebuah episode selanjutnya bahwa dia adalah lelaki pujaan semua orang. Dia adalah lelaki impian semua gadis. Dan dia adalah lelaki peramah yang suka menjelma sebagai matahari pagi pada setiap notifikasi. Dan kalaulah aku tahu waktu dan pertemuan terakhir aku melihatmu aku mungkin akan mengucapkan sebuah kata yang lebih baik untukmu barangkali pergi adalah jalan untuk mematahkan harap pada engkau yang menjadi milik semua notifikasi dan semua akan berujung pada pisah tanpa sebuah kata mulai dan ketika itu aku menjadi satu dari sekian penonton kiriman notifikasimu.


Penulis: Filomena Jelita