Islam Sebagai Alat Perlawanan Atas Diskriminasi Terhadap Perempuan
Cari Berita

Islam Sebagai Alat Perlawanan Atas Diskriminasi Terhadap Perempuan

MARJIN NEWS
23 January 2019

Foto: Dok. Pribadi
OPINI, marjinnews.com - Masih segar dalam ingatan kita beberapa waktu lalu, berbagai negara di belahan dunia mengadakan demonstrasi besar-besaran melawan kekerasan terhadap perempuan atau yang dikenal dengan istilah "femicide". Di Indonesia sendiri angka kekerasan terhadap perempuan setiap tahun meningkat drastis. 

Pada laporan tahunannya, Komnas Perempuan mencatat ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani selama 2017. Sebagai perbandingan, pada 2016, tercatat ada 259.150 kasus kekerasan. Tidak hanya sampai di situ, berbagai Perda diskriminatif kemudian muncul mengatur tubuh perempuan, misalnya larangan beraktivitas malam bagi perempuan oleh pemerintah kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. 

Sepanjang 2017, Komnas Perempuan juga mencatat adanya 65 kasus kekerasan terhadap perempuan di dunia maya. Pelakunya mulai dari pacar, mantan pacar, dan suami, selain juga kolega, sopir transportasi online dan pelaku anonim, bahkan sampai warga negara asing, sehingga mereka menyebutnya "kejahatan transnasional yang membutuhkan perhatian khusus pemerintah.

Berbagai bentuk penindasan pun kerap kali diberitakan dialami oleh perempuan. Penindasan tersebut dapat dialami dengan berbagai bentuk, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, serta pemecatan di tempat kerja. Tidak jarang pula kita sering disuguhi dengan berita diskriminasi lainnya, seperti anggapan tentang baik tidaknya tubuh perempuan, larangan bagi perempuan beraktivitas malam, larangan bagi perempuan memakai celana, serta peraturan-peraturan diskriminatif lainnya.

Tindak diskriminatif dalam bidang pekerjaan sangat terlihat. Nilai patriarkal yang menganggap bahwa tempat perempuan adalah di rumah dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan dengan menjadikan perempuan sebagai tenaga kerja tambahan yang dapat digaji dengan murah, tanpa jaminan sosial dan hak-hak kerja lainnya. Begitu juga dalam bidang politik, budaya patriarkis mengonstruksikan bahwa yang berhak memerintah adalah seorang laki-laki. 

Budaya patriarkis menciptakan suatu mitos bahwa ruang perempuan adalah mengurus rumah tangga (domestik) sedangkan wilayah publik atau politik dianggap sebagai ruang bagi laki-laki. Tidak heran jika sampai saat ini jumlah perempuan dalam jabatan publik masih sangat minim.

Semasa pemerintahan Orde Baru (Soeharto) berkuasa, mereka selalu menggunakan kata ‘wanita’ yang berasal dari bahasa Jawa, wanito yang berarti wani ditoto (berani diatur) yang menyiratkan kendali kaum pria dan negara yang patriarkis. Setelah era reformasi, lazim terjadi nama-nama lembaga negara dan penyebutan di dalam undang-undang menggunakan kata ‘perempuan’

Persoalan yang khas di sejumlah daerah di Indonesia juga menjadi poin menarik yang bisa ditemukan di dalam buku Neng, mulai dari ratusan peraturan daerah yang diskriminatif terhadap perempuan hingga kekerasan yang dilakukan para suami terhadap istri.

Dalam budaya patriarki identitas perempuan diidentikkan dengan sifat lemah lembut dan membutuhkan perlindungan untuk membuatnya semakin lemah dan mudah didominasi. Mitos yang diciptakan tentang perempuan dalam budaya patriarki menghalangi perempuan untuk mengembangkan kekuatan serta potensi yang ada pada tubuhnya dan bukan untuk membuatnya kuat serta mampu bertahan dan berkreasi dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Di dalam budaya patriarki kelemahan tubuh perempuan dijadikan sebagai kelemahan absolut sebagai jenis kelamin kedua. 

Sedangkan di dalam Islam menjelaskan dan menjadikan perempuan sebagai makhluk yang istimewa dan diangkatkan derajadnya dari kaum laki-laki. Bahkan dalam Alquran sendiri ada surat An-Nisa yang artinya wanita. Beberapa keistimewaan seorang perempuan dalam Islam salah satunya adalah adanya kesamaan Hak dan kedudukan yang sama dengan laki-laki. Islam menciptakan perempuan sebagai pasangan dan partner dari laki-laki. Sebagaimana terdapat dalam Alquran surat Al Hujarat :

“Hai manusia, sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah maha mengetahui, maha teliti." (QS : Al Hujarat, ayat 13)

Dalam ayat di atas menjelaskan posisi perempuan dan laki-laki. Bahwa Posisi perempuan dalam Islam adalah pendamping laki-laki. Kodrat perempuan dalam islam bukan bawahan atau pun atasan yang bisa diperlakukan sekehendak hati atau dituruti layaknya boss. Namun perempuan adalah teman hidup yang sejajar.  Pada akir ayat Allah menegaskan bahwa orang yang mulia di sisi Allah, tergantung dari tingkatan iman dalam islam atau ketaqwaannya pada Allah.


Oleh : Afrizky Fajar Purnawan 
Kader Hijau Muhammadiyah